2015/09/02

Tanpa Tanda

Pernah aku katakan ‘aku mencintaimu’ di kala malam masih menggantungi atap dunia. Saat itu taburan kembang api menjelma warna-warni mengalahkan bintang. Kemerlapnya indah, seperti perasaanku yang sebentar lagi meledak. Bahkan bintang-bintang di langit itu terlihat lebih kecil daripada biasanya. Apa karena kembang api yang begitu dekat dengan kita? Atau karena mataku mulai buta oleh perasaan yang semakin tak menentu?

Malam tahun baru 2015 itu kuhabiskan dengannya. Sengaja kupilih tempat di atas bukit agar ia dan aku bisa melihat keheningan gemerlap kembang api. Di sinilah aku juga ingin mengatakan sesuatu padanya. Perasaan yang sudah lama mengendap dalam lubuh hati. Sakit yang tak tertahankan.

Waktu menunjukkan pukul 23.30. Lama sekali rasanya. Hal apa lagi yang harus kukatakan untuk membuka percakapan dengannya? Saat ini aku benar-benar tak mampu lagi berkata-kata.

Sejenak, sambil menikmati sepoi angin, kupandang pekat wajahnya. Rambutnya indah tersapu angin. Matanya sedikit berkedip akibat angin datang tanpa permisi. Terlukis senyum simpul di bibirnya. Seandainya aku adalah angin, aku adalah orang paling bahagia di dunia karena aku bisa dengan semauku membelainya. Bisa kurasakan elok parasnya.

“Ada apa?” tanyanya tiba-tiba.

Ilusiku tentangnya buyar. “Tidak.”

Aku kembali menatap ke depan. Otakku berputar keras tentang apa yang akan kukatakan nanti. Sepertinya kurasakan tanganku bergetar. Apa aku takut?

“Terima kasih ya.”

Hatiku tertusuk bertanya-tanya. Kenapa tiba-tiba ia berkata terima kasih? Apakah esok atau lusa ia akan meninggalkanku? Aku terus berpikir kemungkinan yang bisa saja terjadi. Aku belum siap kehilangannya. Perasaanku masih menginginkan jawaban.

“Malam ini aku senang sekali. Aku bisa menikmati kembang api yang lama tak kulihat. Biasanya malam tahun baru seperti ini aku di rumah, duduk menonton tv atau mungkin sudah tidur.”

Aku masih mencerna kalimatnya. Aku menebak-nebak apa lagi yang akan ia katakan.

“Kau tahu, sudah lama aku menginginkan hal seperti ini. Aku ingin seperti orang lain yang bisa dengan seenaknya menikmati malam pergantian tahun. Tapi aku tak bisa.”

Satu bulir bening menetes dari matanya. Aku melihatnya. Dari tadi aku masih menerka apa yang akan ia katakan. Kenapa ia menangis? Batinku tak menentu.

“Maaf, aku jadi menangis begini.”

Ia tersenyum sambil mengusap air matanya. Aku tahu senyuman itu pura-pura.

Aku ingin memeluknya. Aku ingin membuatnya tenang. Aku ingin menghapus air matanya. Aku ingin menyembuhkan luka yang ia rasakan. Aku ingin menjadi segalanya untuknya.

Usai mengusap air mata, tiba-tiba ia menyandarkan kepalanya padaku, tepat di bahuku. Andaikan ia tahu, bahu ini telah lama menunggunya untuk bersandar. Aku senang, tapi aku diam.

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Kubiarkan ia tenang. Kunikmati angin malam dengan pujaan hatiku.

23.59, tinggal beberapa hitungan detik lagi tahun akan berganti. Aku menghitung dalam hati seraya menghitung waktu untuk mengungkapkan perasaanku.

Nafasku memburu. Ada getaran kuat dari dalam diriku. Ketika jatuh cinta, tubuh seakan tak sanggup menahan gaung cinta dari dalam hati. Cinta begitu agung hingga mampu menyatukan dua hati yang berbeda.

3... 2... 1... kembang api dengan bebas menyala di langit malam. Gempita keriuhan malam tahun baru dapat kuibaratkan sebagai perasaan di dalam hatiku yang bercampur aduk. Cinta, malu, takut, entah apa lagi. Saat ini aku merasa menjadi seseorang yang berada di jurang hidup dan mati. Baiklah!

“Kau ingat beberapa bulan lalu saat pertama kita berkenalan? Kau tahu, itu adalah hari istimewa buatku. Kukira surga telah kehilangan satu bidadarinya. Beruntungnya aku, bidadari itu ada tepat di hadapanku.”

Sepertinya wajahku memerah. Kucoba memilah kata untuknya. Kali ini aku lebih berhati-hati.

“Pertemuan yang hanya sebentar itu membuahkan rindu berkepanjangan. Tak hentinya aku memikirkanmu. Semakin hari aku semakin merindukanmu. Aku ingin bersamamu.”

Aku berhenti sejenak, membiarkannya mencerna kalimat demi kalimat yang aku lontarkan.

“Rindu ini tumbuh tanpa seizin tuannya. Di dalam hati penuh rindu, ada cinta perlahan hadir. Saat kusadari cinta itu ada, aku menjadi orang paling pengecut di dunia. Aku takut kau diambil orang lain. Aku takut kau tak lagi ada di sampingku. Aku takut kau berpaling dariku. Aku takut hal-hal buruk menimpamu.”

“Aku mencintaimu. Apa kau mau menjadi bagian dari hati yang menginginkanmu ini?”

Mataku terpejam. Akhirnya aku sanggup mengatakannya.

Dingin angin malam semakin panas menusuk pori-poriku. Kembang api  masih berkelebat merajai langit. Ia masih bersandar di bahuku, tanpa kata.

Pikiranku melayang. Kenapa ia diam? Apa dia tidak mendengar kata-kataku? Apa dia menolakku?

Kuberanikan diri menoleh kepadanya. Matanya tertutup. Apa yang terjadi? Mungkin ia tidur. Kubiarkan ia merasa nyaman bersandar padaku.

Tangannya mengisyaratkan agar aku menggenggamnya. Mungkin ia kedinginan. Kupegang tangannya. Berharap ia lebih nyaman lagi.

Tangannya dingin. Perasaanku tak enak. Aku tak berani berpikir macam-macam.

Terpaksa kubangunkan dia dari tidurnya.

“Bangun! Bangun!” pintaku.

Ia tak bergeming. Bergerak sedikit pun tidak. Matanya masih belum membuka.

“Kau kenapa? Ayo bangun!”

Masih tak ada jawaban. Kulihat tangan kanannya menggenggam sesuatu, seperti kertas kecil.

“Terima kasih untuk malam ini dan malam-malam sebelumnya. Kau membuatku mengerti arti menunggu dan merindu. Saat kau membaca tulisan ini, mungkin aku sudah tidak ada lagi. Aku sudah pergi dari dunia ini. Aku pergi ke tempat dimana aku tak perlu menunggu waktu makan lagi agar kita bisa bersama. Di sana aku bisa melihatmu kapanpun aku mau. Aku bisa menemanimu kapanpun kau merindukanku. Ya jika kau merindukanku.

Terima kasih untuk tahun ini. Sungguh penghujung tahun yang indah bersamamu. Bersama cinta yang kupendam entah berapa lamanya.

Dari hati yang penuh rindu, aku untukmu. Aku mencintaimu.”

Waktu seakan berhenti. Gemuruh suara ledakan kembang api sama sekali tak terdengar. Mataku terpaku pada goresan pena di selembar kertas usang itu. Tanpa kusadari, di kertas itu perlahan muncul bulatan-bulatan air yang menetesinya. Air mataku.

Hatiku sakit, sangat sakit. Saat aku yakin aku mencintainya, ia pergi meninggalkanku untuk selamanya. Saat aku akan mengungkapkan isi hatiku, hanya dari coretan pena itu aku mampu menerka jawabannya.

Kenapa waktu begitu kejam untuk dua hati yang saling mencintai? Tidak bisakah ia tinggal lebih lama lagi? Bisakah Kau mengambil kami berdua agar tak ada salah satu di antara kami yang terluka?

Aku sendirian. Pedih mengingat luka tentangnya. Langit seakan tahu kesedihanku. Padanya muncul bayang wajahnya yang kurindukan. Ia tersenyum melambaikan tangan padaku. Ia, kekasih tanpa tanda cinta.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille