Skip to main content

Pernak-Pernik Pena 90 Part 2

Konsep matang. Langkah selanjutnya adalah merekrut anggota tim. Seluruh divisi dibentuk. Mulai dari bendahara, acara, perlengkapan, dokumentasi, humas, kesekretariatan, dan konsumsi. Struktur kepanitiaan terbilang pendek. Tidak banyak hal-hal khusus berkaitan dengan surat menyurat karena ini murni kegiatan atas nama pribadi, bukan instansi. Walaupun tim yang kami rekrut adalah teman-teman satu jurusan.

Beruntung sekali kami memulai Pena 90. Salah satu kawan kami ada yang jago dalam hal desain. Atas dasar kekancan (pertemanan) ia segera meracik warna-warna yang kemudian dipadukan dengan tulisan menarik ke dalam sebuat pamflet. Entah ada berapa kali revisi saat itu. Keseringan skripsi direvisi, pamflet kegiatan pun tak luput dari kata revisi. Terlatih direvisi.

Selesai memutuskan desain pamflet, tim segera mencetak, lalu menyebarkannya dengan menempelkan ke mading-mading kampus. Tidak hanya itu, media sosial menjadi ajang promosi masal. Selain mengumpulkan donasi dari teman-teman sekampus, kami juga melirik para alumni. Kegiatan informal pertama, konsep pertama, semua serba pertama. Strategi ini kami gunakan untuk mendapatkan atensi sebesar-besarnya.

Sebelum mengumpulkan segala bentuk materi, kami melakukan survey ke panti atau yayasan sasaran. Yayasan tersebut pernah saya kunjungi sekali sewaktu masih menjadi fungsionaris BEM. Kenapa memilih yayasan itu? Sederhana. Karena saya pernah ke sana sehingga proses perkenalan tidak akan membutuhkan waktu lama. Saya dan ketua yayasan memiliki satu kenangan sama. Artinya, kami punya sesuatu yang dapat dihubungkan kembali.

Yayasan tersebut adalah Yayasan Al Hidayah. Berlokasi di Gunungpati, Semarang. Pertama kali datang membawa nama Pena 90, ketua yayasan sangat ramah menyambut kami. Meningat beberapa hal yang pernah saya lewati di sana, sedikit saya menyinggung nama anak-anak yang pernah saya temui. Tidak ada yang salah dengan menanyakan kabar.

Beberapa anak saya dengar masih bertahan di yayasan. Beberapa lagi ada yang tidak lagi di sana. Selain itu, ada pula tambahan anak-anak yang menjadi bagian yayasan. Mereka yang pernah saya temui dulu ada yang sudah SMA, ada yang menginjak SD. Mereka masih sama. Malu-malu berkenalan dengan orang baru.

Pertemuan pertama berlangsung hangat. Satu hal yang saya suka di sana adalah sikap pengurus yayasan dan anak-anak yang ramah. Anak-anak di sana mudah diatur. Jadi ingat waktu itu kami belajar bahasa Perancis. Mereka antusias sekali. Mata mereka menyala setiap mendengar saya dan teman-teman saya mempraktikkan percakapan bahasa Perancis di depan kelas. Tak jarang mereka juga tertawa mendengar kami. Reaksi yang sama dengan saya ketika pertama kali mengenal bahasa klasik itu. Bermula dari sana, saya mengurungkan niat mengulangi hal sama.

Mendengar konsep Pena 90 kami, ketua yayasan tersebut begitu antusias. Tidak sabar menunggu hari H ucapnya. Melihat Beliau berkata demikian, saya dan kawan-kawan tentu tak kalah antusias. Bagai rembulan jatuh, kami harus menjemputnya segera.

Pamflet kami sebar secara fisik maupun digital. Saat itu Facebook masih menjadi media sosial utama kami. Para alumni juga mudah kami temukan di jejaring sosial biru tersebut. Kami unggah pamflet ke grup-grup kampus. Kami sasar teman-teman sejurusan, fakultas, dan universitas. Dosen pun tak luput menjadi target.

Sedikit demi sedikit banyak orang mulai menghubungi kami. Setiap hari ada saja orang bertanya mengenai Pena 90. Barang-barang donasi mulai terkumpul. Uang, sembako, dan pakaian layak pakai.

Khusus pakaian layak pakai, kami adakan sortir terlebih dahulu. Kami memutuskan salah satu kos sebagai tempat penyimpanan. Kenapa harus disortir? Karena tidak tahu apakah pakaian yang didonasikan tersebut mengalami cacat atau tidak. Bukan berarti kami tidak mempercayai donatur. Hanya saja layer kedua harus tetap dibentuk. Pada bagian ini, beberapa pakaian tidak jadi disumbangkan dengan beberapa alasan. Jahitan sobek, terkena bekas tinta, warna memudar, serta alasan lain.

Selain kegiatan sortir pakaian donasi, beberapa kali kami sempat melakukan simulasi permainan tradisional yang akan dibawakan saat kegiatan nanti. Pada kesempatan pertama itu kami memainkan Bentengan, dan Sedang Apa (konten dua dolanan tersebut sudah naik di Instagram dan Twitter @pena90_an). Lucunya, simulasi tersebut kami lakukan di kampus.

Bagi pembaca dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), khususnya Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), bayangkan bagaimana suasana sore hari di lapangan depan gedung ungu dekanat FBS. Dosen masih ada di kampus, staf dan jajaran dekan ramai di dekanat, ditambah mahasiswa berlalu-lalang. Apa yang kami lakukan? Tentu kami memainkan bentengan di lapangan tersebut. Ini akalan yang kami sengaja agar menarik perhatian siapa pun yang lewat.

Pertama kali memainkan permainan tradisional ini di lingkungan kampus membuat kami sedikit riang akibat nostalgia. Entah sudah berapa tahun kami tidak berlarian seperti itu. Kami yang biasanya hanya hidup di kampus, kos, dan beberapa kali menyempatkan menghibur diri tidak dengan olahraga. Sore ini secara tidak langsung tubuh kami dipaksa bergerak lebih dari biasanya. Menyenangkan!

Saking senangnya, teriakan kami selalu menarik perhatian tiap orang yang lewat. Benar saja, tahap ini berjalan sesuai rencana. Betapa hebatnya tubuh yang mulai digandrungi penyakit tulang tua ini beraktivitas layaknya anak-anak. Bermain permainan tradisional adalah langkah jitu menghasilkan keringat dengan gembira.

Sambil bersenja gurau, evaluasi tidak lupa kami adakan. Walaupun memang kegiatan ini nantinya merupakan kegiatan informal, kami selalu ingin meninggalkan kesan baik di setiap agenda yang kami adakan. Tidak mungkin seorang saya dan kawan-kawan mengadakan event ecek-ecek. Begitulah cara kami membentuk self branding. Tertarik bergabung? Tenang, nanti saya tulis caranya.

Hari H semakin dekat. Persiapan demi persiapan dilakukan. Publikasi, pengumpulan donasi, penarikan dana, pembelian sembako, sortir pakaian layak pakai, meeting pematangan konsep, serta hal-hal kecil lainnya seperti promosi mulut ke mulut.  Sesederhana cerita singkat saat menunggu antrean bimbingan skripsi.

Pantauan dana tak pernah luput. Ada perasaan senang ketika melihat rekening terisi dana donasi. Setelah itu kami membahas penarikan dana guna dibelikan sembako atau lauk pauk mentah. Tidak lupa pula packing barang-barang ke dalam kardus agar mudah dibawa.

Hari H tiba. Saatnya bernostalgia dengan masa lalu lewat permainan tradisional, dan berbagi bahagia. Kami sengaja menyiapkan pamflet hari H sebagai reminder bahwa kegiatan pertama Pena 90 sedang berlangsung. Pamflet tersebut tentu kami publikasikan secara digital.

Acara pertama dibuka dengan ramah-tamah bersama seluruh pengurus yayasan. Sepatah kata sambutan dari Pena 90, juga Ketua Yayasan. Diakhiri dengan penyerahan simbolis barang-barang donasi oleh perwakilan tim Pena 90.

Setelah semuanya selesai, mulailah pembentukan kelompok peserta. Kelompok terdiri atas tim Pena 90 dan adik-adik yayasan. Semua harus membaur. Pun di setiap kelompok tersebut terbagi rata laki-laki dan perempuannya. Kemudian nama kelompok tidak lupa dibentuk.

