2015/02/18

Cinta Sendirian

Setiap kali mendengar suaramu, jantung ini berdetak kencang. Nafasku menjadi sesak. Seperti ada gema di dalam sini yang membuat tubuhku membeku. Nafasku memburu tak teratur. Kukedipkan mataku berulang kali agar aku tersadar dari buaian ini. Tapi hatiku berkata lain. Hatiku menginginkannya. Ia menginginkan waktu-waktu seperti ini.

Bagaimana ketika aku melihatmu? Membayangkannya saja aku tak sanggup. Aku takut akan kehadiranmu. Sebuah ketakutan yang aku inginkan. Ketakutan yang menyiksa, tapi entah kenapa aku merindukan siksaan itu.

Aku tak bisa mengerti apa yang terjadi. Semua yang aku katakan selalu berkebalikan dengan apa yang aku inginkan. Aku tidak ingin menemuimu, tapi sejujurnya aku ingin bertemu denganmu, walaupun hanya melihatmu dari kejauhan. Aku membencimu, sungguh. Aku membencimu karena olehmu aku tak bisa melakukan yang semestinya.

Ketika aku teringat akan engkau, pikiran ini tak bisa jernih. Ada sesuatu yang menutupi pandangan mataku. Ada yang membutakan aku. Dan aku menikmatinya.

Apakah kau punya ilmu sihir? Jika iya, ajarilah aku. Ajarilah aku menyihirmu agar engkau tahu bagaimana sakitnya menjadi diriku. Kau tak tahu betapa sakitnya memendam rindu, sendirian? Tahukah kau betapa sakitnya aku ketika aku hanya bisa menikmati senyummu dari kejauhan? Tak bisakah kau bayangkan itu untukku?

Engkau, sungguh aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak tahu bagaimana memulai. Di sini seperti ada tradisi untuk menahan perasaan. Sakit.


Tapi biarlah hanya aku yang merasakan. Janganlah engkau kesakitan karena perasaan semacam ini. Biarlah aku saja yang merasakannya. Dengan begitu, aku sadar, betapa berartinya kata mencintai, meski tak terbalas. Ya, hanya aku yang jatuh cinta.


0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille