Bermimpi tentangmu adalah sebuah kehormatan. Kau tahu betapa kita berdua telah terpisah keadaan. Hingga kini kita dipertemukan. Tentu dengan sebuah perbedaan. Yang mana kita sama-sama tumbuh dewasa ditantang kenyataan. Ini bukan hal yang sebenarnya kuinginkan. Di saat aku tidak memikirkan apapun, semesta punya cara sendiri dengan penuh keyakinan. Malam itu sungguh hal yang tidak kubayangkan. Setelah berbagai duka tersimpan, apakah kita akan mengulangi kenangan? Berbagai tanda tanya menghantui pikiran. Bisakah kali ini kita bertahan? Siapkah hati kita menghadapi rumitnya tantangan? Dapatkah semesta kembali menyatukan kepingan berantakan? Bimbang memilih iya, namun mengucap tidak pun kita enggan. Berbagai asumsi kita perhitungkan. Kita sama-sama merasakan. Disaksikan malam panjang, dua manusia saling menatap penuh harapan. Gemerlap bintang di angkasa menari kegirangan. Percayalah, cinta akan membawa kita pada kemenangan.
Hai, semoga kebaikan menghampiri selalu. Lama kita tidak bertemu. Sungguh aku menantikan pertemuan itu. Pernyataan rindumu yang selalu menggema di ujung senjaku. Menemani perjalanan pulang usai bergelut dengan peluh. Duniaku turut menyambut. Tahukah kamu, malam ini aku menulis ini ditemani lagu-lagu orkestra klasik dan segelas kopi hitam dengan takaran tiga banding satu. Tentu kucing hitam manjaku berada tepat di depanku. Sepertinya ia tahu, kawannya ini sedang dirundung rindu. Lihatlah, lidahnya lihai menjilati tubuh berbulu itu. Manjanya semakin menjadi ketika kuusap bagian bawah dagu. Ngomong-ngomong, hidungnya mirip sepertimu. Bolehkan aku menyamakanmu dengan kucing? Bibirnya yang keluar banyak bunyi. Hidungnya kembang-kempis menghisap nyawa bumi. Bola mata lucu membuat detak jantung memburu. Tingkah menggemaskan menumbuhkan candu. Tak ingin lepas, ia datang duduk di pangku. Hai kamu, beristirahatlah. Tidur yang lelap. Lekas membaik dan pulih segera. Menghilanglah sakit yang dideri...