2014/07/14

Mbah Man dan Dinamika Kampus Sekaran

Deru kendaraan bermotor siang itu meramaikan jalanan desa Banaran, Gunungpati, Semarang. Seorang lelaki berperawakan gemuk dengan rambutnya yang mulai memutih, duduk memandangi jalan yang dipenuhi oleh lalu-lalang mahasiswa. Matanya menerawang mengikuti setiap desing motor yang lewat.
Senyum para pengmudi “kuda besi” itu membuat Rohman (53) sedikit terlena. Pasalnya, masa lalulah yang membuat pandangan matanya menerawang lebih jauh. Terlihat sekali bahwa Mbah Man, begitulah ia kerap disapa, mengenang masa lalunya ketika di Desa Banaran belum ditempati Universitas Negeri Semarang (Unnes).
“Dulu belum ada listrik. Jalanan belum diaspal. Rumah masih jarang. Sepi sekali”, kata Mbah Man terbawa kenangannya.
Pria yang merupakan penduduk asli Desa Banaran itu mengungkapkan bahwa perubahan yang paling menonjol di desa Banaran adalah dalam sektor ekonomi. “Kalau dulu, kita harus turun untuk jualan. Misalnya ke Jatingaleh atau Pasar Johar. Tapi sekarang, semenjak ada Unnes yang dulu masih bernama IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan), para penduduk sudah bisa berjualan di tanah sendiri. Bahkan ada pula pendatang yang berjualan di sekitar kampus”, begitu kenangnya.
Mbah adalah seorang penjual bakso dan mie ayam yang sangat terkenal di kalangan mahasiswa. Dari dulu sampai sekarang banyak mahasiswa yang menggemari bakso dan mie ayam buatan Mbah Man. Karena itu, perhatian Mbah Man juga tidak terlepas kepada pelanggan, terutama mahasiswa.
“Mahasiswa dulu dan sekarang sangat berbeda. Kalau dulu, mahasiswa memasyarakat. Mereka sering berkunjung ke rumah penduduk. Kehidupan antara warga pribumi dan mahasiswa sangat harmonis. Berbeda dengan sekarang. Mahasiswa seakan bersikap acuh kepada masyarakat. Tidak pernah lagi mereka berkunjung ke rumah penduduk. Bahkan hanya untuk mengobrol saja.”

Satu kenangan indah yang tidak akan dilupakan olehnya. Mulai dari penduduk yang memadat, taraf ekonomi yang lebih baik, sampai mahasiswa yang membangkitkan semangat mudanya. Mbah Man, salah satu saksi hidup akan dinamika yang terjadi di sekitar kampus konservasi yang sampai sekarang masih setia untuk memasang senyum kepada para mahasiswa.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille