Skip to main content

Posts

Sesuatu Belum Bernama

Awalnya hanya sapaan yang lewat di beranda. Lalu perlahan kau menjadi jeda yang paling kusuka. Ada hangat merayap di sela-sela musim. Menyentuh sudut-sudut hati yang tadinya sunyi dan dingin. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Sebab, kata cinta mungkin terlalu cepat menyapa. Namun, ada debar bermain-main di ujung dada. Seperti kelopak mekar meski tak ada yang meminta. Duniaku kini terasa lebih terang beberapa derajat. Setiap pesanan atau tawa kecilmu terasa begitu lekat. Aku tak ingin buru-buru mencari definisi di kamus. Sebab, dalam ketidaktahuan ini, rasa nyaman mengalir lurus. Ada keinginan diam-diam tumbuh di sana. Bukan untuk berlari cepat, tapi untuk menetap lebih lama. Menikmati caramu bercerita, caramu menatap senja, dan membiarkan waktu menjadi saksi atas apa yang kita punya. Mungkin ini adalah keajaiban yang tak perlu diterka. Cukup dirasakan seperti angin yang membelai muka. Aku hanya ingin di sini. Sedikit lebih lama lagi. Di antara kehangatan baru yang kini menempati ha...
Recent posts

Perjamuan Rindu

Di sudut meja yang kini hanya punya satu kursi. Aku menyeduh rindu yang kepulnya tak pernah mati. Ia serupa tamu tak diundang yang enggan beranjak. Mengetuk pintu ingatan dengan bunyi yang begitu ajak. Dulu ada namamu dalam setiap rencana hari. Kini hanya ada bayangmu yang lari sembunyi-sembunyi. Aku tahu jemarimu sudah menggenggam arah yang berbeda. Dan, duniaku bukan lagi tempatmu mencari sapa. Namun, mengapa rindu ini tetap tumbuh subur? Seperti akar yang menembus tanah meski batangnya telah hancur. Aku mencoba melipat setiap kenangan dalam kotak berdebu. Tapi, aromamu selalu lolos, menusuk relung yang paling pilu. Memilikimu mungkin sudah menjadi bab yang tertutup. Namun, merindukanmu adalah nafas yang terus kuhirup. Bukan karena aku ingin kembali menarikmu pulang, Tapi, karena mencintaimu adalah satu-satunya cara agar aku tak hilang. Aku biarkan rindu ini tetap ada. Tak perlu diusir paksa. Biar ia menjadi pengingat bahwa kita pernah sedalam samudera. Meski kamu bukan milikku, dan ...

Simfoni yang Terlambat Kupahami

Dulu, nada-nada itu adalah bising yang asing. Ganjil di telinga. Tak pernah selaras dengan detak jantungku. Aku berdiri di seberang harmoni yang tak kupahami. Menutup pintu pada genre yang menurutku hanyalah keriuhan belaka. Lalu kau datang. Membawa pemutar lagu di saku dan binar di mata. Menyelipkan satu sisi penyuara telinga ke dalam duniaku. "Dengarlah," katamu tanpa paksa. Dan, aku pun terjebak dalam frekuensi yang awalnya ingin kuhindari. Setiap perjalanan senja, setiap ruang tunggu yang sunyi, kau putar lagi melodi itu, berulang-ulang hingga udara terasa penuh. Aku mulai melihatmu dalam setiap ketukan drumnya. Menemukan senyummu di sela-sela lirik yang tadinya tak bermakna. Kini, keajaiban itu terjadi tanpa kusadari. Aku tak lagi mencari lagu-lagu lama yang dulu kupuja. Seleraku telah runtuh. Berganti dengan apa yang kau suka. Bukan karena nadanya, tapi karena ada suaramu yang bersembunyi di sana. Ternyata, aku bukan jatuh cinta pada lagunya. Aku hanya jatuh cinta pada ...

Di Sela Jemari Waktu

Di celah-celah hari yang merambat lambat.  Saat nalar beristirahat dari riuh dunia yang penat. Hening datang, menyerbu pelan di sela ingatan. Membuka pintu gerbang menuju satu wajah yang bertahta dalam angan bak raja di singgasana mimpi. Setiap detik yang berdetak tak pernah berlalu sia-sia. Ia menjadi wadah rindu yang meluap, membanjiri relung jiwa. Tiada ruang kosong dalam kepala, melainkan bayangmu yang berdansa. Meresapi seluruh kesadaran, melumpuhkan logika dengan mantra asmara bak jeruji emas yang memenjarakan. Kala senja pamit, melempar warna-warni pada ufuk yang jingga. Dan, tugasku usai. Melempar lelah ke udara yang kian menua. Anganku terbang, melukis sketsa rupa yang tak pernah jemu. Di langit-langit batin, sebuah simfoni tanpa kata, tentangmu bak candu yang merayap di nadi purba. Aku tersesat dalam labirin rindu yang kau bangun tanpa permisi. Meresapi setiap hela napas, di sela hening yang mengalun bak puisi. Hampir seluruh sisa waktuku telah kau curi dengan lembutnya. ...

Gawat

Mengenal orang baru bukan kali pertama kualami. Setelah perpisahan itu, aku tidak berniat apa-apa. Tidak juga dengan mencari yang lain. Bukan berarti terjebak masa lalu. Terlanjur malas menjadi alasan. Kurang tepat? Biarlah. Beberapa hari kemarin aku bertemu seseorang. Perkenalan ini belum berlangsung lama. Sejak awal justru aku tidak menyadarinya. Seolah semua berlalu begitu saja tanpa sesuatu yang terasa berbeda. Hari-hari berjalan tanpa ada yang istimewa. Aku fokus dengan diriku, hidupku, dan segala batasanku dengan sekitar. Namanya juga tidak sadar, tanpa komando, obrolan kecil terjadi. Sekali lagi, biasa saja. Sama seperti perbincangan basa-basi dengan yang lain, tidak ada yang terlalu menarik. Masuk telinga kiri, keluar menikmati kopi untukku sendiri. Alias, sesungguhnya aku tidak tertarik. Bicara silakan, tidak juga tidak masalah. Aku tidak begitu mengerti apa yang membuat seseorang begitu terbuka dengan orang lain. Semudah itukah bercerita tentang diri mereka kepada orang yang ...

Segala yang Berulang

Tidak apa-apa. Kita dipertemukan untuk kesekian kalinya bukan tanpa alasan. Aku percaya itu. Entah karena pelajaran atau karma. Terlepas dari senang, sedih, kecewa, dan berbagai perasaan lain, sekalipun aku tidak menyesalinya. Tidak ada gunanya menyesal. Hanya kadang semua terasa lucu ketika otak mulai secara acak mengingatnya. Tidak apa-apa jika mempertanyakan. Kau tahu aku lebih suka sendirian, yang mana dulu kau anggap aneh. Kita beradu argumen saling melempar tanya kenapa sambil sesekali cekikikan. Di dalam momen sendiri itulah pikiranku berisik. Bukan berlebihan dalam berpikir, hanya perbincangan kecil tentang isi kepala. Tentu topiknya macam-macam. Awan, laut, langit, abang penjual bakso, kadang kau muncul. Tidak apa-apa jika mempertanyakan tentang kita. Salah satu hal yang membuatku tertarik mempelajari manusia adalah bagaimana mereka membangun hubungan dengan manusia lain. Kita. Kita berdua bertemu dan saling mempertemukan. Meski berujung perpisahan. Begitu semesta berjalan bia...

Kita, Kenangan, dan Semua yang Berulang

Bermimpi tentangmu adalah sebuah kehormatan. Kau tahu betapa kita berdua telah terpisah keadaan. Hingga kini kita dipertemukan. Tentu dengan sebuah perbedaan. Yang mana kita sama-sama tumbuh dewasa ditantang kenyataan. Ini bukan hal yang sebenarnya kuinginkan. Di saat aku tidak memikirkan apapun, semesta punya cara sendiri dengan penuh keyakinan. Malam itu sungguh hal yang tidak kubayangkan. Setelah berbagai duka tersimpan, apakah kita akan mengulangi kenangan? Berbagai tanda tanya menghantui pikiran. Bisakah kali ini kita bertahan? Siapkah hati kita menghadapi rumitnya tantangan? Dapatkah semesta kembali menyatukan kepingan berantakan? Bimbang memilih iya, namun mengucap tidak pun kita enggan. Berbagai asumsi kita perhitungkan. Kita sama-sama merasakan. Disaksikan malam panjang, dua manusia saling menatap penuh harapan. Gemerlap bintang di angkasa menari kegirangan. Percayalah, cinta akan membawa kita pada kemenangan.