Tidak apa-apa.
Kita dipertemukan untuk kesekian kalinya bukan tanpa alasan. Aku percaya itu. Entah karena pelajaran atau karma. Terlepas dari senang, sedih, kecewa, dan berbagai perasaan lain, sekalipun aku tidak menyesalinya. Tidak ada gunanya menyesal. Hanya kadang semua terasa lucu ketika otak mulai secara acak mengingatnya.
Tidak apa-apa jika mempertanyakan.
Kau tahu aku lebih suka sendirian, yang mana dulu kau anggap aneh. Kita beradu argumen saling melempar tanya kenapa sambil sesekali cekikikan. Di dalam momen sendiri itulah pikiranku berisik. Bukan berlebihan dalam berpikir, hanya perbincangan kecil tentang isi kepala. Tentu topiknya macam-macam. Awan, laut, langit, abang penjual bakso, kadang kau muncul.
Tidak apa-apa jika mempertanyakan tentang kita.
Salah satu hal yang membuatku tertarik mempelajari manusia adalah bagaimana mereka membangun hubungan dengan manusia lain. Kita.
Kita berdua bertemu dan saling mempertemukan. Meski berujung perpisahan. Begitu semesta berjalan biasa, keadaan mempertemukan kita kembali. Dengan bertarung idealis, kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Pulang ke jalan masing-masing menjadi pilihan. Hingga aku lupa berapa kali kita seperti ini. Apa maksud semua ini?
Setelah berpisah kesekian kali, akankah kita kembali? Jika iya, kenapa? Sedalam itukah? Apa yang belum selesai di antara kita? Kenapa kita harus berpisah jika tidak bisa saling melepas? Ego mana yang ingin dimenangkan? Tidakkah kau lelah?
Setelah berpisah kesekian kali, akankah kita kembali? Jika tidak, tidak apa-apa. Mari kita tumbuh. Di kemudian hari, apabila ada kesulitan menghampiri, mungkin karena ada kata maaf yang mahal terucap dan belum terelakan. Barangkali ikatan kita belum selesai, akan ada waktu dunia memanggil kita dalam keadaan yang jauh lebih baik dan dewasa.
Setelah berpisah kesekian kali, akankah kita kembali? Kita lihat nanti.

Comments
Post a Comment