Skip to main content

Posts

Kita, Kenangan, dan Semua yang Berulang

Bermimpi tentangmu adalah sebuah kehormatan. Kau tahu betapa kita berdua telah terpisah keadaan. Hingga kini kita dipertemukan. Tentu dengan sebuah perbedaan. Yang mana kita sama-sama tumbuh dewasa ditantang kenyataan. Ini bukan hal yang sebenarnya kuinginkan. Di saat aku tidak memikirkan apapun, semesta punya cara sendiri dengan penuh keyakinan. Malam itu sungguh hal yang tidak kubayangkan. Setelah berbagai duka tersimpan, apakah kita akan mengulangi kenangan? Berbagai tanda tanya menghantui pikiran. Bisakah kali ini kita bertahan? Siapkah hati kita menghadapi rumitnya tantangan? Dapatkah semesta kembali menyatukan kepingan berantakan? Bimbang memilih iya, namun mengucap tidak pun kita enggan. Berbagai asumsi kita perhitungkan. Kita sama-sama merasakan. Disaksikan malam panjang, dua manusia saling menatap penuh harapan. Gemerlap bintang di angkasa menari kegirangan. Percayalah, cinta akan membawa kita pada kemenangan.
Recent posts

Seberkas Doa di Ujung Malam

Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...

Sebuah Apresiasi

Di dalam sebuah keheningan aku terpikat kepada malam. Menyanjung seseorang yang tak pernah lelah menemani segala kelam. Setiap nada suaranya mengakar dalam kepala. Senyum demi senyuman menyatu menjadi keping menutup mata. Ia tumbuh menjadi rindu berkepanjangan. Curangnya, ia tak pernah berkurang. Pertemuan sekarang dan esok meninggalkan rasa tiada ujung. Tak mampu terdeskripsikan. Hanya tawa yang terekam. Sesekali tangis, namun semua terselesaikan. Bersamanya aku memaknai kebersamaan. Aku menghargai segalanya. Malam ini ribuan kenangan berjatuhan. Aku membisu. Menatap foto yang terakhir hampir satu bulan lalu kita bertemu. Di antara perjalanan itu aku ingat betapa berharganya pertemuan. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, tak ada lelah mataku memandangmu. Semua orang tahu itu. Bersama tulisan ini aku apresiasikan betapa rindu ini berkecamuk. Suaramu yang kudengar berusan di telpon terasa syahdu dan sendu. Sambil membayangkan kita sedang bersama, aku bertanya apakah jarak ini ...

Rindu Pagi Buta

Biar kuabadikan gumpalan rindu dalam peluh membiru. Tersapu kelabu aku mengembara tak tentu. Tersesat aku di kemudian waktu. Namun, aku tahu. Sesat ini sengaja kulakukan selama ada di hatimu. Seseorang terlihat ketika ia sedang jatuh cinta. Katanya. Begitu pandang mereka. Benar adanya, aku telah jatuh oleh pesona cinta di dunia. Bahkan aku mengiyakan bila duniaku sekarang berganti menjadi sesosok manusia. Bukan malaikat yang diidamkan banyak mata. Melainkan manusia, tak bersayap, seperti pada umumnya. Namun, bersamanya hidupku terasa lebih bahagia.

Candu

P agi ini aku ingin menuliskan beberapa ungkapan kepadamu. Mungkin kamu akan bosan mendengarnya, tapi tidak apa-apa. Barangkali suatu hari nanti aku berhenti, ketahuilah bahwa kamu tetaplah yang terindah. Aku suka setiap kali kita berbicara lewat telpon. Berjam-jam terlewati dengan cepat. Suaramu berhasil membuat musik sendiri dalam kepalaku. Hingga menjadi candu. Bagaimana cara kamu tertawa pun membekas lama di ingatan. Benar, candu itu bernama kamu.

Menemui Arti

Seperti seekor hamster, aku berlari di atas roda putar. Meski rasanya lelah, nyatanya aku tidak berpindah tempat. Hanya menghabiskan waktu dan tenaga yang sia-sia. Semakin kencang aku berlari, semakin tak terarah apa yang kuingini. Di saat aku ingin berhenti, dunia sama sekali tak menunjukkan kabar baik. Hari-hariku terkesan biasa saja. Tidak hujan, tidak cerah. Biasa saja. Terlalu biasa. Tanpa sisa. Seketika aku sedang menepi tanpa mencari, kau datang tanpa permisi. Kehadiranmu sungguh terasa pas walaupun bukan itu yang aku cari saat ini. Apakah mungkin justru ketidaksengajaan inilah yang membuat jalan kita begitu serasi?

Jagung dan Coklat

Bulan ini, tepatnya tanggal delapan, usia bertambah satu angka. Tidak ada yang istimewa, hari-hari berjalan seperti biasa. Ingin sekali menceritakan bagaimana saya memaknai momen bertambahnya usia dari tahun ke tahun. Segalanya berubah. Dalam perubahan itu, sosok saya menjelma manusia dewasa dengan segala keping drama.  Ada beberapa perbedaan perayaan bertambahnya usia dari tahun ke tahun. Dulu berbagai jenis kado atau kue menghiasi pagi. Penuh keramaian dan keceriaan. Peringatan hari lahir adalah satu dari sekian banyak hari paling menyenangkan, bahkan harus jadi yang teristimewa setiap tahun. Saya rasa, hari itu adalah hari di mana saya dapat tersenyum dengan amat lebar. Paling lebar.  Lalu, apa bedanya dengan sekarang? Saya ingin menikmatinya sendiri. Benar-benar sendirian. Hanya menghabiskan waktu dengan diri sendiri. Berbicara dengan diri sendiri. Apa yang selama ini dirasakan, dinginkan, dan dilakukan. Semasa hidup, adakah yang dapat dibanggakan? Jangan-jangan ada penyes...