Di celah-celah hari yang merambat lambat. Saat nalar beristirahat dari riuh dunia yang penat. Hening datang, menyerbu pelan di sela ingatan. Membuka pintu gerbang menuju satu wajah yang bertahta dalam angan bak raja di singgasana mimpi. Setiap detik yang berdetak tak pernah berlalu sia-sia. Ia menjadi wadah rindu yang meluap, membanjiri relung jiwa. Tiada ruang kosong dalam kepala, melainkan bayangmu yang berdansa. Meresapi seluruh kesadaran, melumpuhkan logika dengan mantra asmara bak jeruji emas yang memenjarakan. Kala senja pamit, melempar warna-warni pada ufuk yang jingga. Dan, tugasku usai. Melempar lelah ke udara yang kian menua. Anganku terbang, melukis sketsa rupa yang tak pernah jemu. Di langit-langit batin, sebuah simfoni tanpa kata, tentangmu bak candu yang merayap di nadi purba. Aku tersesat dalam labirin rindu yang kau bangun tanpa permisi. Meresapi setiap hela napas, di sela hening yang mengalun bak puisi. Hampir seluruh sisa waktuku telah kau curi dengan lembutnya. ...
Mengenal orang baru bukan kali pertama kualami. Setelah perpisahan itu, aku tidak berniat apa-apa. Tidak juga dengan mencari yang lain. Bukan berarti terjebak masa lalu. Terlanjur malas menjadi alasan. Kurang tepat? Biarlah. Beberapa hari kemarin aku bertemu seseorang. Perkenalan ini belum berlangsung lama. Sejak awal justru aku tidak menyadarinya. Seolah semua berlalu begitu saja tanpa sesuatu yang terasa berbeda. Hari-hari berjalan tanpa ada yang istimewa. Aku fokus dengan diriku, hidupku, dan segala batasanku dengan sekitar. Namanya juga tidak sadar, tanpa komando, obrolan kecil terjadi. Sekali lagi, biasa saja. Sama seperti perbincangan basa-basi dengan yang lain, tidak ada yang terlalu menarik. Masuk telinga kiri, keluar menikmati kopi untukku sendiri. Alias, sesungguhnya aku tidak tertarik. Bicara silakan, tidak juga tidak masalah. Aku tidak begitu mengerti apa yang membuat seseorang begitu terbuka dengan orang lain. Semudah itukah bercerita tentang diri mereka kepada orang yang ...