2014/08/23

Gelegar Keheningan

Hal terindah di dunia ini bukan lagi sekadar fiktif belaka. Berada di antara mimpi dan realita, aku mencoba menyambangimu. Dari garis yang entah di mana, aku melihat kedua sorot matamu. Menunggumu berjalan menghampiriku dan tersenyum padaku. Indah bukan? Ya, bahagia itu cukup sederhana.

Aku melihat kau berjalan pelan. Sejenak mata kita saling bertatap. Aku masih menunggu senyum manis tersungging di bibirmu.

Tuhan, sepertinya aku menggila! Angin sepoi-sepoi mengibarkan rambutmu pelan. Tentu saja itu menambah betapa eloknya engkau. Tanganmu lalu merapikan rambutmu yang tertiup angin. Beruntung sekali angin itu, seenaknya saja membelai rambut pujaanku.

Detik demi detik berjalan seirama dengan langkah kakimu. Namun tak senada dengan detak jantungku yang semakin kencang.

Aku masih menunggumu. Alih-alih, aku membuang pandangan darimu agar kau tak tahu apa yang sedari tadi ku lakukan. Ku lihat kanan kiri, mencoba menenangkan perasaan dan mengatur nafas yang memburu. Ah, hanya karena satu orang saja aku sudah kehilangan kendali. Kau memang luar biasa!

Aku masih memainkan kedua bola mataku. Tiba-tiba mataku memandang satu titik yang bagiku sangat sempurna. Tepat di hadapanku, aku melihat seorang yang sangat sempurna. Tuhan memang adil. Dia menulis hari ini, hari pertemuan kita.

Rambutmu masih terlihat berantakan karena angin tadi. Tak hanya itu, aku tahu kau lelah dengan hari ini. Pun sama denganku. Aku lelah menunggumu.

Lagi, tepat di hadapanku, kau tersenyum padaku. Senyum yang sangat aku nantikan. Senyum yang mampu membuatku tidak tidur semalaman. Senyummu seorang.

Oh lihatlah, dunia mungkin sedang menertawakanku sekarang. Mukamu mungkin sudah memerah seperti tomat rebus. Beruntung jantungku ada di dalam. Jika ada di luar tubuh, mungkin kau akan tahu betapa kencangnya detak jantungku saat ini. Ketika itu terjadi, angkasa pun tak sanggup menahan gemanya. Percayalah.

Senyum simpul dan anggukan kepalamu menandakan salam hangat satu ikatan yang terjalin setelah pertemuan kita beberapa bulan yang lalu. Ku balas sapaanmu dengan senyuman. Bahkan hanya untuk sekadar senyum pun aku tak sanggup.

Aku tahu ada jarak yang memisahkan kita. Ya, jarak itu memang sebenarnya tidak ada. Tapi bagaimanapun, jarak itu pasti ada. Aku merasakannya. Kau juga.

Jarak itulah yang membuat aku tidak bisa bersamamu. Karena jarak itu pula kau tak bisa dengan leluasa duduk di sampingku meski hanya untuk berbagi cerita.

Tapi aku bersyukur, Tuhan menciptakan jarak itu agar aku berusaha terlihat mempesona di matamu. Aku berusaha menarik perhatianmu dan aku mencoba untuk membaca apapun yang ada di dirimu dari jarak itu.

Mungkin pertemuan kita tidak akan lama. Sepertinya ini akan segera berakhir. Beberapa hari lagi.

Akankah aku mampu memperkecil jarak kita? Jujur, aku ingin. Tapi aku terlalu takut untuk melakukannya.

Ah, tak baik hanya berkeluh kesah. Aku rasa hidupku sudah bahagia hanya dengan mengenalmu. Semoga Tuhan bermurah hati dengan tidak menghapus diriku dari memorimu.

Terimalah salam dariku, orang yang diam-diam mengagumimu.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille