Skip to main content

Kita

Di dalam rumitnya hidup, aku menyimpan beberapa masa lalu yang belum usai. Pendar kisah lama muncul tiba-tiba menghasilkan rentetan nama yang familiar, tapi cukup asing di masa sekarang.

Tidak bosan aku membicarakannya. Barangkali jika ada yang bertanya tentang kisah paling menyedihkan, aku tetap menceritakannya. Kisah lama yang tak habis dimakan masa. Sebuah cerita akan nama seseorang. Nama yang selalu mengaliri nadi. Menggenjotkan sejuta perasaan beraneka ragam.

Sial. Hanya dengan membayangkannya saja tanganku bergetar. Nafasku sesak. Nyeri menjejal. Bendungan air mata sepertinya tak sanggup bertahan lagi. Taka pa. Kubiarkan air mata berjatuhan. Beningnya bagai pernak-pernik mengkilat memanjakan mata.

Bertahun-tahun aku memendam. Sekian lama gejolak tertahan. Diam membuat semakin tak tenang. Sungguh menyebalkan setiap melihat ia bersama pasangan. Meski hubungan mereka berusia sebentar, tetap saja aku merasa muram. Gumpalan awan kelabu berselimut sayu.

Sungguh kasihan. Aku iba kepada diriku sendiri yang terlampau sakit menahan perasaan. Seringkali afirmasi kulafalkan demi beraninya aku mengutarakan. Namun bibir ini sulit sekali bekerja sama. Bodohnya, kurelakan mata ini hanya memandanginya dari titik kejauhan. Tanpa berani mendekat.

Terkadang, dulu, setiap melihat punggungnya, aku ingin menggapainya. Menyentuh bahunya seraya menyapanya. Melihat senyumnya. Matanya yang seirama lengkung bibirnya. Lalu, suaranya riang menghunuskan panah asmara tepat di jantungku. Khayalan yang sempurna, bukan?

Sesal ini masih berlanjut. Tanpa tahu akhir, aku hanya pasrah merasakan resah. Jemari tanganku masih aktif mencari kabarnya. Sedikit banyak aku mengetahuinya. Angin segar berhembus mesra. Sayang, sekali lagi, aku diam terbata.

Barangkali benar doa adalah bahasa paling sederhana, aku berharap ia bahagia. Semoga tercipta jalan untuk kembali. Tak peduli apa, sekian lama aku memendam cinta, aku selalu ingin kita bersama. Tak pernah ada tepi untuk ini.

Kau baik-baik saja, kan?

Cr: Pinterest

 

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Semester Dua Digit

Tidak ada yang abadi. Kupikir itu salah. Setiap kenangan dapat diabadikan dengan berbagai cara. Walaupun di waktu tua nanti kita sudah tak bisa mengingat tentang apa itu, akan ada saatnya foto berbicara. Salah satu cara membingkai kenangan adalah dengan foto. Abadi. Satu foto bisa menyimpan banyak memori. Tawa, canda, tangis, haru, semuanya. Semester Dua Digit. Judul itu sudah lama terngiang di kepalaku. Apakah aku menunggu judul itu tertulis di salah satu file laptopku? Kok rasanya aku menantikan tingkat semester tua itu. Angkatan 2010, semester 10, semoga kami bisa lulus tahun 2015 ini di bulan 10. Aamiin. Entah sudah berapa banyak cerita yang menunggu diceritakan kelak. Halaman blog ini terlalu lemah untuk menampung gema ceritanya. Selalu, ada yang terbaik di antara segala hal. Tidak pasti yang terbaik hanya satu, tapi bisa lebih dari satu. Jika semua hal bisa menjadi yang terbaik, kenapa tidak? Ini cerita kami. Selamat menikmati kebersamaan kami. Kebersamaan se...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...