Di sudut meja yang kini hanya punya satu kursi. Aku menyeduh rindu yang kepulnya tak pernah mati. Ia serupa tamu tak diundang yang enggan beranjak. Mengetuk pintu ingatan dengan bunyi yang begitu ajak.
Dulu ada namamu dalam setiap rencana hari. Kini hanya ada bayangmu yang lari sembunyi-sembunyi. Aku tahu jemarimu sudah menggenggam arah yang berbeda. Dan, duniaku bukan lagi tempatmu mencari sapa.
Namun, mengapa rindu ini tetap tumbuh subur? Seperti akar yang menembus tanah meski batangnya telah hancur. Aku mencoba melipat setiap kenangan dalam kotak berdebu. Tapi, aromamu selalu lolos, menusuk relung yang paling pilu.
Memilikimu mungkin sudah menjadi bab yang tertutup. Namun, merindukanmu adalah nafas yang terus kuhirup. Bukan karena aku ingin kembali menarikmu pulang, Tapi, karena mencintaimu adalah satu-satunya cara agar aku tak hilang.
Aku biarkan rindu ini tetap ada. Tak perlu diusir paksa. Biar ia menjadi pengingat bahwa kita pernah sedalam samudera. Meski kamu bukan milikku, dan takkan pernah lagi jadi tuju. Rindu ini tetap milikmu meski membiru.

Comments
Post a Comment