2013/05/16

Logika dan Perasaan



Sebuah rasa yang pernah aku alami ketika pertama kali aku mengenalmu. Biasa saja, memang. Tak ada tanda-tanda bahwa kita akan menjalani ikatan ini. Sungguh aku merasa inilah hidup sebenarnya. Ketika jalan tak bisa dibaca dan sang waktu mulai mempermainkan hati seorang manusia. Apakah itu juga yang kau rasakan?
Aku tak bisa berkata apa lagi. Semua sudah jelas terbukti. Semua sudah ada di ambang mata. Seperti angin dan awan. Angin selalu mencoba menerbangkan awan semaunya tanpa peduli apakah awan mau atau tidak. Kejam pula jika dipikir kepada langit. Dia hanya bisa berdiam diri melihat panorama menyedihkan itu.
Sudahlah, jangan bicara tentang perasaan lagi. Perasaan manusia berhubungan dengan hati. Hati manusia berbeda dengan logika yang dimilikinya. Walaupun perasaan dan logika harus berjalan beriringan, namun mereka sulit sekali untuk bersatu. Mungkin karena perasaan bersifat lemah dan logika bersifat keras layaknya batu.
Perasaan seorang manusia bisa berubah sewaktu-waktu. Hati manusia adalah tempat paling mudah disentuh oleh apapun itu. Manusia yang bisa menyentuh hati manusia lain adalah manusia yang telah ditakdirkan pertemuannya oleh Yang Maha Kuasa. Pertanyaannya adalah, apakah ketika takdir itu berjalan, mungkinkah para manusia yang lain bisa mengubah takdir itu? Jawabannya mudah, tantu saja bergantung pada tingkat rasa percaya yang dimiliki manusia itu sendiri. Mudah kan? Walau susah dijalani.
Bagaimana dengan logika? Katanya dia bersifat keras seperti batu. Memang benar. Anggap logika adalah satu bagian tubuh manusia yang tidak bisa terjamah apapun. Lihat pula bahwa manusia sering menggunakan logika untuk melihat dan menganalisis kenyataan. Karena logika sering digunakan untuk segala hal yang berhubungan dengan kenyataan, itu membuat mainset manusia tentang logika menjadi keras. Bukankah pemikiran itu sudah terbukti?
Logika dan perasaan, dua hal yang berbeda namun sangat dekat dengan takdir. Banyak pula yang beranggapan bahwa logika sering digunakan oleh laki-laki, sedangkan perasaan sering digunakan oleh perempuan. Walaupun tak etis sepertinya jika menyebut seperti itu, kenyataannya memang benar.
Kebanyakan perempuan menggunakan perasaan mereka untuk melihat kenyataan. Itulah mengapa mereka mudah terbawa arus. Parahnya, ketika melihat kenyataan berbeda dengan apa yang dipikirkannya tadi, itu akan membuatnya kecewa berat.
Bagaimana dengan laki-laki? Logikalah yang digunakan oleh kebanyakan laki-laki. Itulah mengapa laki-laki dipandang lebih bisa memiliki naluri seorang pemimpin. Ada kelebihan ada pula kelemahan. Kelemahan ketika menggunakan logika adalah manusia terlihat keras kepala. Dia terkesan tidak peduli dengan orang lain.
Sekali lagi logika dan perasaan adalah dua hal yang berbeda namun sangat dekat dengan takdir. Sebagai seorang manusia, sudah selayaknya bisa memanage keduanya. Manusia harus bisa menentukan kapan akan menggunakan perasaan dan kapan pula akan menggunakan logika. Bukan berarti lebih mementingkan salah satu, tapi manusia harus bisa menyeimbangkan keberaadaan mlogika dan perasaan yang ada dalam dirinya.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille