Skip to main content

Dini Hari yang Membangunkan Seluruh Derita

Kau seperti senja yang kemarin aku buru. Hilangmu meninggalkan malam berkepanjangan yang tak mampu kutanggalkan dalam lelap. Di antara lelapku masih sering kau hadir menyisakan kenangan jatuh bertubi. Aku yang sendirian ini bisa apa. Aku mengutuk diri sendiri agar mampu melangkah. Berkali-kali aku bicara pada hati agar mampu mendamaikan diri. Nyatanya yang kudapat hanya semakin basah luka terbasuh air mata. Sebenarnya, apa yang membuat luka sebegini deritanya? Tidakkah itu tanda tanya besar untuk seseorang yang sudah tak percaya akan cinta?

Kepadamu aku pernah menaruh hati utuh. Bersamamu aku pernah mengamini seluruh doa, berharap akan jadi selamanya. Jauh di diri ini ada kau yang melukis senyum bahagia. Semesta tahu, gema teriakanku tak akan mampu ia bendung. Yang akhirnya hanya jatuh abadi dan biar aku saja yang tahu.

Hati yang tertinggal ini sedang sakit. Ia tak tahu bagaimana menemukan hal-hal yang membuatnya bahagia kembali. Ia masih jatuh di dalam jurang nestapa gulita. Tak ada uluran tangan terlihat. Untuk bertemu dengan separuh hatinya yang pernah ia beri kepada seseorang saja ia tak mampu. Luka lalu meninggalkan murka. Sedalam itu ternyata gores yang tercipta. Ingin ia menghapusnya tapi malam selalu mengingatkannya. Bahkan tak jarang ada hujan tiba dengan derasnya membasuh perih yang semakin menganga.

Selasa, 10 Januari 2017, dini hari yang membangunkan seluruh derita.

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Sebuah Apresiasi

Di dalam sebuah keheningan aku terpikat kepada malam. Menyanjung seseorang yang tak pernah lelah menemani segala kelam. Setiap nada suaranya mengakar dalam kepala. Senyum demi senyuman menyatu menjadi keping menutup mata. Ia tumbuh menjadi rindu berkepanjangan. Curangnya, ia tak pernah berkurang. Pertemuan sekarang dan esok meninggalkan rasa tiada ujung. Tak mampu terdeskripsikan. Hanya tawa yang terekam. Sesekali tangis, namun semua terselesaikan. Bersamanya aku memaknai kebersamaan. Aku menghargai segalanya. Malam ini ribuan kenangan berjatuhan. Aku membisu. Menatap foto yang terakhir hampir satu bulan lalu kita bertemu. Di antara perjalanan itu aku ingat betapa berharganya pertemuan. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, tak ada lelah mataku memandangmu. Semua orang tahu itu. Bersama tulisan ini aku apresiasikan betapa rindu ini berkecamuk. Suaramu yang kudengar berusan di telpon terasa syahdu dan sendu. Sambil membayangkan kita sedang bersama, aku bertanya apakah jarak ini ...