Skip to main content

Akulah Orang yang Terluka Sementara Engkau Baik-Baik Saja

Mengenalmu adalah hal baru bagiku. Tiada tahu kehadiranmu dalam hidupku. Aku yang kering, kau basuh dengan senyummu. Aku yang tandus, kau hujani dengan tawamu. Bagai malam tak berbintang, kau tetap ada dalam awan. Serta angin pelan yang membelaiku telah kau rasuki. Sementara aku masih terbujur kaku menikmati dirimu.

Aku ingat beberapa hari lalu kita sering bercakap. Tentang aku, engkau, hari-hari kita, mimpi, masa depan, segalanya. Pandai aku membenih harapan padamu. Harapan yang setiap hari aku aminkan. Sebuah cita yang ingin aku gapai bersamamu. Kudedikasikan arah agat bisa menjagamu. Memperjuangkan apa yang ingin kumiliki darimu. Pun engkau, mengaku akan melakukan hal sama. Bukankah terlalu indah cinta kita? Kita yang berjuang. Kita yang bertahan. Sesalu aku bertanya apakah aku sendirian. Dan kau runtuhkan segala sepiku. Tentang kita yang begitu keras menggema di angkasa.

Hari-hari denganmu kulalui begitu indah. Indah tak kan terasa indah jika tidak ada lawan. Kadang beberapa perdebatan kecil ada di antara kita. Di selipan senja dan malam, sempat beradu pilihan. Aku ingin ini, engkau tidak. Sebaliknya kau mau begini, aku melawan. Tidakkah lucu ketika mengenangnya? Tak jarang aku terkesan mengekangmu ini itu. Sejenak kau tiada kabar, aku mencarimu berkali-kali. Kau tahu betapa panas hati ini ketika kau bersama orang lain? Tiadakah cemburuku ini kau baca? Aku tak pandai mengatakannya. Aku tak sanggup marah padamu. Aku berpikir daripada aku mengeluarkan kata yang akan menyakitimu karena marahku, kurasa lebih baik jika aku diam. Engkau, damaikanlah aku ketika aku panas melihat orang lain mendekatimu.

Keindahanmu masih saja terrekam. Pahitnya kekecewaan perlahan terkikis. Hasrat melangkah masih terus teruji. Di malam sunyi selalu hati parau karenamu. Memori-memori ngilu membuatku kelu. Bagai empedu engkau hadirkan luka yang sulit terobati. Ketika waktu yak mampu menyembuhkan, kemana lagi aku haru mengadu? Adakah sandaran yang bisa kuhinggapi? Adakah yang mampu menggantikanmu sementara aku pernah berharap kau tak kan pernah terganti? Mungkinkah aku kembali padamu setelah sangkar derita kau gantung di dinding nadiku? Betapa aku bagai embun yang percuma menanti mentari. Menunggu hal yang akan memaksanya pergi.

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Semester Dua Digit

Tidak ada yang abadi. Kupikir itu salah. Setiap kenangan dapat diabadikan dengan berbagai cara. Walaupun di waktu tua nanti kita sudah tak bisa mengingat tentang apa itu, akan ada saatnya foto berbicara. Salah satu cara membingkai kenangan adalah dengan foto. Abadi. Satu foto bisa menyimpan banyak memori. Tawa, canda, tangis, haru, semuanya. Semester Dua Digit. Judul itu sudah lama terngiang di kepalaku. Apakah aku menunggu judul itu tertulis di salah satu file laptopku? Kok rasanya aku menantikan tingkat semester tua itu. Angkatan 2010, semester 10, semoga kami bisa lulus tahun 2015 ini di bulan 10. Aamiin. Entah sudah berapa banyak cerita yang menunggu diceritakan kelak. Halaman blog ini terlalu lemah untuk menampung gema ceritanya. Selalu, ada yang terbaik di antara segala hal. Tidak pasti yang terbaik hanya satu, tapi bisa lebih dari satu. Jika semua hal bisa menjadi yang terbaik, kenapa tidak? Ini cerita kami. Selamat menikmati kebersamaan kami. Kebersamaan se...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...