Awalnya hanya sapaan yang lewat di beranda. Lalu perlahan kau menjadi jeda yang paling kusuka. Ada hangat merayap di sela-sela musim. Menyentuh sudut-sudut hati yang tadinya sunyi dan dingin. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Sebab, kata cinta mungkin terlalu cepat menyapa. Namun, ada debar bermain-main di ujung dada. Seperti kelopak mekar meski tak ada yang meminta. Duniaku kini terasa lebih terang beberapa derajat. Setiap pesanan atau tawa kecilmu terasa begitu lekat. Aku tak ingin buru-buru mencari definisi di kamus. Sebab, dalam ketidaktahuan ini, rasa nyaman mengalir lurus. Ada keinginan diam-diam tumbuh di sana. Bukan untuk berlari cepat, tapi untuk menetap lebih lama. Menikmati caramu bercerita, caramu menatap senja, dan membiarkan waktu menjadi saksi atas apa yang kita punya. Mungkin ini adalah keajaiban yang tak perlu diterka. Cukup dirasakan seperti angin yang membelai muka. Aku hanya ingin di sini. Sedikit lebih lama lagi. Di antara kehangatan baru yang kini menempati ha...
Di sudut meja yang kini hanya punya satu kursi. Aku menyeduh rindu yang kepulnya tak pernah mati. Ia serupa tamu tak diundang yang enggan beranjak. Mengetuk pintu ingatan dengan bunyi yang begitu ajak. Dulu ada namamu dalam setiap rencana hari. Kini hanya ada bayangmu yang lari sembunyi-sembunyi. Aku tahu jemarimu sudah menggenggam arah yang berbeda. Dan, duniaku bukan lagi tempatmu mencari sapa. Namun, mengapa rindu ini tetap tumbuh subur? Seperti akar yang menembus tanah meski batangnya telah hancur. Aku mencoba melipat setiap kenangan dalam kotak berdebu. Tapi, aromamu selalu lolos, menusuk relung yang paling pilu. Memilikimu mungkin sudah menjadi bab yang tertutup. Namun, merindukanmu adalah nafas yang terus kuhirup. Bukan karena aku ingin kembali menarikmu pulang, Tapi, karena mencintaimu adalah satu-satunya cara agar aku tak hilang. Aku biarkan rindu ini tetap ada. Tak perlu diusir paksa. Biar ia menjadi pengingat bahwa kita pernah sedalam samudera. Meski kamu bukan milikku, dan ...