Permainan pertama adalah bentengan. Bentengan merupakan permainan pertandingan antara dua kelompok yang mana setiap kelompok memiliki benteng. Benteng bisa ditentukan atau dibuat dari berbagai objek di sekitar, misalnya tiang atau pohon. Tim harus melindungi bentengnya agar tidak diserang atau disentuh tim lawan. Detail aturan main kami upload spesial di Instagram @pena90_an. Di-follow, yuk, Kakak! Hehehe.

Berikut saya sertakan gambar cuplikannya:

Permainan bentengan disudahi dengan penentuan pemenang. Dari empat grup yang bertanding, satu pemenang muncul setelah pertandingan sengit. Tengah hari menjadi ajang matahari menunjukkan kuasa. Teriknya tak menghalangi semangat kami bermain permainan selanjutnya. Lalu, apa lagi yang akan dimainkan?

Sedang apa, sedang apa, sedang apa sekarang? Sekarang sedang apa, sedang apa sekarang?

Apakah tulisan di atas bernada? Jika iya, kita sepakat bahwa kita hampir seumuran. Hahaha. Yap, kami memainkan Sedang Apa. Sebuah permainan sederhana yang mengembangkan kegembiraan, pola berpikir kritis, dan tentu sikap kompetitif. Kegembiraan berasal dari nyanyian diiringi tepuk tangan, serta tawa lebar dari setiap pemain. Pola pikir kritis yang berkembang ketika giliran tiba, kemudian diminta memikirkan kata yang pas sebagai penyambung kata sebelumnya dari tim lawan. Dan, sikap kompetitif tentu terlahir dari keinginan tidak mau kalah oleh para pemain.

Di bawah ini tergambar keceriaan kami bersama adik-adik yayasan saat bermain:

Lihatlah kebahagiaan mereka. Sederhana. Namun terkadang apa yang kita anggap sederhana, bagi mereka adalah kenikmatan luar biasa. Sama halnya dengan Pena 90, bagi kami kebahagiaan mereka adalah cara menikmati kenikmatan yang luar biasa pula.

Dua permainan seru sudah dilakukan. Acara selanjutnya adalah ishoma, dilanjutkan terakhir adalah penyerahan hadiah. Banyak sekali keseruan hari itu. Baik dari tim Pena 90 maupun teman-teman yayasan. Semuanya layak mendapatkan hadiah. Tentu hadiah kecil kami tidak seberarti partisipasi adik-adik di acara ini. Dari merekalah kami belajar banyak.

Foto bersama Pena 90 dengan seluruh jajaran dan adik-adik yayasan menjadi penghujung acara. Kenang-kenangan itu kami bingkai indah di media sosial kami. Tentu pengalaman berharga yang tidak akan pernah terlupakan. Pasalnya, sekali lagi, kegiatan informal pertama, dan sukses besar. Donasi yang kami salurkan pun jauh di atas ekspektasi. Banyak alumni tertarik dengan acara kami. Bermula dari sana, kami menggantungkan harapan bahwa Pena 90 akan selalu ada sampai kapan pun. Sebagai rumah berbagi bahagia.


 

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Simfoni yang Terlambat Kupahami

Dulu, nada-nada itu adalah bising yang asing. Ganjil di telinga. Tak pernah selaras dengan detak jantungku. Aku berdiri di seberang harmoni yang tak kupahami. Menutup pintu pada genre yang menurutku hanyalah keriuhan belaka. Lalu kau datang. Membawa pemutar lagu di saku dan binar di mata. Menyelipkan satu sisi penyuara telinga ke dalam duniaku. "Dengarlah," katamu tanpa paksa. Dan, aku pun terjebak dalam frekuensi yang awalnya ingin kuhindari. Setiap perjalanan senja, setiap ruang tunggu yang sunyi, kau putar lagi melodi itu, berulang-ulang hingga udara terasa penuh. Aku mulai melihatmu dalam setiap ketukan drumnya. Menemukan senyummu di sela-sela lirik yang tadinya tak bermakna. Kini, keajaiban itu terjadi tanpa kusadari. Aku tak lagi mencari lagu-lagu lama yang dulu kupuja. Seleraku telah runtuh. Berganti dengan apa yang kau suka. Bukan karena nadanya, tapi karena ada suaramu yang bersembunyi di sana. Ternyata, aku bukan jatuh cinta pada lagunya. Aku hanya jatuh cinta pada ...