Skip to main content

Bertamunya Sendu

Malam adalah waktu menyenangkan. Meski dunia tak terlihat seperti aslinya, make up berupa lampu kota dan gemintang langit begitu nyaman di pandangan. Belum lagi deburan angin yang terasa sampai terikatnya jemari tangan. Pada akhirnya kita saling melempar senyuman. Hangat dan manis menjadi kenangan.

Aku bukan pecinta yang baik. Pada senja dan kopi aku hanya mampu berbisik. Padahal dalam hati, gusar selalu mengusik. Bagaimana mungkin aku mampu berlari menghindari semesta yang begitu berisik.

Hei perhatikanlah langkahmu. Ada aku di depanmu. Memandangimu dari kejauhan tanpa ragu. Meski pilu terkadang suka merayu. Menggebu-gebu tanpa peduli tubuh memaku.


Comments