2015/03/08

Sendiri

Jika cinta itu suci, kenapa air mata menetes karenanya?

Jika cinta itu tak menuntut apapun, kenapa ada orang yang menginginkan pengorbanan dengan mengatasnamakan cinta?

Jika cinta itu abadi, mengapa sepasang kekasih tak mampu mempertahankannya?

Apakah cinta sesempurna itu?

Ini bukan cerita tentang dua orang yang saling mencintai atau cinta segitiga antar remaja yang rumit. Ini hanyalah bualan belaka tentang cinta dari seorang anak yang merindukan kemesraannya.

Hidup yang gelap membuatnya menangis sendirian. Rasa takut menceritakan isi hati pada orang lain membuatnya jatuh ke dalam jurang yang gelap dan dalam, mungkin itu yang kadang ia sebut kesendirian.

Pagi hari ia terbangun dari tidur dan melihat langit-langit kamar yang berdebu. Siang hari ia tak mampu menatap kekuatan surya. Senja menjelang, ia hanya duduk terdiam di antara bebatuan dan ilalang yang hanya bergoyang diterpa angin. Di malamnya ia hanya menghabiskan waktu dalam lamunan abadinya. Kasihan sekali dia.

Ia jatuh ke dalam jurang yang ia gali sendiri. Atau entah ada apa di masa lalunya yang membuatnya seperti itu. Terkadang sendiri memang diperlukan untuk menenangkan perasaan. Dan ia terjatuh dalam perkataannya sendiri. Ia tenggelam dalam kesendirian yang ia ciptakan.

Siapa yang mampu bertahan dalam situasi semacam itu? Hanya dia yang mampu. Ia menyalakan sendiri lentera untuk menerangi gelap hari-harinya. Meski redup, cahaya itulah satu-satunya penerang hidupnya. Meski akan mati tertiup nafas, lilin itu setia menemaninya.

Seolah hidup di dalam istana megah, ia membangun kesendirian yang hanya ia sadari. Tak ada satu orangpun tahu kesendirian yang dialami anak itu. Ia takut. Ia takut dengan dunia luar. Ia tidak berani memandang sekelilingnya. Hanya memandangpun tak mampu, apalagi menyapa.

Sebenarnya teman-temannya sudah menunggu ceritanya. Sayang sekali, anak itu tak tahu harus memulai dari mana. Ia tak punya kepandaian untuk berkata-kata. Bahkan untuk sekadar basa-basi, itu terlalu basi.

Sebuah potret tentang drama kesendirian. Kesendirian bukanlah tentang kenyataan, tapi tentang perasaan. Anak kecil itu, ia yang seharusnya sekarang menikmati cerita-cerita indah dunia luar, sayang sekali harus terbelenggu dalam gelap yang ia ciptakan sendiri. Gelap yang tercipta dari diamnya.


Satu hal yang ia yakini, terkadang butuh gelap untuk melihat terang cahaya. Gelap dan cahaya itu ia ciptakan sendiri. Gelap dan cahaya yang menjadi kehidupannya. Di dalam kesendirian, gelap dan cahaya itu menjadi jalan untuk menembusnya. Bukankah itu terasa menyedihkan? Ya, terkadang sendiri memang menyedihkan.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille