Di celah-celah hari yang merambat lambat. Saat nalar beristirahat dari riuh dunia yang penat. Hening datang, menyerbu pelan di sela ingatan. Membuka pintu gerbang menuju satu wajah yang bertahta dalam angan bak raja di singgasana mimpi.
Setiap detik yang berdetak tak pernah berlalu sia-sia. Ia menjadi wadah rindu yang meluap, membanjiri relung jiwa. Tiada ruang kosong dalam kepala, melainkan bayangmu yang berdansa. Meresapi seluruh kesadaran, melumpuhkan logika dengan mantra asmara bak jeruji emas yang memenjarakan.
Kala senja pamit, melempar warna-warni pada ufuk yang jingga. Dan, tugasku usai. Melempar lelah ke udara yang kian menua. Anganku terbang, melukis sketsa rupa yang tak pernah jemu. Di langit-langit batin, sebuah simfoni tanpa kata, tentangmu bak candu yang merayap di nadi purba.
Aku tersesat dalam labirin rindu yang kau bangun tanpa permisi. Meresapi setiap hela napas, di sela hening yang mengalun bak puisi. Hampir seluruh sisa waktuku telah kau curi dengan lembutnya. Menjelma menjadi puisi terindah yang tak pernah mati dalam jiwanya.

Comments
Post a Comment