2014/12/25

MAPRAKHIR (Mahasiswa Perancis Tingkat Akhir)

Mahasiswa akhir yang mengutamakan skripsi di atas segalanya, apa itu aku? Tentu saja bukan. Aku tak sebegitunya dalam mengerjakan skripsi. Terkadang mengerjakan skripsi memang harus sendiri, tapi kau tetap butuh sosialisasi.
Udah banyak teman sebayaku sidang dan wisuda, tapi dari jurusan lain. Yang dari jurusan, eh prodi sendiri mah jangan ditanya. Selama periode wisuda tahun 2014, belum ada angkatanku yang memakai toga. Sidang perdana aja kemarin bulan Oktober. Yang kedua kemarin November. Dan jika ditanya kenapa anak Perancis lulusnya lama, aku juga nggak tahu jawabannya. Itu masih menjadi misteri, walaupun sudah ada beberapa hipotesis.
Dosen perfectionist menjadi salah satu momok di prodiku. Sebenernya semua dosen juga pengen sesuatu yang perfect dari mahasiswanya, tapi entah dosenku keterlaluan, semua mahasiswanya gak ada yang bisa mengerti apa mau mereka. Selain terkenal perfectionist, dosenku juga terkenal saklek atau kaku. Sekali ini ya ini. Sekali itu ya gak mau yang lain. Itu berdasarkan obrolan gak penting antara aku dan teman-temanku.
Suatu momen yang menegangkan ketika bimbingan instrumen.
“Ini sudah mencakup tindak tutur belum Prima? Terus ini juga di kurikulum 2013, kompetensi mana yang kamu ambil?” itu kata dosbingku.
Beruntung aku punya wajah malaikat, jadi aku bisa memasang wajah polos sok cantik di depan dosbing. (Ampun Madame ^^)
Karena bilik dosbingku ada di depan pintu ruang dosen, ada temanku, anak Jepang lewat. Ia mendengar beberapa pembantaian yang berlangsung kurang lebih selama 30 menit itu.
“Prim, kamu tadi bimbingan apa?” tanya temenku yang tadi sempat mendengar prosesi pembantaian.
“Instrumen.” Jawabku singkat.
“Kok segitunya ya?”
“Maksudnya?”
“Kok gitu banget! Detil banget! Aku aja kalau bimbingan gak pernah kayak gitu.”
Aku hanya tersenyum tanpa makna.
Aku tidak bisa menyebut karakter dosenku yang detil macam itu. Mungkin karena aku (dan teman-temanku) terbiasa dengan sifat dosen, jadi ngerasanya biasa aja. Sedetil-detil mereka, pasti ada celah untuk mengalahkan mereka.
Kembali ke kenapa mahasiswa Perancis lulusnya lama, sebab yang kedua adalah dosen yang sedikit. Oya, aku nyebutin sebab demi sebab di sini secara acak. Tidak ada pengaruh prosentase tertinggi di setiap urutannya.
Ehm, dosen yang sedikit. Di antara sedikitnya dosen, masih ada di antara mereka yang melanjutkan studi. Ya, itu urusan mereka sih, tapi mau gak mau itu juga jadi urusan kita sebagai mahasiswa bimbingannya. Takut. Takut kalau mereka gak ada waktu buat kita.
Hah, izinkan aku mengambil nafas sebentar sambil merenungi nasib sebagai mahasiswa bahasa Perancis. Masuk gampang, keluar susah. Mau gimana lagi, aku udah di sini. Aku udah berjalan sejauh ini. Masa aku harus mundur lagi? Nggak lah! Aku harus tetap berjalan maju. Apapun yang terjadi, entah pintu di depanku tertutup atau terbuka, aku harus berani mengetuknya. Walaupun di balik pintu itu jurang atau jalan yang masih panjang, aku harus berani membukanya. Karena mungkin dengan terjatuh ke dala jurang, aku dan teman-temanku bisa tahu bagaimana menjadi seorang sarjana pendidikan yang bertanggung jawab.
Sudah merenungnya, lanjut ke tulisan ini.
Tadi aku udah nyebutin 2 faktor kenapa mahasiswa Perancis lulusnya lama. Mungkin masih ada beberapa fator lain yang luput dari ingatanku. Yang pasti, kalau ditanya kenapa lulus lama, aku gak tahu jawabannya. Aku tidak berani menyimpulkan penyebabnya, karena penyebabnya tidak hanya dari faktor eksternal tapi juga internal, malas misalnya.
Yang namanya skripsi emang ujian mental. Kadang ada dosen yang pengen menguji mental mahasiswanya. Kalau mahasiswa itu lelah, gak kuat dengan pembantaian dosen, apa jadinya dia nanti? Baru dibantai dosbing aja udah mlempem, gimana mau ngadepin dunia kerja? Mahasiswa kok mental krupuk. Kena air langsung mlempem.
Kalau emang dibantai sama dosen, atau coretan revisi yang hampir menuhin kertas skripsi, anggap aja itu bumbu. Ya, bumbu buat kita bertanggungjawab kalau udah jadi sarjana nanti. Bumbu biar kita bisa menjadi tenaga pendidik yang baik nantinya.
Ada saatnya ngerjain skripsi itu galau. Galau karena dosbing susah ditemui. Galau karena revisi yang gak ada habisnya. Galau karena ngerjain 1 bab aja sampai berbulan-bulan dan sebagainya. Siapapun pasti pernah galau karena skripsi. Itu mah risiko.
Mending digunain buat ngumpul bareng temen-temen. Selain bisa update info baru, kamu juga bisa menghilangkan stres skripsi dengan curhat ke temen-temen. Nongkrong di kafe menjadi pilihan.
Gak punya duit? Duit habis buat nge-print revisi? Cuma karena itu kamu khawatir? Hei bro, lo tuh gak bakalan mati kelaparan selama lo masih punya temen! Kalau lo emang sampai mati kelaparan, berarti lo gak punya temen.
Udah ah, tulisan absurd ini gue buat tanpa kesadaran penuh. Bangun tidur, shatal subuh (rajin kan gue), buka laptop niatnya mau ngerjain skripsi tapi tangan ini tergoda untuk menyentuh yang lain, jadi gue bikin aja tulisan ini. Buat kalian yang kebetulan mampir dan baca tulisan ini, jangan tanya-tanya lagi kenapa anak Perancis lulusnya lama. Lo gak bakalan ngerti perasaan mereka sebelum lo sendiri masuk ke prodi ini. Anggap aja semua baik-baik aja.
Satu lagi, buat lo lo pada yang lagi attack on skripsi, jangan pernah nyerah guys. Dosbing itu Cuma nguji mental kalian. Kalau kalian teguh nunggu dosbing, tiap hari ngampus, gak peduli nanti ditolak dosbing, itu lo yang butuh. Kalau lo udah butuh, matiin aja rasa takut lo ke dosbing. Jangan takut dibantai. Semua ada waktunya bro.
Jangan lupa juga banyak berdoa. Percuma lo ngebut tapi gak pernah berdoa ke Tuhan. Jangan Cuma ngarepin dosbing. Emang dosbing itu siapa? Tuhan yang buat jalan buat kita. Kita yang minta jalan itu. Tuhan pasti menyimpan sesuatu yang indah buat kita. Tuhan juga pasti masih menyimpan toga impian kita di belakang tubuh kita. Sayang, kita gak menyadarinya. Kita udah dibutakan oleh susahnya masa revisi.

Oke guys, semangat skripsi! Semoga kita lulus menjadi sarjana yang berkualitas. Tuhan mendengar doa kita.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille