Skip to main content

Teruntuk yang Terindah

Rasa kepadamu tak tergoyahkan. Setelah melewati berbagai suasana senja, semua masih sama. Ribuan jingga tetap mengangkasa laksana cerita kita. Di samudera sana, ada namamu kuat menggoyahkan kapal para perompak. Di lapisan langit terluar terdapat senyummu magis merasuki nadi. Lalu, ada sepasang mata yang ingin kujaga. Tak akan kubiarkan sekecil apapun air mata keluar darinya. Biar bahagia terpatri di sinarnya.

Di antara beribu jingga, kenangan bersamamu adalah yang terindah. Berhari-hari purnama melenggang, bundar bola matamu kurasa paling bersinar. Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan tak sanggup duakan warna lengkung senyum bibirmu. Semesta tahu, di segalaku ada engkau yang tak pernah padam.

Kau tahu, seberapa sakit nafas ini saat masa lalu datang? Sesak di dada saat segala nestapa itu melintas. Perih mata ini menahan air mata yang tak ingin ku hadirkan di depanmu. Ternyata semuanya masih sama. Perasaan ini, harapan ini, mimpi ini, duniaku masih berpusat padamu. Hanya saja, masih ada luka menganga di dalam jiwa. Ia masih basah, tak berdarah. Belum sembuh sempurna.

Parah. Entah ia akan sembuh atau tetap membekas. Di saat aku melangkah, lagi-lagi kau datang. Membawa semua seperti sedia kala. Seolah tak ada dosa, kau tawarkan bahagia. Jalanku berhenti di sana.

Aku menerimamu. Aku mampu tertawa bersamamu. Tapi sayatan-sayatan tentangmu masih menjadi hantu. Di saat ada tawa tercipta, saat itu pula air mata tertahan di sudut mata. Menunggu malam datang memecahkannya. Akan sangat melelahkan jika kembalinya kita berhias masalah-masalah yang sama. Di sisi lain, hati ini masih tak mampu melangkah. Apalagi kembali. Yang harus kau tahu, isi dari genggaman tanganmu adalah kunci pintu yang sempat kau ambil dulu. Datanglah jika kau ingin menyembuhkan. Enyahlah jika itu terlalu menyakitkan. Aku lelah.

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Simfoni yang Terlambat Kupahami

Dulu, nada-nada itu adalah bising yang asing. Ganjil di telinga. Tak pernah selaras dengan detak jantungku. Aku berdiri di seberang harmoni yang tak kupahami. Menutup pintu pada genre yang menurutku hanyalah keriuhan belaka. Lalu kau datang. Membawa pemutar lagu di saku dan binar di mata. Menyelipkan satu sisi penyuara telinga ke dalam duniaku. "Dengarlah," katamu tanpa paksa. Dan, aku pun terjebak dalam frekuensi yang awalnya ingin kuhindari. Setiap perjalanan senja, setiap ruang tunggu yang sunyi, kau putar lagi melodi itu, berulang-ulang hingga udara terasa penuh. Aku mulai melihatmu dalam setiap ketukan drumnya. Menemukan senyummu di sela-sela lirik yang tadinya tak bermakna. Kini, keajaiban itu terjadi tanpa kusadari. Aku tak lagi mencari lagu-lagu lama yang dulu kupuja. Seleraku telah runtuh. Berganti dengan apa yang kau suka. Bukan karena nadanya, tapi karena ada suaramu yang bersembunyi di sana. Ternyata, aku bukan jatuh cinta pada lagunya. Aku hanya jatuh cinta pada ...