Skip to main content

Dan Aku Kembali

Sekian aku terjatuh ke dalam kamu. Aku jatuh cinta padamu. Aku utuh masuk ke dalam semua darimu. Kau telah menjelma seperti khayalan. Kau impian dalam kenyataan. Kaulah segalanya. Segalanya ada di dirimu, termasuk aku. Aku yang jatuh. Aku yang kacau. Aku yang tak tahu kemana harus melangkah. Sekarang yang aku tahu hanyalah jalan pulang, yaitu kepadamu.

Mencintaimu tidaklah mudah. Cinta kita terlalu banyak rintangan. Aku tahu. Bahkan ini terkesan mustahil diabadikan. Tapi ingatlah aku akan menjagamu semampuku, sampai kita menjadi masing-masing. Walaupun jauh dari lubuk hati aku tak ingin bermaksud demikian, aku ingin menjadikanmu selamanya. Aku ingin kau menjadi yang terakhir dalam pencarianku. Pun sebaliknya, meski aku bukan pertama yang singgah di sana, aku ingin menjadi yang terakhir untukmu. Tanpa pilihan dan tanpa siapa-siapa.

Aku mempertahankanmu, memperjuangkanmu sejauh ini semata karena aku telah buta. Kau telah membutakanku. Aku menikmati kebutaan itu. Aku menikmati jatuhnya rasa itu. Kenapa aku menikmati? Karena jatuhnya adalah padamu. Ketika aku sadar akan satu hal, bahwa cinta mampu merubah segalanya. Cinta mampu merubah aku yang dulu menjadi aku yang sekarang. Tidakkah itu istimewa? Saat aku merasa aku telah berubah, saat itulah aku mulai menyandingkan hatiku padamu. Tidakkah kau tahu aku berubah sedramatis ini?

Banyak hal sudah kulewati bersamamu. Tawa, tangis, canda, marah, kecewa, semua ada. Ketika aku mengingatnya satu persatu, aku tersenyum. Ingat kemarin kau mengingatkanku tentang beberapa momen dimana kita jalan-jalan, bersenang-senang, bercanda berdua? Aku berjanji tak akan melupakan itu semua. Bahkan dari lubuk hati terdalam, aku pernah berjanji untuk selalu melakukan hal sama denganmu. Aku ingin membahagiakanmu. Aku ingin bersamamu. Sebisaku. Ini janjiku.

Kasih, tahukah kau di dalam doaku selalu terucap namamu? Nama yang sekarang mengisi kekosongan. Nama yang kurasa pas melengkapinya. Nama itu begitu pas. Namamu.

Aku ingin sekali bicara banyak padamu. Bicara tentang rasaku. Bicara tentang asaku. Tentang semuanya. Tapi bibirku selalu beku setiap ada engkau. Lidahku kelu. Aku tak mampu bicara banyak. Aku hanya bisa diam. Aku tak tahu caranya mengungkapkan rasa. Bisakah kau mengajariku berbicara? Aku hanya bisa menuangkan segelas demi gelas rinduku ke dalam tulisan-tulisan di sini. Tak banyak. Jika kau membacanya, resapilah betapa engkau ada padaku. Jika kau tak membacanya, tak apa. Paling tidak aku akan berusaha selalu ada untukmu.

Hari ini kutuang secangkir rindu hangat rasa coklat sebagai teman aku menghabisi senja. Senja selalu mengerti perasaan seorang perindu. Ia datang dengan keindahan yang hanya bisa dinikmati pecintanya. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan tanda. Sama seperti rindu, ia hanya bisa pergi dengan temu. Ia juga meninggalkan tanda, rindu yang berulang, tiada habis. Kepadamu aku prosakan rindu tanpa jemu berharap ada temu tanpa ragu. Semoga tidak pernah semu.

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Simfoni yang Terlambat Kupahami

Dulu, nada-nada itu adalah bising yang asing. Ganjil di telinga. Tak pernah selaras dengan detak jantungku. Aku berdiri di seberang harmoni yang tak kupahami. Menutup pintu pada genre yang menurutku hanyalah keriuhan belaka. Lalu kau datang. Membawa pemutar lagu di saku dan binar di mata. Menyelipkan satu sisi penyuara telinga ke dalam duniaku. "Dengarlah," katamu tanpa paksa. Dan, aku pun terjebak dalam frekuensi yang awalnya ingin kuhindari. Setiap perjalanan senja, setiap ruang tunggu yang sunyi, kau putar lagi melodi itu, berulang-ulang hingga udara terasa penuh. Aku mulai melihatmu dalam setiap ketukan drumnya. Menemukan senyummu di sela-sela lirik yang tadinya tak bermakna. Kini, keajaiban itu terjadi tanpa kusadari. Aku tak lagi mencari lagu-lagu lama yang dulu kupuja. Seleraku telah runtuh. Berganti dengan apa yang kau suka. Bukan karena nadanya, tapi karena ada suaramu yang bersembunyi di sana. Ternyata, aku bukan jatuh cinta pada lagunya. Aku hanya jatuh cinta pada ...