2013/02/18

Just Alone



                Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk umat-Nya. Begitulah aku memotivasi diriku sendiri. Di dalam neraka yang aku sebut kehampaan aku tetap melangkah, berharap ada cahaya terang datang menyilaukan sekitarku. Entah kenapa aku merasa dunia ini begitu gelap. Beruntung aku masih bisa melihat iri teman-temanku yang menikmati dunia mereka yang sepertinya menyenangkan jika kulihat. Aku seperti burung kesepian dalam penjara sangkarnya. Bagai sebatang mawar merah yang tumbuh di tepi jurang. Bagaimana pula aku bisa terlahir dengan anggapan seperti ini, tiada yang tahu.
                Perjalanan ini aku lanjutkan menuju sebuah padang rumput dimana terdapat kesejukkan tiada tara, lebih sejuk daripada keindahan alur pangung kehidupan teman-temanku, kupikir. Kutegapkan langkahku agar aku bisa melihat jelas matahari. Aku rasakan desiran angin sepoi-sepoi lembut mulai membelai wajahku dan menerbangkan perlahan rambutku. Kupejamkan mata dan merasakan betapa nikmatnya surga yang aku buat sendiri itu. Nafasku berat. Kulengkungkan bibirku beberapa derajat sehingga membuat apa yang sering orang kata itu adalah sebuah senyuman. Baru kali ini aku bisa tersenyum, baik pada orang lain atau pada diri sendiri. Sudah aku sadari bahwa aku memang makhluk kesepian.
                Aku tetap berusaha tegar, tentu saja dengan berpura-pura. Sempat aku berpikir bahwa kepura-puraan ini hanya akan membuatku semakin sakit. Benar adanya, aku mulai sakit dan tersiksa. Namun aku yakin, dunia akan tersenyum melihat kepura-puraanku ini. Dunia memang tidak tahu apa yang aku rasakan dengan pasti. Aku pun tak inginkan hal itu. Biarlah ini menjadi duniaku dengan akulah tokoh utamanya. Di sini aku adalah raja. Raja yang kesepian, mungkin.
                Jauh di lubuk hati yang paling dalam aku ingin mengenal dunia luar yang sepertinya menyenangkan. Aku ingin dikenal banyak orang. Aku ingin membuat duniaku yang sempurna dengan berbagai hiasan yang ada di dalamnya, mulai dari cinta, teman, sahabat, bahkan luka. Keirianku inilah yang membuatku semakin terpuruk. Aku tidak tahu bagaimana caranya untukku melangkah dengan berani menuju kenyataan. Aku terlalu takut. Takut kalah, takut gagal, takut bermimpi. Hanya air mata dan kebencian yang menemani malamku. Aku tak punya siang, yang aku punya hanyalah malam. Gelap, tapi indah untuk orang yang bisa menikmatinya.
Aku mulai bertanya dalam hati, kapan aku bisa mengakhiri rasa senduku yang berlebihan ini? Kapan pula aku berani berteriak lantang melawan dunia? Kapan aku bisa menumpahkan segala amarah dan emosi jiwa kepada dunia? Kapan aku bisa menjadi seperti teman-temanku?
Lama aku menantikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku kecuali diriku sendiri. Perlahan tapi pasti aku mulai menyadarkan diri dari lamunanku yang berkepanjangan. Aku mulai bangkit dari neraka yang telah aku buat sendiri, berdinding ketakutan semu. Inilah aku.. kebangkitan !!!

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille