Skip to main content

Teruntuk yang Terpilu

Telah kau tanam apa yang tidak aku tanam. Ini sudah mengakar. Bahkan ia telah tumbuh. Ia tumbuh begitu kuat, rindang, lebat, dan sejuk. Di antara beberapa yang ditanam orang lain, ia yang terhebat. Ia menunjukkan kekuatan akan kasih dan kepercayaan. Sebuah pondasi menjalin hubungan. Lalu sebegitu mudahkah kau goyahkan? Sesederhana itu kau akan memangkasnya? Seringan kau minta aku meninggalkanmu begitu saja? Kau bercanda?

Aku tak pernah bercanda soal hati. Mungkin kau bosan dengan itu. Aku tidak sedang membuat lelucon. Kau yang sering berkata bahwa kita berbeda. Kita berbeda dari yang lain. Apa peduliku?

Ketika kuminta kau memilih bertahan atau sudah... Kau ingat? Kau pilih bertahan. Aku berharap kau memilih itu. Dan sampai detik ini aku masih mempertahankan kata kita. Sampai hari ini aku memperjuangkanmu. Aku percaya padamu. Tahukah kau, rasanya kandas? Patah. Sakit. Mungkin benar, risiko mencintai seseorang di luar jangkauan adalah patah dan sakit. Kau, yang kini masih bisa kujangkau tapi sebentar lagi akan kulepas. Ajari aku melepasmu tanpa meninggalkan sakit.

Kau. Kau tahu, jujur aku tak mampu menulis ini. Gemetar tanganku melakukannya. Setiap kata yang kutulis selalu muncul bayangmu. Senyummu, candamu, tawamu, tangismu, semua mengadu pilu. Lewat tulisan ini, semua kisah kita akan abadi. Tak kan ada yang menghapusnya, kecuali aku. Barangkali suatu saat nanti kenangan tentangmu berkelebat, tulisan-tulisan ini akan membantuku menerka. Tulisan yang akan kau kenang atau lupakan.

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Simfoni yang Terlambat Kupahami

Dulu, nada-nada itu adalah bising yang asing. Ganjil di telinga. Tak pernah selaras dengan detak jantungku. Aku berdiri di seberang harmoni yang tak kupahami. Menutup pintu pada genre yang menurutku hanyalah keriuhan belaka. Lalu kau datang. Membawa pemutar lagu di saku dan binar di mata. Menyelipkan satu sisi penyuara telinga ke dalam duniaku. "Dengarlah," katamu tanpa paksa. Dan, aku pun terjebak dalam frekuensi yang awalnya ingin kuhindari. Setiap perjalanan senja, setiap ruang tunggu yang sunyi, kau putar lagi melodi itu, berulang-ulang hingga udara terasa penuh. Aku mulai melihatmu dalam setiap ketukan drumnya. Menemukan senyummu di sela-sela lirik yang tadinya tak bermakna. Kini, keajaiban itu terjadi tanpa kusadari. Aku tak lagi mencari lagu-lagu lama yang dulu kupuja. Seleraku telah runtuh. Berganti dengan apa yang kau suka. Bukan karena nadanya, tapi karena ada suaramu yang bersembunyi di sana. Ternyata, aku bukan jatuh cinta pada lagunya. Aku hanya jatuh cinta pada ...