Skip to main content

Semestaku Bernama Dia

Bersama senja-senja berdatangan aku memandang dunia. Bergelas-gelas kopi habis tersisa ampas. Belai angin memaksaku menutup mata membayangkan wujud kesempurnaan. Gelap. Sepekat kopi yang sedari tadi merasa asing. Kuteguk pahitnya. Ada sebuah perasaan ingin diselamatkan.

Matahari dan bulan ditakdirkan hidup dalam jarak. Betapa jauhnya mereka hingga dengan pengantar cahaya mereka bercengkerama. Tak lelah mentari memberi sinarnya demi rebulan. Tanpa henti. Demi dunia bernama bumi, ratu dan raja semesta itu rela tak peduli jauh jarak antara mereka. Begitulah agungnya cinta. Semesta menggaungkannya.

Demikian ruang dalam diri ini berbicara, Kasih. Dalam gelapnya langit, berbagai bintang berlomba menjadi lentera. Gemerlapnya begitu rupawan. Satu bintang tersenyum cerah. Matanya berbinar membuat lupa kepalang. Lambaian tangannya meruntuhkan tebing yang kubangun tanpa makna setelah patah. Kugapai uluran tangannya sembari berbisik bahwa aku tak akan melepaskannya. Satu terindah dari yang terindah. Satu yang terpilih dari semua yang datang. Satu yang sungguh di antara mereka yang singgah.

Telah ia isi ruang semestaku. Ia duduk di atas singgasana yang kubangunkan untuknya. Bermahkota bahagia kusematkan. Sebuah istana megah berbentuk hati menghadap senja. Luasnya samudera tak sebanding dengan halaman yang kuciptakan dari berbagai jenis bunga. Warna-warninya mengalahkan anggun pelangi. Sempurnakanlah, Kasih.


Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Sebuah Apresiasi

Di dalam sebuah keheningan aku terpikat kepada malam. Menyanjung seseorang yang tak pernah lelah menemani segala kelam. Setiap nada suaranya mengakar dalam kepala. Senyum demi senyuman menyatu menjadi keping menutup mata. Ia tumbuh menjadi rindu berkepanjangan. Curangnya, ia tak pernah berkurang. Pertemuan sekarang dan esok meninggalkan rasa tiada ujung. Tak mampu terdeskripsikan. Hanya tawa yang terekam. Sesekali tangis, namun semua terselesaikan. Bersamanya aku memaknai kebersamaan. Aku menghargai segalanya. Malam ini ribuan kenangan berjatuhan. Aku membisu. Menatap foto yang terakhir hampir satu bulan lalu kita bertemu. Di antara perjalanan itu aku ingat betapa berharganya pertemuan. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, tak ada lelah mataku memandangmu. Semua orang tahu itu. Bersama tulisan ini aku apresiasikan betapa rindu ini berkecamuk. Suaramu yang kudengar berusan di telpon terasa syahdu dan sendu. Sambil membayangkan kita sedang bersama, aku bertanya apakah jarak ini ...