Skip to main content

Hati yang Kehilangan Masih Ingin Bertahan

Aku pernah mencintai seseorang. Cinta dan percaya menjadi bekalku bertahan. Tak peduli apa kata orang, rasa itu begitu tulus. Mungkin memang ketulusan bukan lagi ketulusan jika diperdebatkan. Tapi hati berkata rasa kepadanya sangatlah dalam. Begitu dalamnya, ia belum tergantikan. Semesta tahu bagaimana cintaku tumbuh. Semesta tahu seperti apa rasa yang tersembunyi tertelan bisu. Sembari menikmati senja terakhir bersarang di matanya, aku berbisik kepada angin tentang betapa sakit luka yang pernah ada. Sungguh menyayat segalanya menghilangkan semi cinta. Angin pun membalas, "Hai kau yang jatuh cinta. Tahukah kau mengapa bisa engkau sebegitu terluka? Adalah engkau terlalu mencintai seseorang yang kau cinta. Engkau yang berharap ia tak pernah menjadi sangkar derita. Engkau pula yang percaya mati-matian terhadapnya. Terimalah lukamu. Sembuhmu adalah kamu."

Di malam sama aku bermimpi. Dengan ia aku bersama. Seolah mengulang waktu lalu yang tergilas hari. Bagaimana kami membelah debu jalanan sambil mendengar sayup ia bernyanyi. Tentang perdebatan panjang di kelam malam demi tempat tujuan makan. Pelukan-pelukan hangat yang sangat menenangkan. Kami yang menduakan segalanya demi berdua bersama. Rasa yang muncul setiap saat dan tumbuh setiap hari. Keping demi keping cerita terulang. Bisik kata cinta yang terus mengaliri bibirnya membiusku. Ia mencandu.

Ternyata aku pernah mencintai seseorang demikian. Tak kuingat seberapa banyak tiap hari aku mengatakan cinta padanya. Lidahku beku. Ia selalu bisa membuatku bungkam. Dan semakin dalam aku jatuh cinta, semakin sulit aku berkata cinta. Mungkin bisa dihitung selama kami bersama, berapa kali kata cinta, sayang, rindu terucap manis di bibirku. Semesta, berikanlah nyali untuk jiwa rapuh ini. Mengungkapkan rasa saja aku tak mampu. Istimewanya ketika hati dipenuhi olehnya, alam membantu menerka. Ia yang pernah bilang kami sehati. Duduk berdua dengan detak jantung yang seirama. Giliran batin berbicara. Tentang pertanda dan firasat. Hal itu begitu kuat. Aku percaya telepati. Ketika aku tak mampu berbisik, biarlah alam menangani kepecundanganku. Hujan, sampaikanlah cinta yang selalu mengalir padanya. Sampaikan pula terima kasih untuknya karena telah mengenalkan betapa sakit luka karena cinta. Lekaslah tersampaikan.

Sekadar mengingat, kubuka lagi memori masa itu. Ketika indah hariku dipenuhi tentangnya. Beberapa tulisan terinspirasi darinya. Beberapa obrolan yang tak sengaja tersimpan. Aku hanya bisa tersenyum memandangi semua. Senyumku pilu ketika sampai pada bab tentang derita. Kembali terputar pahit sayatnya. Aku yang jatuh tertikam belati. Peluknya semakin erat. Semakin dalam pula belati yang tertancap di dada. Entah berapa banyak air mata tumpah saat itu. Berapa kali mataku sembab melihat luka yang membusuk di diriku. Dunia tak lagi seindah dulu. Aku mencintai orang yang melukai. Aku membenci orang yang aku cintai. Aku... Seperti dulu. Ingin melihatnya bahagia karenaku, juga menangis tersedu karenaku. Egoiskah bila aku menginginkannya hidup karena aku? Sayang, itu masa lalu. Biarlah semua terkubur di bawah nisan bertuliskan nanar. Kelak, jika bertemu, sapalah aku dengan senyumanmu yang masih kuingat jelas, duhai kasihku. Sekarang, bunuhlah aku.

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Semester Dua Digit

Tidak ada yang abadi. Kupikir itu salah. Setiap kenangan dapat diabadikan dengan berbagai cara. Walaupun di waktu tua nanti kita sudah tak bisa mengingat tentang apa itu, akan ada saatnya foto berbicara. Salah satu cara membingkai kenangan adalah dengan foto. Abadi. Satu foto bisa menyimpan banyak memori. Tawa, canda, tangis, haru, semuanya. Semester Dua Digit. Judul itu sudah lama terngiang di kepalaku. Apakah aku menunggu judul itu tertulis di salah satu file laptopku? Kok rasanya aku menantikan tingkat semester tua itu. Angkatan 2010, semester 10, semoga kami bisa lulus tahun 2015 ini di bulan 10. Aamiin. Entah sudah berapa banyak cerita yang menunggu diceritakan kelak. Halaman blog ini terlalu lemah untuk menampung gema ceritanya. Selalu, ada yang terbaik di antara segala hal. Tidak pasti yang terbaik hanya satu, tapi bisa lebih dari satu. Jika semua hal bisa menjadi yang terbaik, kenapa tidak? Ini cerita kami. Selamat menikmati kebersamaan kami. Kebersamaan se...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...