Skip to main content

Kembang Api Rasa-Rasa

Ketika hanya bisa memikirkan seseorang yang entah ia memikirkanmu atau tidak. Ketika jarak menjadi ruang yang memisahkanmu dengan ia yang kau pikirkan. Apa kau yakin saat ini ia juga memikirkanmu? Apa kau sudah tahu bahwa hatinya memang untukmu? Bagaimana jika cintamu itu hanya sepihak? Ya, hanya kau yang jatuh cinta. Hanya kau yang menganggap kebahagiaannya adalah segala-galanya bagimu. Dan ia tidak pernah melihat itu. Ia tak pernah datang kepadamu.

Saat ini ia sedang di sana, di tempat yang kauingat adalah tempat dimana kau dan ia pertama kali bertemu. Di tempat itu kalian bertemu dalam keadaan tidak begitu bersahabat. Ia terlihat seperti bukan orang yang ramah. Ia terlihat cuek.

Tak ada percakapan yang mampu terbuka saat itu. Kalian saling diam tanpa ada yang mau mencairkan suasana. Kalian sempat berpandangan mata, tapi tak lama. Kemudian ia memalingkan padangannya darimu. Ia lari darimu. Ia mulai berjalan menjauhimu. Dan kau hanya bisa melepasnya dengan rasa yang masih tertinggal. Kau hanya melihat punggungnya yang mulai menjauh.

Kau melihatnya, terus menatap kepergiannya. Tatapan matamu berhenti ketika ia duduk di tempat yang tidak jauh darimu. Ia duduk dengan wajah tertunduk. Ia sibuk dengan ponsel tergenggam di tangannya. Entah apa yang membuatnya begitu lekat menatap layar ponselnya. Tak lain denganmu yang tak bisa lepas memandang kehadirannya.

Bayangkan, ia adalah orang yang baru pertama kau temui dan kau langsung tertarik dengannya. Kau tak pernah bisa menghapus bayangnya dari pikiranmu. Ingatan tentang hari itu masih ada hingga kini. Bahkan ketika kau ingin menghapusnya, ingatan itu semakin kuat menempel pada dinding otakmu. Kau tak bisa berbuat apa-apa selain terus memikirkannya.

Terkadang kau melihatnya dari kejauhan. Ia bersama teman-temannya. Saat itu juga kau ingin mendekatinya, berkenalan dengannya, meminta nomor hp-nya, menemaninya makan, mengantarkannya pulang, dan yang lain. Kau membayangkan hal-hal indah yang bisa kalian lakukan berdua. Hanya berdua.

Tapi kau tidak bisa melakukannya. Kau hanya terdiam di tempatmu sambil memandanginya. Kau merasakan ia melihatmu. Ya, ia melihatmu. Ia melihat ke arahmu, tepat kepadamu dengan kedua bola matanya. Bola mata bundar yang indah.

Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau bisa melawan tatapannya dengan tatapan matamu, bodoh! Kau malah mengalihkan pandangan. Kau beralih ke layar ponselmu yang sebenarnya tidak berada di tanganmu. Kau memandang ke lain arah. Yang terpenting saat ini adalah kau harus menghindari tatapan matanya. Dan akhirnya kau melihat birunya langit. Lalu kau teguk minumanmu yang hampir habis itu.

Tanpa kau sadari sekarang ia berada tepat di depanmu. Kalian ada di tempat yang sama. Kalian hanya berbeda meja. Kau bisa melihatnya dengan jelas, sama seperti saat pertama kalian bertemu. Kau bisa melihat wajahnya yang mendekati sempurna. Mendekati, itu belum sempurna selama kau belum memilikinya. Kau yang akan membuatnya menjadi sempurna. Begitu pikirmu.

Saat ini batinmu sedang tidak baik. Hatimu bergejolak tak menentu. Jantungmu berdetak lebih kencang daripada biasanya. Matamu berair karena terlalu lama membuka mata untuk memandangnya. Tubuhmu bergetar tak mampu menahan gejolak rasa dalam jiwamu. Apa yang akan kau lakukan saat ini?

Saat ini di dalam tubuhmu ada jutaan kembang api. Mereka melesat dan meledak di langit-langit hatimu. Mereka membuat warna-warni yang begitu indah. Mereka membuat perasaanmu bergelora, tak tertahankan. Seperti kembang api di malam tahun baru, melesat dan meledak, jauh ke atas singgasana dewa. Seperti perasaan yang ingin segera terucapkan, tapi semua tertahan begitu saja.

Lihat, ia dekat denganmu! Sekarang kalian bisa dengan mudah berhadapan. Kalian bisa dengan mudah untuk berbincang-bincang. Munculkan suasana hangat agar ia tak lagi kabur darimu. Bukankah kau ingin melihat senyumnya? Bukankah itu yang kau tunggu? Kenapa tak kau lakukan sekarang juga? Ada apa dengan dirimu?

Kau, kau memang pecundang. Kau pengecut! Kau selalu kabur dari orang yang kau inginkan. Kau tak akan bisa memilikinya. Kau tak akan bisa melihat senyumnya. Kau tak akan bisa merasakan kebahagiaan bersamanya. Kau tidak akan hidup bersamanya. Kau hanyalah angin yang bisa ia rasakan kehadirannya, tapi ia tak bisa melihatnya. Kau hanyalah kertas usang yang ingin tersapu angin, menjauh darinya. Kau bukanlah bayangnya yang mengikutinya. Kau bukanlah apa-apa untuknya.

Apa kau berusaha untuk melupakannya? Oh, lupakanlah jika kau mampu. Dan, ucapkan selamat tinggal untuk ia yang sempat ada di hatimu. 

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Semester Dua Digit

Tidak ada yang abadi. Kupikir itu salah. Setiap kenangan dapat diabadikan dengan berbagai cara. Walaupun di waktu tua nanti kita sudah tak bisa mengingat tentang apa itu, akan ada saatnya foto berbicara. Salah satu cara membingkai kenangan adalah dengan foto. Abadi. Satu foto bisa menyimpan banyak memori. Tawa, canda, tangis, haru, semuanya. Semester Dua Digit. Judul itu sudah lama terngiang di kepalaku. Apakah aku menunggu judul itu tertulis di salah satu file laptopku? Kok rasanya aku menantikan tingkat semester tua itu. Angkatan 2010, semester 10, semoga kami bisa lulus tahun 2015 ini di bulan 10. Aamiin. Entah sudah berapa banyak cerita yang menunggu diceritakan kelak. Halaman blog ini terlalu lemah untuk menampung gema ceritanya. Selalu, ada yang terbaik di antara segala hal. Tidak pasti yang terbaik hanya satu, tapi bisa lebih dari satu. Jika semua hal bisa menjadi yang terbaik, kenapa tidak? Ini cerita kami. Selamat menikmati kebersamaan kami. Kebersamaan se...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...