2013/12/29

Cinta dan Matahari

Cinta datang seperti matahari. Pasti ada celah untuk membacanya. Tapi kedatangan matahari tak selamanya bisa dibaca. Terkadang ada mendung yang sengaja menutupinya. Seperti hati manusia, ketika dia sedang jatuh cinta, ada suatu hal yang berusaha menutupi perasaannya. Saat seseorang mulai merasakan jatuh cinta, pasti akan ada “mendung” dalam hatinya. Mendung itulah yang menutupi perasaannya.

Cinta akhirnya memberontak. Sekuat apapun mendung, kekuatan cintalah yang akan menang. Begitu kalimat aku dengar di dongeng. Yah, hidup ini bukan dongeng. Hidup ini adalah kenyataan yang harus dihadapi, bukan dihindari. Saat manusia menyadari kehadiran mendung, dia akan merasakan kebimbangan (kata anak muda sekarang galau). Bimbang apakah dia bisa menembus mendung atau tidak. Jika iya, dia akan bersama sang cinta. Tapi jika tidak, cinta tidak akan diraihnya. Pada akhirnya manusia itu hanya terjebak dalam pepatah cinta tak terbalas.

Ini hanya sebuah perumpamaan. Tidak banyak yang membenarkan, tidak banyak juga yang menyalahkan. Cinta adalah cinta. Cinta itu terlalu umum untuk dibahas. Apakah kasih antara sekelompok sahabat bisa dinamakan cinta? Tentu bisa. Cinta bisa datang dimana saja, kapan saja, dan bagaimana saja. Jika ada manusia mengaku dirinya hidup tanpa cinta, itu salah. Salah besar! Manusia yang tidak bersyukur akan berkata seperti itu.

Cinta, matahari, apakah matahari pasti selalu bersinar? Kapan dia akan berhenti bersinar? Malam? Ya, di malam hari matahari tidak menampakkan diri. Tapi dia masih tetap bersinar. Begitulah cinta, tidak tampak tapi selalu ada.

Selamat mencintai apa yang kau cintai... J


@primajinasi

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille