Skip to main content

Posts

Gawat

Mengenal orang baru bukan kali pertama kualami. Setelah perpisahan itu, aku tidak berniat apa-apa. Tidak juga dengan mencari yang lain. Bukan berarti terjebak masa lalu. Terlanjur malas menjadi alasan. Kurang tepat? Biarlah. Beberapa hari kemarin aku bertemu seseorang. Perkenalan ini belum berlangsung lama. Sejak awal justru aku tidak menyadarinya. Seolah semua berlalu begitu saja tanpa sesuatu yang terasa berbeda. Hari-hari berjalan tanpa ada yang istimewa. Aku fokus dengan diriku, hidupku, dan segala batasanku dengan sekitar. Namanya juga tidak sadar, tanpa komando, obrolan kecil terjadi. Sekali lagi, biasa saja. Sama seperti perbincangan basa-basi dengan yang lain, tidak ada yang terlalu menarik. Masuk telinga kiri, keluar menikmati kopi untukku sendiri. Alias, sesungguhnya aku tidak tertarik. Bicara silakan, tidak juga tidak masalah. Aku tidak begitu mengerti apa yang membuat seseorang begitu terbuka dengan orang lain. Semudah itukah bercerita tentang diri mereka kepada orang yang ...
Recent posts

Segala yang Berulang

Tidak apa-apa. Kita dipertemukan untuk kesekian kalinya bukan tanpa alasan. Aku percaya itu. Entah karena pelajaran atau karma. Terlepas dari senang, sedih, kecewa, dan berbagai perasaan lain, sekalipun aku tidak menyesalinya. Tidak ada gunanya menyesal. Hanya kadang semua terasa lucu ketika otak mulai secara acak mengingatnya. Tidak apa-apa jika mempertanyakan. Kau tahu aku lebih suka sendirian, yang mana dulu kau anggap aneh. Kita beradu argumen saling melempar tanya kenapa sambil sesekali cekikikan. Di dalam momen sendiri itulah pikiranku berisik. Bukan berlebihan dalam berpikir, hanya perbincangan kecil tentang isi kepala. Tentu topiknya macam-macam. Awan, laut, langit, abang penjual bakso, kadang kau muncul. Tidak apa-apa jika mempertanyakan tentang kita. Salah satu hal yang membuatku tertarik mempelajari manusia adalah bagaimana mereka membangun hubungan dengan manusia lain. Kita. Kita berdua bertemu dan saling mempertemukan. Meski berujung perpisahan. Begitu semesta berjalan bia...

Kita, Kenangan, dan Semua yang Berulang

Bermimpi tentangmu adalah sebuah kehormatan. Kau tahu betapa kita berdua telah terpisah keadaan. Hingga kini kita dipertemukan. Tentu dengan sebuah perbedaan. Yang mana kita sama-sama tumbuh dewasa ditantang kenyataan. Ini bukan hal yang sebenarnya kuinginkan. Di saat aku tidak memikirkan apapun, semesta punya cara sendiri dengan penuh keyakinan. Malam itu sungguh hal yang tidak kubayangkan. Setelah berbagai duka tersimpan, apakah kita akan mengulangi kenangan? Berbagai tanda tanya menghantui pikiran. Bisakah kali ini kita bertahan? Siapkah hati kita menghadapi rumitnya tantangan? Dapatkah semesta kembali menyatukan kepingan berantakan? Bimbang memilih iya, namun mengucap tidak pun kita enggan. Berbagai asumsi kita perhitungkan. Kita sama-sama merasakan. Disaksikan malam panjang, dua manusia saling menatap penuh harapan. Gemerlap bintang di angkasa menari kegirangan. Percayalah, cinta akan membawa kita pada kemenangan.

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Sebuah Apresiasi

Di dalam sebuah keheningan aku terpikat kepada malam. Menyanjung seseorang yang tak pernah lelah menemani segala kelam. Setiap nada suaranya mengakar dalam kepala. Senyum demi senyuman menyatu menjadi keping menutup mata. Ia tumbuh menjadi rindu berkepanjangan. Curangnya, ia tak pernah berkurang. Pertemuan sekarang dan esok meninggalkan rasa tiada ujung. Tak mampu terdeskripsikan. Hanya tawa yang terekam. Sesekali tangis, namun semua terselesaikan. Bersamanya aku memaknai kebersamaan. Aku menghargai segalanya. Malam ini ribuan kenangan berjatuhan. Aku membisu. Menatap foto yang terakhir hampir satu bulan lalu kita bertemu. Di antara perjalanan itu aku ingat betapa berharganya pertemuan. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, tak ada lelah mataku memandangmu. Semua orang tahu itu. Bersama tulisan ini aku apresiasikan betapa rindu ini berkecamuk. Suaramu yang kudengar berusan di telpon terasa syahdu dan sendu. Sambil membayangkan kita sedang bersama, aku bertanya apakah jarak ini ...

Rindu Pagi Buta

Biar kuabadikan gumpalan rindu dalam peluh membiru. Tersapu kelabu aku mengembara tak tentu. Tersesat aku di kemudian waktu. Namun, aku tahu. Sesat ini sengaja kulakukan selama ada di hatimu. Seseorang terlihat ketika ia sedang jatuh cinta. Katanya. Begitu pandang mereka. Benar adanya, aku telah jatuh oleh pesona cinta di dunia. Bahkan aku mengiyakan bila duniaku sekarang berganti menjadi sesosok manusia. Bukan malaikat yang diidamkan banyak mata. Melainkan manusia, tak bersayap, seperti pada umumnya. Namun, bersamanya hidupku terasa lebih bahagia.

Candu

P agi ini aku ingin menuliskan beberapa ungkapan kepadamu. Mungkin kamu akan bosan mendengarnya, tapi tidak apa-apa. Barangkali suatu hari nanti aku berhenti, ketahuilah bahwa kamu tetaplah yang terindah. Aku suka setiap kali kita berbicara lewat telpon. Berjam-jam terlewati dengan cepat. Suaramu berhasil membuat musik sendiri dalam kepalaku. Hingga menjadi candu. Bagaimana cara kamu tertawa pun membekas lama di ingatan. Benar, candu itu bernama kamu.