2014/04/07

Lolipop

Mimpi adalah sebuah cahaya yang akan selalu bersinar meski semua sumber cahaya meredup. Tidak ada yang bisa mengalahkan harapan dari sebuah mimpi. Seorang manusia mati tidak saat dia kehilangan nyawanya, melainkan saat dia kehilangan mimpinya.

Prima, seorang mahasiswa yang melabuhkan dunianya di bidang kependidikan. Mahasiswa yang dipenuhi dengan idealisme-idealisme bercermin kaum intelek. Wanita berperawakan kurus tinggi yang bersedia memaknai hidupnya di dalam mimpi. Mimpi yang tak pernah mati.

Layaknya seorang pujangga, Prima mengisi hari-harinya dengan coretan-coretan angan pada sebuah kertas harapannya. Berharap Tuhan membalas tulisan itu, Prima tak henti berkhayal tentang dunianya yang abadi. Namun semua itu hanya mimpi. Ya, hanya sebuah mimpi dari seorang anak berusia 20 tahun. Dewasa karbitan.

Pada sebuah kesempatan, Prima diundang seorang teman untuk berdiskusi perihal mimpi. Ardi, sapaan temannya itu. Ardi, seorang mahasiswa dari universitas yang sama dengan Prima, mencoba beradu idealisme tentang mimpi. Apakah mimpi akan membuat seseorang menjadi abadi? Ataukah mimpi hanya akan menjadi mimpi? Mimpi, jalan panjang, berliku dan menanjak yang harus didaki manusia.

“Apa mimpimu?” Pertanyaan Ardi memecah keramaian di sebuah kedai kopi dekat kampus mereka.

“Mimpiku? Aku ingin menjadi seorang pemimpi. Itu saja.”

Jawaban singkat keluar dari mulut Prima, membuat Ardi mengernyitkan dahi. Mencoba memahami jawaban temannya itu, Ardi kembali melontarkan pertanyaan.

“Kenapa mimpimu hanya sebatas itu? Hanya menjadi seorang pemimpi.”

“Aku ingin menjadi seorang pemimpi karena dengan mimpiku, aku bisa menggapai apapun yang aku mau.”

“Mau jadi apa kau jika hanya bermimpi?”

Malam itu seakan menjadi malam di mana dua orang sahabat beradu idealisme dalam bermimpi. Bukan tentang mencari jati diri, tetapi mencoba saling memahami tentang mimpi masing-masing.

Keramaian kedai kopi yang menjadi kebanggaan anak kampus menjadi hening tak bernada. Jejak pendapat yang mereka keluarkan membunuh suara sorak para pengunjung saat itu. Bahkan salah satu dari mereka mampu membuat perubahan pada kedai kopi itu. Hanya lewat mimpi. Hebat bukan?

“Aku punya mimpi. Aku ingin menjadi seorang pemimpin bangsa ini. Kalau bisa, aku tidak hanya ingin menjadi seorang anggota legislatif, tapi presiden. Dengan begitu aku mampu mengendalikan jalannya pemerintahan di negeri ini,” Ardi menggebu-gebu mengungkapkan mimpinya pada teman karibnya itu.

“Ya itu terserah kau saja. Aku tidak akan menghalangimu untuk bermimpi.”

Kalimat sederhana yang muncul dari bibir kecil Prima seraya membuat Ardi kembali mengerutkan dahi sambil sesekali mengangkat alis tebalnya.

Semakin malam kedai kopi itu semakin ramai oleh mahasiswa. Kebanyakan pengunjung adalah mahasiswa, sama seperti Prima dan Ardi. Ada banyak tujuan mereka mengunjungi tempat yang buka khusus pada malam hari itu. Ada yang ingin berpacaran, berkumpul dengan teman seperjuangan, bahkan ada juga yang datang sendirian hanya untuk melepas penat dari dilema skripsi.

Dengan secangkir kopi, terlihat gelak canda tawa semua manusia. Meski tidak banyak orang yang bisa menikmati manisnya kopi, namun kemampuan kopi untuk menyatukan waktu memang luar biasa.

Tidak berbeda jauh dengan dua insan yang duduk di kursi bawah pohon di dalam kedai, Prima dan Ardi, mereka sibuk beradu argumen tentang mimpi.

Jarum jam menunjukkan pukul 23.00 menandakan waktu sudah bergulir begitu cepat. Prima dan Ardi masih sibuk dengan dunia masing-masing, menyiapkan berbagai argumen yang akan diadukan. Sementara itu pengunjung kedai semakin diramaikan oleh berbagai komunitas sekitar kampus. Ada komunitas fotografi yang para anggotanya berkalungkan kamera DSLR, komunitas seni rupa yang para anggotanya berpakaian serba hitam, komunitas seni musik yang sedang bersiap tampil di panggung.

Tidak hanya komunitas, kedai kopi itu juga dipakai untuk ajang berkumpul dengan teman seperjuangan atau mengulas kenangan bersama teman yang dulu pernah berjuang bersama. Seperti yang terlihat di sebelah kanan panggung kecil di dalam kedai, ada sekelompok mahasiswa terlihat begitu gembira bercanda gurau dengan teman-teman sekelilingnya.  Memakai kaos yang bertuliskan PPL 2013, menandakan bahwa para mahasiswa itu adalah partner sewaktu mereka melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Sedikit bernostalgia memang menjadi alasan untuk mereka berkumpul setiap minggunya.

“Tidak adakah sekelompok anak manusia yang membicarakan tentang mimpi?” Prima berkata sebelum meneguk secangkir coklat panas di meja.

Ardi sedari tadi hanya memandangi Prima tanpa berkata-kata. Melihat sahabatnya ini benar-benar tergila-gila dengan coklat, apalagi coklat panas. Bagaimana tidak, hanya dengan meneguk minuman itu, Prima langsung menuangkan ide tanpa berpikir panjang.

“Prima, sepertinya coklat sudah menjadi bagian dari hidupmu. Bagaimana kau bisa mempunyai berbagai gagasan setelah kau meminum minuman itu?” tanya Ardi terheran dengan kebiasaan sahabatnya itu.

“Aku? Hahaha...” Prima tertawa kecil saat menyadari bahwa Ardi ternyata telah memperhatikan kebiasaannya itu.

Kedua sahabat karib ini memang sudah lama hidup bersama. Rumah mereka yang berdampingan membuat mereka menjadi sepasang sahabat yang tidak pernah terpisah. Kehadiran mereka, satu sama lain memberikan semangat positif untuk mencapai mimpi mereka. Sampai mereka bisa melanjutkan studi di satu kampus yang sama adalah buah dari keserasian mimpi yang telah lama mereka bangun.

“Aku tidak tahu. Yang pasti aku sangat menyukai coklat.” Jelas Prima yang sedari tadi mengaduk-aduk cangkir coklat.

Kalimat padat dari Prima membuat Ardi tidak ingin tahu banyak tentang alasan sahabatnya itu. Dari awal Ardi memang sudah tahu tentang bagaimana sifat Prima. Terkadang Prima sangat cuek. Terkadang dia sangat peduli. Tapi Ardi percaya, di balik kecuekan itu ada rasa peduli yang jauh lebih dalam.

Jarum jam sudah menandakan waktu tengah malam. Sudah biasa bahwa sepasang sahabat ini menghabiskan malam bersama di sebuah kedai kopi. Tidak heran jika banyak orang yang menganggap mereka bukan sekadar sahabat. Tentu saja anggapan itu ditepis oleh mereka berdua.

“Kau mengantuk?” tanya Ardi kepada sahabatnya.

“Tidak.”

“Tumben. Biasanya kau sudah pulas di jam-jam begini.”

“Kau mau aku tinggal tidur?”

“Tidak.” Ardi tertawa melihat ekspresi yang tersurat di wajah sahabatnya.

“Coklatku sebentar lagi habis.”

“Lalu?”

“Ayo pulang.”

Ardi mengernyitkan dahi seketika.

“Kau belum mengantuk kan? Kenapa pulang?”

“Kau tidak mau pulang?”

“Terserah kau saja.”

Kedua mahasiswa ini beranjak dari tempat duduk menuju kasir. Malam ini adalah giliran Ardi untuk membayar pesanan mereka. Dari awal, sepasang sahabat ini membuat perjanjian untuk selalu bertemu, apapun yang terjadi. Ikatan yang mereka bangun sejak kecil tidak boleh putus begitu saja ditelan waktu.

Ardi mengeluarkan dompet dari saku celananya. Dia menghitung uang yang ada di dalam benda keramatnya itu. Tiba-tiba sebuah benda tidak sengaja jatuh dari dalam dompetnya.

Mata Prima terbelalak kaget. Sebuah gambar diri seseorang yang sangat dia kenal. Seorang wanita yang saat ini menjadi teman seperjuangannya di kampus. Teman kuliah, teman mengerjakan tugas, bahkan teman bolos kuliah.

Shinta, panggilan gadis itu.

Ardi memang mengenal Shinta dari Prima. Saat itu Prima dan Shinta sedang mengerjakan tugas kelompok di sebuah kedai kopi yang sekarang sudah tutup. Ketika itu pula Ardi berkunjung ke kedai itu. Akhirnya Prima mengenalkan gadis cantik Shinta pada sahabatnya, Ardi.

“Apa yang kau lakukan dengan foto ini?” tanya Prima dengan tatapan menggoda.

“Tidak apa-apa.” Ardi mencoba mengelak.

Prima mendekatkan bibirnya pada telinga Ardi. Berbisik agar tidak diketahui banyak orang yang mengantre di meja kasir. “Jujur saja kau! Apa kau menyukainya?”

“Tidak. Ini untuk temanku.” Suara Ardi terdengar gugup.

“Kau yakin?”

“Sudahlah, ayo pulang!”

Buru-buru Ardi memasukkan kembali foto teman sahabatnya ke dalam dompetnya. Ardi masih terlihat gugup dengan peristiwa tadi. Dia menggandeng tangan Prima agar cepat-cepat keluar dari kedai.

“Ardi, kenapa kau terlihat begitu gugup?”

Ardi terdiam. Tanpa sepatah kata, dia menyalakan motornya. Prima dengan gaya anggunnya menaiki motor gagah Ardi itu.

Jalanan begitu sepi. Hanya terlihat beberapa warung yang masih ada pembeli. Warung seperti itu biasanya adalah kedai-kedai kopi. Kadang mereka mengadakan nonton bareng (nobar) agar menarik perhatian pengunjung.

“Baru kali ini aku sadar, bintang ternyata bisa redup.” Tiba-tiba Prima membuka percakapan.

“Apa maksudmu?”

“Bintang terlihat indah saat bersinar. Apakah keindahan itu akan bertahan walau mereka meredup?”

“Entahlah. Mungkin bintang terlihat indah karena sinarnya. Jika dia tidak lagi bersinar, dia tidak akan menjadi indah.”

“Kau benar.”

Sepasang sahabat ini sudah terlalu sering beradu kata-kata. Kata-kata indah keluar dari pikiran mereka. Beradu gagasan, saling serang gagasan, warna-warni pendapat menjadi bumbu persahabatan mereka.

“Kau tahu, sampai saat ini aku masih bermimpi.” Kata Prima kembali mencairkan suasana.

“Bermimpi apa?”

“Aku ingin kita seperti ini.”

Sejenak Ardi terdiam mencerna kalimat barusan. Ardi dan Prima sudah lama membangun ikatan ini. tidak mungkin jika mereka menginginkan sebuah perpisahan yang merenggut ikatan mereka.

Ketika sebuah rasa akan menghancurkan apa yang ada selama ini. Saat itulah mungkin sepasang sahabat ini tidak lagi akan merasakan malam yang sama. Mereka akan hidup di dunia yang berbeda. Jauh dari sekarang.

“Sekarang kita akan kemana?” lanjut Ardi berusaha melenyapkan kesan tidak tahunya.

“Terserah kau saja.”

Kembali Prima dan Ardi terdiam di gemerlap cahaya rumah di pinggir jalan. Tiang-tiang penyangga lampu jalanan ikut meramaikan malam. Di alam pegunungan seperti itu, sudah pasti dingin menjadi hal biasa yang dirasakan. Malam ini, dingin itu seketika hilang. Muncul kehangatan yang hanya bisa dirasakan oleh sepasang sahabat ini.

Laju motor mengantarkan Prima dan Ardi menuju sebuah gedung. Gedung yang biasa mereka lihat. Terletak di kampus, gedung itu berdiri kokoh melambangkan fakultasnya. Dengan berbalut warna ungu, menjadi ciri khas gedung itu. Gedung Dekanat Fakultas Bahasa dan Seni (FBS).

Laju motor berhenti tepat di pintu belakang gedung Dekanat. Ada motor-motor lain yang memang sengaja diparkir di sana. Itu adalah motor-motor dari para penjaga malam kampus.

Sengaja parkir motor di Dekanat, Ardi mengajak Prima menuju gedung sebelah Dekanat. Gedung yang biasa dijadikan tempat kuliah oleh mereka.

“Duduklah.” Kata Ardi sambil menunjuk ke salah satu tempat duduk di bawah lorong yang menghubungkan antar gedung di kampus itu.

Prima, seperti biasa, selalu menuruti apa kata sahabatnya itu. Tanpa basa-basi, dia duduk di tempat yang barusan ditunjuk oleh Ardi.

Dinginnya malam terhapus oleh kehangatan yang mereka ciptakan berdua. Kehangatan yang tumbuh dalam ikatan persahabatan dua anak manusia. Indah.

“Aku senang kita bisa seperti ini.” suara Ardi terdengar pelan dan bergetar.

Prima hanya tersenyum. Timbul warna merah di pipinya.

“Aku tidak ingin kehilangan engkau.”

Prima masih terdiam.

“Aku ingin selalu membaca puisimu tentang persahabatan kita. Aku masih ingin memandangmu setiap hari. Aku masih ingin berbicara tentang mimpi bersamamu. Aku tidak ingin kehilangan kenanganku denganmu.”
Ardi semakin kehilangan suaranya. Semakin dia melanjutkan perkataannya, semakin lirih suaranya. Bergetar, tidak seperti biasanya.

“Kau kenapa?” tanya Prima mulai khawatir.

“Ah tidak.”

“Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu seperti esok kau tidak akan menemuiku lagi?”

“Bukankah aku selalu seperti itu?”

Kedua sahabat ini memang selalu mengumbar kemesraan di semua tempat. Tidak lebih, mereka adalah sepasang sahabat yang tidak luntur oleh noda waktu.

Ardi mencoba mengatur nafas dan mulai berbicara, “Aku taku kehilangan kau.”

Ardi, seorang laki-laki dewasa, kuat dan tegar seketika itu juga meneteskan air matanya.

“Kenapa kau menangis?” tanya Prima sambil menghapus air mata Ardi.

“Prima, aku takut.”

“Takut kenapa, Ardi?”

Dinginnya malam kembali menusuk tulang. Kehangatan yang baru saja tercipta kini memudar. Apakah dingin itu hanya firasat malam ini? Ataukah di hari-hari berikutnya dingin itu tetap akan terasa?

Sahabat, satu kata yang membuat tegar penikmatnya.

Sahabat, manis dan indah seperti lolipop.

...................................................................................................................................................................

Lima tahun berlalu. Kehidupan seorang anak yang menginjak kedewasaan mulai diuji. Aral seakan menjadi pemanis dalam usianya yang menginjak 25 tahun. Seorang ibu rumah tangga yang hidup bergelimang harta, lahir dan batin. Prima, seorang wanita sukses berhasil membangun rumah tangga dengan suaminya, Adit, salah satu teman seperjuangan semasa kuliah.

Suami istri yang dikaruniai dua orang anak kembar ini berhasil membuat iri pasangan lain. Bagaimana tidak? Mereka muda, kaya, baik hati dan ramah. Sungguh, keluarga yang sempurna.

Hari Minggu menjadi hari yang paling ditunggu oleh pasangan ini beserta kedua anaknya, Gani dan Gina. Minggu ini mereka sekeluarga akan pergi ke sebuah tempat yang menyimpan banyak kenangan. Kenangan masa lalu yang tidak akan pernah luntur kembali.

Perjalanan panjang mereka tempuh demi menyapa salah seorang kenalan lama di kota tujuan. Seorang kenalan yang menjadi ‘tempat sampah’ Prima dulu. Di dalam hubungan persahabatan Prima dan orang itu tumbuh. Ardi, nama sahabat yang tidak akan pernah terlupakan.

Angin sepoi-sepoi mengalirkan udara sejuk di daerah ini. Tanah kelahiran yang akan selalu membuat Prima meneteskan air mata.

Seperti lautan, batu nisan tersebar secara beraturan. Sepertinya pemakaman ini terawat dengan baik.
Prima dan keluarga berjalan menelusuri jalan setapak di antara batu nisan. Di sini terdapat jutaan kenangan. Kenangan dari mereka yang masih bertugas di dunia, kenangan untuk mereka yang telah pergi selamanya.

Tibalah mereka di sebuah makam yang memang dituju. Hanya batu nisan yang menjadi penghubung mereka dengan nama yang tertulis di nisan itu, Ardian Sinatra, begitu Prima kerap menyapanya Ardi.

Adit membiarkan Prima larut dalam kenangannya bersama sahabat karibnya itu. Begitupun Gani dan Gina yang menebarkan bunga tepat di atas rumput makam Ardi.

Prima tak sanggup lagi menahan air matanya. Perlahan, bulir bening mengalir membasahi pipinya. Sambil menebarkan bunga, Prima hanya menangis tak bicara. Kemudian dia meletakkan tangannya di batu nisan Ardi. Hanya dengan cara ini dia bisa merasakan kehadiran Ardi, sama seperti yang telah lalu.

Sahabat tercinta kini telah pergi. Sakit kanker otak yang Ardi derita telah membuatnya menyerah. Kejamnya, Prima tak bisa merasakan kebahagiaan saat mengenakan toga dengan sahabatnya itu. Janji mereka untuk berfoto sambil mengenakan pakaian wisuda hilang sudah. Janji yang sederhana. Tapi janji dan kenangan-kenangan itulah yang membuat Prima tak henti meneteskan air mata.

Adit, tanpa berkata apapun, memeluk Prima, berharap dia segera berhenti menangis. Tidak sia-sia, Prima mulai menghentikan tangisnya demi suaminya dan kedua anaknya. Sudah saatnya dia melepas kepergian Ardi. Dia yakin, Tuhan akan memberikan tempat terbaik untuk Ardi, surga. Kelak, Prima percaya pula bahwa Tuhan akan mempertemukan mereka kembali di sana.


Kenangan-kenangan itu memang masih melekat, namun itu hanyalah sebuah kenangan yang hanya bisa dilihat dari selaput mata. Tidak tersentuh. Kehidupan yang sekarang akan melahirkan kenangan-kenangan baru yang entah lebih menyenangkan ataukah menyedihkan. Tuhan selalu mengerti jalan mana yang bisa ditempuh umatnya. Kehilangan. 

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille