Skip to main content

Segala yang Berulang

Tidak apa-apa.

Kita dipertemukan untuk kesekian kalinya bukan tanpa alasan. Aku percaya itu. Entah karena pelajaran atau karma. Terlepas dari senang, sedih, kecewa, dan berbagai perasaan lain, sekalipun aku tidak menyesalinya. Tidak ada gunanya menyesal. Hanya kadang semua terasa lucu ketika otak mulai secara acak mengingatnya.

Tidak apa-apa jika mempertanyakan.

Kau tahu aku lebih suka sendirian, yang mana dulu kau anggap aneh. Kita beradu argumen saling melempar tanya kenapa sambil sesekali cekikikan. Di dalam momen sendiri itulah pikiranku berisik. Bukan berlebihan dalam berpikir, hanya perbincangan kecil tentang isi kepala. Tentu topiknya macam-macam. Awan, laut, langit, abang penjual bakso, kadang kau muncul.

Tidak apa-apa jika mempertanyakan tentang kita.

Salah satu hal yang membuatku tertarik mempelajari manusia adalah bagaimana mereka membangun hubungan dengan manusia lain. Kita.

Kita berdua bertemu dan saling mempertemukan. Meski berujung perpisahan. Begitu semesta berjalan biasa, keadaan mempertemukan kita kembali. Dengan bertarung idealis, kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Pulang ke jalan masing-masing menjadi pilihan. Hingga aku lupa berapa kali kita seperti ini. Apa maksud semua ini?

Setelah berpisah kesekian kali, akankah kita kembali? Jika iya, kenapa? Sedalam itukah? Apa yang belum selesai di antara kita? Kenapa kita harus berpisah jika tidak bisa saling melepas? Ego mana yang ingin dimenangkan? Tidakkah kau lelah?

Setelah berpisah kesekian kali, akankah kita kembali? Jika tidak, tidak apa-apa. Mari kita tumbuh. Di kemudian hari, apabila ada kesulitan menghampiri, mungkin karena ada kata maaf yang mahal terucap dan belum terelakan. Barangkali ikatan kita belum selesai, akan ada waktu dunia memanggil kita dalam keadaan yang jauh lebih baik dan dewasa.

Setelah berpisah kesekian kali, akankah kita kembali? Kita lihat nanti.



Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Sebuah Apresiasi

Di dalam sebuah keheningan aku terpikat kepada malam. Menyanjung seseorang yang tak pernah lelah menemani segala kelam. Setiap nada suaranya mengakar dalam kepala. Senyum demi senyuman menyatu menjadi keping menutup mata. Ia tumbuh menjadi rindu berkepanjangan. Curangnya, ia tak pernah berkurang. Pertemuan sekarang dan esok meninggalkan rasa tiada ujung. Tak mampu terdeskripsikan. Hanya tawa yang terekam. Sesekali tangis, namun semua terselesaikan. Bersamanya aku memaknai kebersamaan. Aku menghargai segalanya. Malam ini ribuan kenangan berjatuhan. Aku membisu. Menatap foto yang terakhir hampir satu bulan lalu kita bertemu. Di antara perjalanan itu aku ingat betapa berharganya pertemuan. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, tak ada lelah mataku memandangmu. Semua orang tahu itu. Bersama tulisan ini aku apresiasikan betapa rindu ini berkecamuk. Suaramu yang kudengar berusan di telpon terasa syahdu dan sendu. Sambil membayangkan kita sedang bersama, aku bertanya apakah jarak ini ...