Skip to main content

Ilusi Maya di Ujung Senja

Cinta tumbuh kapan saja, dimana saja dan entah bagaimana. Berawal dari pertemuan-pertemuan sederhana. Senyum saling sapa. Konflik tak terduga. Tak jarang mengena. Dari sanalah hidup jauh terasa lebih hidup. Ketika beberapa masalah datang dan tak pernah merasa keberatan. Suaranya lain. Mengisi hariku melebihi cuitan camar di kala senja.

Ada yang bilang padaku bahwa aku harus lebih cepat mengambil keputusan. Keputusan seperti apa, balasku. Lantas ia menepuk bahuku. Ia sadarkan aku dari lamunan. Ia mengerti. Jelas terlihat di kedua matanya isyarat itu. Kami terdiam.

Bagi sebagian orang, jarak bukan masalah. Kata mereka jarak menjadi ruang satu pasangan memupuk rindu. Kalimat saja butuh jeda antar kata, kata seorang penyair. Tentu demikan dengan satu hubungan. Jeda dalam arti jarak terkadang dibutuhkan. Sebagai pengingat bahwa kedua orang dalam ikatan itu adalah satu.

Kurasa itu benar adanya. Hanya saja beberapa waktu terakhir ada perbedaan terolah dalam diriku. Aku bertemu orang baru. Aku tenang. Seolah berada di rumah yang aman. Dipenuhi senyuman. Sempurna. Dan berbeda.

Entah apa yang akan terjadi nanti. Kubiarkan mengalir apa adanya. Pandanganku tak dapat luput darinya. Andai aku bisa merubah dunia, kukisahkan ada satu istana yang di dalamnya hanya ada aku dan dia. Akan kubangun megah tempat itu. Berbagai bunga bermekaran di halaman luas. Sekawanan kucing bermata biru bermain kejar-kejaran di taman. Hingga kudapati senja menggantung indah di ujung cakrawaka. Aku dan dia duduk berdua menikmati senja, masa, dan usia.

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Simfoni yang Terlambat Kupahami

Dulu, nada-nada itu adalah bising yang asing. Ganjil di telinga. Tak pernah selaras dengan detak jantungku. Aku berdiri di seberang harmoni yang tak kupahami. Menutup pintu pada genre yang menurutku hanyalah keriuhan belaka. Lalu kau datang. Membawa pemutar lagu di saku dan binar di mata. Menyelipkan satu sisi penyuara telinga ke dalam duniaku. "Dengarlah," katamu tanpa paksa. Dan, aku pun terjebak dalam frekuensi yang awalnya ingin kuhindari. Setiap perjalanan senja, setiap ruang tunggu yang sunyi, kau putar lagi melodi itu, berulang-ulang hingga udara terasa penuh. Aku mulai melihatmu dalam setiap ketukan drumnya. Menemukan senyummu di sela-sela lirik yang tadinya tak bermakna. Kini, keajaiban itu terjadi tanpa kusadari. Aku tak lagi mencari lagu-lagu lama yang dulu kupuja. Seleraku telah runtuh. Berganti dengan apa yang kau suka. Bukan karena nadanya, tapi karena ada suaramu yang bersembunyi di sana. Ternyata, aku bukan jatuh cinta pada lagunya. Aku hanya jatuh cinta pada ...