Skip to main content

Tulus yang Kian Hangus

Jatuh cinta kepada orang yang sama bukanlah hal mudah. Apa lagi jika ada duka di masa lalu. Pantaskah rasa itu dipertahankan? Apakah cinta layak disemayamkan kepada yang pernah melukai? Atau mungkin hati telah membatu? Seolah berjuang menapaki masa depan yang semu. Padahal di belakang ia menyimpan pilu.

Rasa yang sama, orang yang sama, kisah yang sama, luka yang sama. Ya, cinta telah membeku di dinding hati. Telah terbingkai senyumnya dengan indah menempel melekat. Bintang tak mampu bercahaya terkalahkan sinar bola matanya. Setiap jengkal langkahku selalu teringat tentangnya. Sebegitu dekat aku dengan kenangan, hingga aku kembali jatuh pada pelukan yang sama. Belati ini masih menancap karenanya. Entah pelukan ini akan membuat belati itu lepas atau menusukkan semakin lara.

Pernahkah kau merasa tidak merasakan apa-apa? Hatimu benar-benar kosong. Tak ada seorangpun di dalamnya. Kau hidup hanya untuk dirimu sendiri. Pernahkah? Aku pernah. Selepas kepergiannya, mencintai terasa sulit. Segenap cerita tentangnya kukubur rapat. Saat itu ruang ini begitu kosong. Hanya ada aku dan beberapa memori yang berbuah benci.

Kepada engkau yang aku cintai, maafkan hati ini yang belum mampu beranjak pergi. Ampunilah rasa benci yang kini mekar di segala sisi. Tak usah kau minta maaf seperti yang sudah-sudah. Seiring maafmu, ada air mata bersiap jatuh kapanpun ia mau. Maafkan aku yang belum bisa memaafkanmu.

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Sebuah Apresiasi

Di dalam sebuah keheningan aku terpikat kepada malam. Menyanjung seseorang yang tak pernah lelah menemani segala kelam. Setiap nada suaranya mengakar dalam kepala. Senyum demi senyuman menyatu menjadi keping menutup mata. Ia tumbuh menjadi rindu berkepanjangan. Curangnya, ia tak pernah berkurang. Pertemuan sekarang dan esok meninggalkan rasa tiada ujung. Tak mampu terdeskripsikan. Hanya tawa yang terekam. Sesekali tangis, namun semua terselesaikan. Bersamanya aku memaknai kebersamaan. Aku menghargai segalanya. Malam ini ribuan kenangan berjatuhan. Aku membisu. Menatap foto yang terakhir hampir satu bulan lalu kita bertemu. Di antara perjalanan itu aku ingat betapa berharganya pertemuan. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, tak ada lelah mataku memandangmu. Semua orang tahu itu. Bersama tulisan ini aku apresiasikan betapa rindu ini berkecamuk. Suaramu yang kudengar berusan di telpon terasa syahdu dan sendu. Sambil membayangkan kita sedang bersama, aku bertanya apakah jarak ini ...