2015/08/27

Hati yang Menunggu

Ketika cinta datang tanpa permisi, ketika satu senyuman dibalas dengan senyuman lain, mendatangkan sebuah makna. Rindu tiba usai mata terbalas tatapannya. Begitulah hati mulai merasakan arti kebersamaan.

Hati mulai menginginkan bertemu, bercerita tentang kehidupan masing-masing, tentang apa yang disukai dan dibenci, tentang luka dan bahagia. Masa lalu terkadang menjadi topik yang tak mengenakkan. Ketika bercerita tentang luka yang mungkin masih menganga. Entah hati bisa menjadi obatnya atau justru akan membuat luka itu semakin terbuka. Hingga mati menghampiri hatinya.

Sampai malam tiba, bayangan tentang dirinya semakin jelas muncul di depan mata. Ingin mengusiknya, namun mata tak sanggup kehilangannya. Hati mulai jujur pada tuannya. Ia merindunya. Atau cinta.

‘Selamat pagi’, ‘Selamat siang’, ‘Selamat malam’, sapaan setiap ingin memulai. Walau tak tahu apa lagi yang harus diceritakan, seolah mulut tak mau berhenti bercakap, dan tangan tak henti mengetik pesan untuknya. Mulailah saling berkirim kabar.

Sudah makan, keadaan di kelas, dosen atau guru yang membosankan, teman-teman kelas yang usil, semua menjadi hal tidak penting yang berarti. Mulailah saling tahu dan mencoba membaca hati masing-masing. Apakah ada rasa yang sama? Sudahkah benih itu tumbuh? Lalu kapan waktu yang tepat untuk mengungkapkan? Adakah?

Waktu, satu hal yang menyimpan banyak rahasia. Satu yang tahu jawaban segala pertanyaan. Benar, biar waktu yang menjawab. Biarkan hati ini bertanya-tanya.

Waktu berlalu. Ada dua hati yang sering menghabisakan waktu bersama. Mereka tertawa bersama. Ketika salah satu dari mereka menangis, hati lain akan menghapus air matanya. Ketika hati satu terluka, hati lain akan mengobatinya. Sudahkah mereka jatuh cinta?

Warna-warni terlihat indah menaungi dua hati itu. Seolah dunia hanya milik mereka, dua hati yang dilanda rindu. Hati yang tak ingin kehilangan satu momen kebersamaan. Dua hati yang mulai jatuh cinta. Dua hati yang menunggu waktu untuk saling mengungkapkan.

Tak selamanya menunggu itu menyenangkan. Ujian dan jawaban dari kedua hati yang saling menunggu.

Cinta memang butuh kepastian. Siapa pula yang ingin menjadi korban ketidakpastian sebuah hubungan. Walau sebenarnya makna cinta tidak sesempit itu. Cinta lebih luas dan lebih agung dari sekadar hubungan dua hati. Cinta adalah aksara agung.

Ada hati yang menunggu cintanya datang. Hati lain lagi menunggu ada cinta yang terungkapkan kepadanya. Apakah mereka akan dipertemukan? Mungkinkah menunggu menjadi pilihan? Ya, pilihan yang menyakitkan.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille