Skip to main content

Antara Hati dan Tuannya

Masih sama seperti malam-malam sebelumnya, aku terbangun. Entah kenapa. Sebenarnya apa yang mengganggu tidurku? Aku bahagia? Biasa saja. Aku bersedih? Tidak juga. Lantas apa? Secara teratur dan berirama, malam mampu membangunkan lalu membuat terjaga. Di mimpi mana sekarang aku hidup?

Aku bercengkerama sebentar dengan hati. Apakah ia masih terluka? Apakah ia masih belum berdamai dengan keadaan? Apakah ia belum bisa memaafkan? Entah, katanya. Apa yang ia mau? Tak ada, katanya. Apa yang terjadi? Bukan apa-apa, hanya mencoba melangkah dengan kaki terluka, katanya. Oh ternyata masih ada luka. Tak apa, paling tidak ia tidaklah mati rasa. Itu jauh lebih menakutkan.

"Hai hati, tempat aku merasa segalanya. Masihkah engkau melibatkan putus asamu kemarin? Tak bisakah kau kunjung pulih lagi? Apakah terlalu sakit yang kau derita hingga sembuh tiada kau dapat sampai sekarang? Masihkah ada sisa rasa percaya di sana? Walaupun bukan untuk orang yang sama, setidaknya milikilah untuk orang lain. Kawanmu, orang-orang yang masih ada di sampingmu, mereka yang mau dan layak tertawa bersamamu, tidakkah kau bisa tanam lagi rasa percaya pada mereka? Hati, tak usah kau merasa sendiri. Jangan mengucilkan diri. Dunia bukan untuk orang yang mengecewakan. Ada banyak hal jauh lebih berharga daripada memelihara luka." Kataku malam ini pada cermin. Semoga diamini.

Kemudian hati menjawab, "Aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah. Aku hanya berhenti sebentar. Tapi entah aku yang berhenti atau tak tahu arah. Entah. Belum ada nyali. Ada hal lain yang membuat aku duduk diam. Dekat dengan orang-orang baru seolah menjadi phobia. Takut mengenal. Kelainan? Entah. Purna? Tepat."

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Semester Dua Digit

Tidak ada yang abadi. Kupikir itu salah. Setiap kenangan dapat diabadikan dengan berbagai cara. Walaupun di waktu tua nanti kita sudah tak bisa mengingat tentang apa itu, akan ada saatnya foto berbicara. Salah satu cara membingkai kenangan adalah dengan foto. Abadi. Satu foto bisa menyimpan banyak memori. Tawa, canda, tangis, haru, semuanya. Semester Dua Digit. Judul itu sudah lama terngiang di kepalaku. Apakah aku menunggu judul itu tertulis di salah satu file laptopku? Kok rasanya aku menantikan tingkat semester tua itu. Angkatan 2010, semester 10, semoga kami bisa lulus tahun 2015 ini di bulan 10. Aamiin. Entah sudah berapa banyak cerita yang menunggu diceritakan kelak. Halaman blog ini terlalu lemah untuk menampung gema ceritanya. Selalu, ada yang terbaik di antara segala hal. Tidak pasti yang terbaik hanya satu, tapi bisa lebih dari satu. Jika semua hal bisa menjadi yang terbaik, kenapa tidak? Ini cerita kami. Selamat menikmati kebersamaan kami. Kebersamaan se...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...