Skip to main content

Tuhan, Aku Ingin Sembuh

Malam ini hujan datang dengan rindunya. Selimut bergambar lucu milikku menggoda ingin aku menjelajahinya. Suara hujan di depan jendela memintaku mendengarkannya. Seolah ada pesan kepada hati yang memendam segalanya.

Seperti pasangan pada umumnya, kukirim pesan untuk yang tercinta. Sedikit aroma agar romansa tetap berjalan tanpa adanya curiga. Balasan ala kadarnya kuterima. Lalu kubalas lagi dan hanya dibaca.

Suara lirih radio kuperdengarkan sedari senja. Laptop kubiarkan menyala mempertunjukkan serial drama lama. Kurebahkan raga di tengah hujan yang belum reda. Seketika semua luka kembali basah seenaknya. Belum sembuh memang, namun setidaknya ia perlahan memudar. Ternyata berbeda dengan yang kuduga. Duka itu benar adanya. Ia tertawa di atas derai air mata, merajai segalanya. Sesak yang sungguh tiada habisnya.

Aku bisa pergi darinya, tapi untuk mencintai seseorang yang baru, kurasa aku belum bisa. Mungkin itu sebabnya kami kembali bersama.

Aku senang melihatnya tertawa. Saat itu pula jauh di dalam sini ada hati menjerit iba. Rindu kepadanya kian meraksasa. Di tengah sana aku merasa lara kembali mengangkasa. Aku mencintainya, seseorang yang pernah memberi duka tak terhingga. Di antara ribuan kata, ia masih menjadi pusat semesta. Lantas apakah aku masih bisa bertahan dengan orang yang sama jika bahagia dan duka hanya berjarak tepat di depan mata?

Tuhan, sembuhkan aku dari lara yang menyiksa. Aku lelah menangisi malam tiada guna. Aku benci diriku yang mencinta terlalu dalam. Kenapa aku menjadi diriku yang sekarang? Seenaknya saja cinta merubah segalanya. Bisakah luka itu saja Kau lenyapkan? Sungguh, aku buta.

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Sebuah Apresiasi

Di dalam sebuah keheningan aku terpikat kepada malam. Menyanjung seseorang yang tak pernah lelah menemani segala kelam. Setiap nada suaranya mengakar dalam kepala. Senyum demi senyuman menyatu menjadi keping menutup mata. Ia tumbuh menjadi rindu berkepanjangan. Curangnya, ia tak pernah berkurang. Pertemuan sekarang dan esok meninggalkan rasa tiada ujung. Tak mampu terdeskripsikan. Hanya tawa yang terekam. Sesekali tangis, namun semua terselesaikan. Bersamanya aku memaknai kebersamaan. Aku menghargai segalanya. Malam ini ribuan kenangan berjatuhan. Aku membisu. Menatap foto yang terakhir hampir satu bulan lalu kita bertemu. Di antara perjalanan itu aku ingat betapa berharganya pertemuan. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, tak ada lelah mataku memandangmu. Semua orang tahu itu. Bersama tulisan ini aku apresiasikan betapa rindu ini berkecamuk. Suaramu yang kudengar berusan di telpon terasa syahdu dan sendu. Sambil membayangkan kita sedang bersama, aku bertanya apakah jarak ini ...