Skip to main content

Beranda Aku dan Semesta di Pagi Buta

Cinta, satu kata berjuta makna. Kata agung. Ketika cinta menggema, angkasa tak mampu menahannya. Apalah hati manusia, berbolak-balik begitu saja. Mereka yang berjuang mempertahankan cinta akan kalah dengan mereka yang hanya memanipulasi cinta. Bercerita sedemikian rupa. Lihai mereka berbohong. "Aku cinta kamu", "Jangan tinggalkan aku", kalimat yang sempat mencandu hingga akhirnya palsu. Jangan salahkan mereka yang menyerah karena sadar hanya mereka bertahan sendirian. Ketika "Cinta tak harus memiliki" hanya menjadi pelipur. Sesungguhnya cinta harus memiliki. Jika tidak bisa dimiliki, untuk apa dicintai. Jangankan bahagia, sakit bertubi-tubi meracuni sendi. Lepaskan. Bila tak mampu merelakan, setidaknya tidak ada lagi ikatan. Ikat dalam diam. Dalam doa-doa.

Aku pernah mencintai seseorang. Ia sampai hari ini masih menjadi inspirasi dalam beberapa tulisan. Ia meyakinkan aku akan segalanya, membuatku bertahan, membantuku mencintai diri sendiri. Aku mencintai diriku yang mencintainya. Ia membuatku berdiri menantang aral. Ia membakar semangat hari-hariku dengan senyumannya. Matanya, tawanya, itu yang aku jaga. Tak ingin ada duka di penghujung harinya. Semua tampak indah saat berdua bersama. Tanpanya aku tiada. Bersamanya aku sempurna. Segalanya ada padanya, termasuk aku. Sungguh, betapa indah jatuh cinta. Aku ingin dunia tahu bahwa aku bahagia. Semesta harus tahu, aku sedang jatuh hati. Bawalah hati ini kasih. Taruhlah pada tahta tertinggi di singgasanamu. Penjarakan ia agar tidak kemana-mana. Aku ada bersamanya.

Aku pernah berjuang hingga jatuh dalam kekecewaan. Apa yang membuatku kecewa? Sampai detik ini aku bertanya. Seandainya ia mencintaiku sama seperti aku padanya, ia tak mungkin mengecewakan. Ia tak cinta padaku? Lantas kata cinta yang beberapa waktu lalu keluar dari bibirnya apakah hanya gurauan? Mungkinkah genggaman tangannya yang mengajakku terbang, ketika sudah sampai di puncak ia menjatuhkan aku demikian? Ataukah aku yang hanyut mencintainya mati-matian sampai tak melihat belati yang ia tancapkan di dada berselimut pelukan? Sayang, pandai sekali ia bermain. Kukira untuk mengucap kata cinta sangat tidak pantas buatnya. Cinta terlalu agung keluar dari mulut para pendusta. Tak usah mengatasnamakan cinta bila hanya bercanda. Aku tak pernah bercanda soal hati. Dan ia menertawakan hati yang telah ia buat bersimpuh kepadanya. Kekecewaan ini tak layak ada. Tak sepantasnya rindu bersarang padanya. Manusia malang.

Hari demi hari aku ingin bebas. Bebas dari belenggu rasa sakit. Ingin melupakan, tapi tak kunjung sembuh. Aku memang tak bisa melupakannya. Tak apa, karena ia pernah masuk ke dalam hidupku dan membuatku mengenal asam manis cinta. Tak dipungkiri ia pernah membuatku bahagia. Setidaknya ketika kami bersama memadu asmara. Bukan itu masalahnya. Aku ingin sembuh dari luka yang ia sayat. Itu saja. Karenanya, mengenal orang-orang baru di sekeliling terasa susah. Ingin melangkah namun lumpuh. Pernah ia berjanji akan menyembuhkan, tapi pendusta tetaplah pendusta. Kesempatan kedua yang tak akan pernah kuberi lagi padanya atau penyesalan akan datang lagi dan lagi. Semesta, lihat ia sekarang. Sampaikan kabar duka padaku bila ia tak bahagia. Akan kurayakan dengan seteguk anggur yang sudah di tangan. Mari bersulang merayakan kehilangan.


Minggu, 19 Maret 2017, ketika 2 bayi kucing mungil lahir dan ia masih melekat di memori.

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Semester Dua Digit

Tidak ada yang abadi. Kupikir itu salah. Setiap kenangan dapat diabadikan dengan berbagai cara. Walaupun di waktu tua nanti kita sudah tak bisa mengingat tentang apa itu, akan ada saatnya foto berbicara. Salah satu cara membingkai kenangan adalah dengan foto. Abadi. Satu foto bisa menyimpan banyak memori. Tawa, canda, tangis, haru, semuanya. Semester Dua Digit. Judul itu sudah lama terngiang di kepalaku. Apakah aku menunggu judul itu tertulis di salah satu file laptopku? Kok rasanya aku menantikan tingkat semester tua itu. Angkatan 2010, semester 10, semoga kami bisa lulus tahun 2015 ini di bulan 10. Aamiin. Entah sudah berapa banyak cerita yang menunggu diceritakan kelak. Halaman blog ini terlalu lemah untuk menampung gema ceritanya. Selalu, ada yang terbaik di antara segala hal. Tidak pasti yang terbaik hanya satu, tapi bisa lebih dari satu. Jika semua hal bisa menjadi yang terbaik, kenapa tidak? Ini cerita kami. Selamat menikmati kebersamaan kami. Kebersamaan se...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...