Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2026

Sisa Ruang Tak Terisi

Sunyi kini penghuni tetap. Menyelinap di sela uap kopi yang mendingin sendiri. Aku mengeja pagi tanpa serak suaramu. Menyusun hari tanpa ledakan tawamu. Dulu tiap sudut adalah panggung kita. Dapur riuh, ruang tamu penuh rencana. Kini benda-benda membeku menjadi galeri. Menyimpan sidik jarimu yang perlahan mati. Jemari masih sering sontak mencari. Menyentuh sisi ranjang yang kehilangan matahari. Lalu sadar, rutinitas itu telah patah. Meninggalkan aku gagap di antara puing pecah. Bukan perkara melupakan nama, namun belajar berhenti menoleh saat ada tawa ingin dibagi. Melangkah tanpa tangan yang menuntun. Menata hati serupa rumah yang baru saja ditimbun. Aku tak lari dari luka ini. Hanya berjalan pelan memunguti serpihan diri. Kelak semoga sunyi tak lagi mencekik leherku. Saat mengenangmu tak lagi meruntuhkan seluruh duniaku.

Sesuatu Belum Bernama

Awalnya hanya sapaan yang lewat di beranda. Lalu perlahan kau menjadi jeda yang paling kusuka. Ada hangat merayap di sela-sela musim. Menyentuh sudut-sudut hati yang tadinya sunyi dan dingin. Aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Sebab, kata cinta mungkin terlalu cepat menyapa. Namun, ada debar bermain-main di ujung dada. Seperti kelopak mekar meski tak ada yang meminta. Duniaku kini terasa lebih terang beberapa derajat. Setiap pesanan atau tawa kecilmu terasa begitu lekat. Aku tak ingin buru-buru mencari definisi di kamus. Sebab, dalam ketidaktahuan ini, rasa nyaman mengalir lurus. Ada keinginan diam-diam tumbuh di sana. Bukan untuk berlari cepat, tapi untuk menetap lebih lama. Menikmati caramu bercerita, caramu menatap senja, dan membiarkan waktu menjadi saksi atas apa yang kita punya. Mungkin ini adalah keajaiban yang tak perlu diterka. Cukup dirasakan seperti angin yang membelai muka. Aku hanya ingin di sini. Sedikit lebih lama lagi. Di antara kehangatan baru yang kini menempati ha...

Perjamuan Rindu

Di sudut meja yang kini hanya punya satu kursi. Aku menyeduh rindu yang kepulnya tak pernah mati. Ia serupa tamu tak diundang yang enggan beranjak. Mengetuk pintu ingatan dengan bunyi yang begitu ajak. Dulu ada namamu dalam setiap rencana hari. Kini hanya ada bayangmu yang lari sembunyi-sembunyi. Aku tahu jemarimu sudah menggenggam arah yang berbeda. Dan, duniaku bukan lagi tempatmu mencari sapa. Namun, mengapa rindu ini tetap tumbuh subur? Seperti akar yang menembus tanah meski batangnya telah hancur. Aku mencoba melipat setiap kenangan dalam kotak berdebu. Tapi, aromamu selalu lolos, menusuk relung yang paling pilu. Memilikimu mungkin sudah menjadi bab yang tertutup. Namun, merindukanmu adalah nafas yang terus kuhirup. Bukan karena aku ingin kembali menarikmu pulang, Tapi, karena mencintaimu adalah satu-satunya cara agar aku tak hilang. Aku biarkan rindu ini tetap ada. Tak perlu diusir paksa. Biar ia menjadi pengingat bahwa kita pernah sedalam samudera. Meski kamu bukan milikku, dan ...

Simfoni yang Terlambat Kupahami

Dulu, nada-nada itu adalah bising yang asing. Ganjil di telinga. Tak pernah selaras dengan detak jantungku. Aku berdiri di seberang harmoni yang tak kupahami. Menutup pintu pada genre yang menurutku hanyalah keriuhan belaka. Lalu kau datang. Membawa pemutar lagu di saku dan binar di mata. Menyelipkan satu sisi penyuara telinga ke dalam duniaku. "Dengarlah," katamu tanpa paksa. Dan, aku pun terjebak dalam frekuensi yang awalnya ingin kuhindari. Setiap perjalanan senja, setiap ruang tunggu yang sunyi, kau putar lagi melodi itu, berulang-ulang hingga udara terasa penuh. Aku mulai melihatmu dalam setiap ketukan drumnya. Menemukan senyummu di sela-sela lirik yang tadinya tak bermakna. Kini, keajaiban itu terjadi tanpa kusadari. Aku tak lagi mencari lagu-lagu lama yang dulu kupuja. Seleraku telah runtuh. Berganti dengan apa yang kau suka. Bukan karena nadanya, tapi karena ada suaramu yang bersembunyi di sana. Ternyata, aku bukan jatuh cinta pada lagunya. Aku hanya jatuh cinta pada ...

Di Sela Jemari Waktu

Di celah-celah hari yang merambat lambat.  Saat nalar beristirahat dari riuh dunia yang penat. Hening datang, menyerbu pelan di sela ingatan. Membuka pintu gerbang menuju satu wajah yang bertahta dalam angan bak raja di singgasana mimpi. Setiap detik yang berdetak tak pernah berlalu sia-sia. Ia menjadi wadah rindu yang meluap, membanjiri relung jiwa. Tiada ruang kosong dalam kepala, melainkan bayangmu yang berdansa. Meresapi seluruh kesadaran, melumpuhkan logika dengan mantra asmara bak jeruji emas yang memenjarakan. Kala senja pamit, melempar warna-warni pada ufuk yang jingga. Dan, tugasku usai. Melempar lelah ke udara yang kian menua. Anganku terbang, melukis sketsa rupa yang tak pernah jemu. Di langit-langit batin, sebuah simfoni tanpa kata, tentangmu bak candu yang merayap di nadi purba. Aku tersesat dalam labirin rindu yang kau bangun tanpa permisi. Meresapi setiap hela napas, di sela hening yang mengalun bak puisi. Hampir seluruh sisa waktuku telah kau curi dengan lembutnya. ...