Skip to main content

Ruang Penuh Cerita

Kalau tadi dan kemarin aku cuma upload foto-foto murid, sekarang aku mau upload foto-foto teman-teman keceku (tapi survei membuktikan bahwa akulah yang paling kece) ketika kami di ruang PPL. Ruangan ini adalah tempat kami berkeluh kesah. Selesai ngajar, badmood gara-gara kelas rame, curhat di sini. Sebelum ngajar, belajar materi apa yang mau disampaikan ya di sini. Jenuh akan pelajaran yang diutarakan lewat musik pun di sini.
Jadi di ruangan ini ada sebuah gitar yang setia menemani perjalanan kami selama di SMA 2 Semarang. Galau, metal, reggae sampai dangdut selalu menghiasi langkah dan tawa kami. Kayaknya ini ga lengkap deh. Ini foto yang aku ambil Jumat tadi. Mungkin lain kali aku bisa upload wajah kece kami lagi. Pertama, lihat yang ini dulu ya : )

Yang ini namanya Pak Fafa. Beliau adalah koordinator kami. Beliau mengajar geografi.

Yang ini Ibu Nina. Tapi yang di belakang itu namanya Ibu Chusnul. Sekilas mereka kembar ya ^^

Nah ini nih Bu Chusnul. Hobinya nonton film. Jadi kalau mau film apa tinggal minta ke beliau.

Perkenalkan ini Pak Denver, guru TIK (yang terbuang).

Bu Nina serius amat. Laptopnya kasihan bu.

Ini Bu Resi. Karena dia ga bisa ngomong R jadi kami manggilnya Bu Lesi. Bu Lesi ini guru ekonomi lho!

Wuisss ini dia guru PPL teladan kita, Ibu Adhita! Bagaimana tidak, dia punya slogan "Tiada Hari Tanpa Mengajar". Satu-satunya guru PPL bersertifikasi menurut kami. Bagaimana tidak, dia sudah mengajar sebanyak 27 jam tiap minggunya. Bagus! Lanjutkan nak!!

Ini Olip. Dia sama sepertiku, harus terjebak dalam dilema bahasa Perancis.

Kalau yang ini namanya Nafila. Dia PPL fisika. Dia asli Jepara lho, sama sepertiku.


Wuiss Pak Tutur, guru olahraga yang padat waktunya.

Bu Nina dan Bu Indah, narsis dulu sebelum ngajar ^^

Siapa ini?


Mawarnya bagus ^^

Inilah gitaris PPL SMA 2 Semarang.
Hahaha ternyata begini ya tingkah bapak ibu guru saat tidak di kelas. Bagaimana? Apa ada yang menganggap kami seram?

Comments

Popular posts from this blog

KATA-KATA JRX SID

Kali ini Prima akan mengutip kata demi kata yang pernah dipermainkan oleh sang penggebuk drum di band perompak, Superman Is Dead. Kata-kata JRX SID Buat yg suka mlesetin 'ormas' dgn 'omas'. Sumpah joke kalian ga lucu. Dibayar pun ga akan ada yg ketawa. Adu petarung terbaik yg dimiliki rakyat dgn petarung terbaik milik ormas. Pakai cara purba ketika berurusan dgn manusia purba. Banyak yg setuju: duel adalah cara efektif mengusir ormas dari RI. Saya juga yakin, ormas akan menolak cara itu dgn sejuta alasan. Susah debat sama ormas. Mending ajak duel satu-satu, yang kalah keluar dari Indonesia. Cuma itu bahasa yg mereka mengerti. Kalian yg koar2 menuduh SID menjual fashion ketimbang musik, saya tanya balik, CD SID kalian apakah original? Band bukan parpol. Kalau parpol senang kaos nya di dibajak, band (yg ga berpikir spt parpol) akan kesal jika kaos nya dibajak. Baru saja mengalami pengalaman yg cukup sinematik: mengendarai ombak di bawah hujan lebat. It was fuk...

Semester Dua Digit

Tidak ada yang abadi. Kupikir itu salah. Setiap kenangan dapat diabadikan dengan berbagai cara. Walaupun di waktu tua nanti kita sudah tak bisa mengingat tentang apa itu, akan ada saatnya foto berbicara. Salah satu cara membingkai kenangan adalah dengan foto. Abadi. Satu foto bisa menyimpan banyak memori. Tawa, canda, tangis, haru, semuanya. Semester Dua Digit. Judul itu sudah lama terngiang di kepalaku. Apakah aku menunggu judul itu tertulis di salah satu file laptopku? Kok rasanya aku menantikan tingkat semester tua itu. Angkatan 2010, semester 10, semoga kami bisa lulus tahun 2015 ini di bulan 10. Aamiin. Entah sudah berapa banyak cerita yang menunggu diceritakan kelak. Halaman blog ini terlalu lemah untuk menampung gema ceritanya. Selalu, ada yang terbaik di antara segala hal. Tidak pasti yang terbaik hanya satu, tapi bisa lebih dari satu. Jika semua hal bisa menjadi yang terbaik, kenapa tidak? Ini cerita kami. Selamat menikmati kebersamaan kami. Kebersamaan se...

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...