Skip to main content

Legenda Lara

Lama hati ini tak terisi. Membayangkan mencintai seseorang saja enggan. Luka ini masih basah. Tubuh pasrah. Dunia terasa jengah. Sungguh, ia yang kusayangi dengan tulus tak bisa kupertahankan untuk singgah.

Sejak saat itu, memiliki dan menguasai ada sama di mataku. Seberapa kuat keinginan memiliki akan berbanding lurus dengan keinginan menguasai. Setidaknya besar kecilnya bergantung pada keseharian pasangan. Ah, muak sudah bicara tentang hati.

Bisa dibayangkan betapa besar rasa ketika mau menerima kembali seseorang yang telah membuat kecewa berkali-kali. Apa artinya? Artinya cintanya besar dan tulus! Meski hatinya pernah tersayat tajam, rasa percayanya hilang, menerima kembali bukanlah hal mudah. Lalu, mengerikan sekali seseorang yang menyia-nyiakan cinta sebesar itu. Benci yang dimiliki sebanding dengan cinta yang pernah terlukai.

Lelah. Kubiarkan rumah ini kosong. Sengaja tak kuisi dengan nama. Biarlah hanya aku saja yang menatanya. Puing-puing luka masih tertulis mesra di langit-langit. Demi menghapusnya, diri sendiri rela tersakiti. Jika hanya dikenang, hati tak mampu lagi menahan benci. Pelan-pelan kukubur duka itu dengan perih meronta sisakan air mata.

Kehampaan membuat segalanya terasa jauh lebih baik. Tak ada keinginan bertanya kabar, walaupun yang ditanya entah pergi dengan siapa. Tak ada pula keinginan memastikan seseorang baik-baik saja, meski dianya enggan membalas beralasan kerja dan kerja. Tak ada pengayom sebagai prioritas, kenyataannya hanya sebagai formalitas. Dunia selucu itu.

Hal sama terjadi lagi. Berpisah dengan orang yang kau terima kembali. Kelalaian terbesar dan tak termaafkan.

Wahai hati, istirahatlah. Kau sudah berjuang keras memaafkan seseorang dengan belajar mencintainya lagi. Meski kau kembali gagal, setidaknya kau berjiwa besar. Benci dan kecewamu biarlah di sana. Kau besar dengan segala yang kau punya. Kau luar biasa walau tanpanya. Selanjutnya doamu akan berbicara, karena telah kau libatkan Tuhan di dalamnya.


Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Sebuah Apresiasi

Di dalam sebuah keheningan aku terpikat kepada malam. Menyanjung seseorang yang tak pernah lelah menemani segala kelam. Setiap nada suaranya mengakar dalam kepala. Senyum demi senyuman menyatu menjadi keping menutup mata. Ia tumbuh menjadi rindu berkepanjangan. Curangnya, ia tak pernah berkurang. Pertemuan sekarang dan esok meninggalkan rasa tiada ujung. Tak mampu terdeskripsikan. Hanya tawa yang terekam. Sesekali tangis, namun semua terselesaikan. Bersamanya aku memaknai kebersamaan. Aku menghargai segalanya. Malam ini ribuan kenangan berjatuhan. Aku membisu. Menatap foto yang terakhir hampir satu bulan lalu kita bertemu. Di antara perjalanan itu aku ingat betapa berharganya pertemuan. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, tak ada lelah mataku memandangmu. Semua orang tahu itu. Bersama tulisan ini aku apresiasikan betapa rindu ini berkecamuk. Suaramu yang kudengar berusan di telpon terasa syahdu dan sendu. Sambil membayangkan kita sedang bersama, aku bertanya apakah jarak ini ...