2015/03/10

Tembang Kenangan

Setiap lagu punya kenangan sendiri bagi pendengarnya. Ketika lagu-lagu itu didengar, seketika berbagai kenangan akan datang berkelebat di depan mata. Baik kenangan baik atau buruk, bagaikan bumbu yang memberi rasa dalam kehidupan seseorang.

Secara subjektif, aku punya beberapa lagu kenangan yang sampai sekarang jika lagu itu kuputar, semua kenangan masa lalu selalu mengikutinya. Kenangan masa muda yang tak pernah padam terhembus angin keharuan. Karena di setiap jengkal, mereka punya rindu yang menunggu untuk disampaikan.

SMA, masa indah dunia remaja berbalut putih abu-abu. Putih karena kesucian ikatan tali tak terlihat bernama persahabatan. Abu-abu karena seorang anak SMA masih belajar mengenal hidup, bersiap melangkah ke kehidupan yang jauh lebih kejam.

Setiap hari di kala itu selalu menyiratkan makna. Setiap canda tawa bahkan tangis yang terdengar seakan menjadikan masa SMA memang sangat berarti. Ketika pertama kali mengenal kebersamaan.

Ada banyak melodi menggaung di berbagai sudut tempat itu. Nyanyian para peri kecil menambah elok suasana putih abu-abu yang perlahan mulai melekat. Alunan nada yang kian berteriak memanggil seluruh isi sekolah untuk menikmatinya dari waktu ke waktu.

Banyak kenangan terukir di sini. Tepat di bangku ini, ruang kelas ini, kantin, lapangan basket, tak ada yang tak menyisakan memori. Pun dengan lagu yang dibawakan.

Tipe X, Selamat Jalan

Lagu pertama yang aku dan kalian nyanyikan di kelas. Waktu itu masih awal kita ada di kelas XI. Tak banyak yang aku tahu tentang kalian. Bagiku kalian adalah lautan biru yang harus aku selami untuk menemukan harta karun.

Aku masih ingat jelas, waktu itu kita duduk di depan kelas, mengenakan seragam olah raga dan serentak menyanyikan lagu itu, Selamat Jalan dari Tipe X. Merasa seperti tempat milik sendiri, dengan percaya diri kita menyanyikan lagu itu begitu lantang. Tak ada yang berani menghentikan aksi kita. Mungkin kecuali ada guru yang menegur.

Yah, lagu pertama yang kita nyayikan bersama. Semoga kalian tidak lupa. Lagu pertama sekaligus menandai awal perjumpaan kita. Awal dimana kita akan memperbaiki rumah tempat kita tinggal.

Westlife, Seasons in The Sun

Ingat ketika ada diklat bahasa Inggris selama beberapa bulan di awal masuk kelas XII? Ya, aku masih mengingatnya.

Setiap pagi pukul 06.00 kita harus sudah duduk manis di dalam kelas, bersiap memulai bermain-main dengan bahasa Inggris. Sepulang sekolah kita masih diwajibkan berkutat dengan bahasa Inggris juga. Seakan-akan entah berapa bulan itu kita hidup untuk bahasa Inggris.

Menyenangkan. Sebagai kelas Bahasa, tentu kita harus punya kemampuan berbahasa melebihi kelas lain. Benar tidak? Tentu benar.

Lagu Seasons in The Sun dari Westlife mengiringi perpisahan kita dengan para tutor. Setiap kali kita bosan dengan materi, kita menyanyikan lagu itu bersama. Bahkan ketika jam istirahat, lagu itu dengan seenaknya mengalun menggema di ruang kelas.

Masih ingat ketika hari terakhir diklat yang sekaligus perpisahan dengan para mentor? Aku yakin kalian pasti tidak akan melupakan ini. Kita bermain drama bahasa Inggris. Biasanya kita hanya pentas drama berbahasa Indonesia di depan khalayak, saat itu kita menjadi luar biasa. Berbagai penjuru menyaksikan drama roman komedi milik kita.

Ya, kita memang telah membuat season untuk kita kenang. Bersama awan, angin dan langit, kenangan itu menggantung di angkasa. Angkat kepala kalian, lihat ke atas, kenangan-kenangan itu akan menyapa kalian dari atas sana. Mereka menunggu untuk diceritakan kembali.

Nano, Sebatas Mimpi

Masih ingat novel Seventeen Years of Love Song? Itu novel yang sempat menjadi primadona di antara kita. Waktu itu kita sudah kelas XII, bukan lagi kelas XI.

Masih ingat ketika kita menangis membaca novel itu? Ketika semua dari kita selesai membaca novel itu, paginya kita bercerita tentang isi novel itu, dan kita semua menangis. Air mata pagi hari yang menyejukkan.

Ini bukan hanya tentang novel, tapi juga tentang lagu yang sengaja kita cocokkan untuk menjadi soundtrack novel itu.

Sebuah cinta tak terbalas. Cinta yang belum sempat terucapkan. Cinta yang masih tersangkut di tenggorokan, menunggu perpisahan.

Bondan Prakoso, Kita Selamanya

Perpisahan adalah salah satu hal menakutkan di dunia ini. Ia selalu datang kapanpun ia mau, tanpa permisi. Dan sebenarnya aku sangat membencinya.

Tepat di hari pelepasan kelas XII, band dari kita menyanyikan lagu ini.

“Bergegaslah kawan, sambut masa depan, tetap berpegang tangan dan saling berpelukan. Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan. Kenanglah sahabat, kita untuk s’lamanya.”

Sepenggal lirik yang mampu membuat bulir bening jatuh membasahi pipi. Lagu termanis yang pernah kita dengar saat itu. Kau tahu, asal kalian percaya, ketika aku menulis ini tanganku bergetar. Banyak kata-kata yang tak mampu kutuliskan di sini. Tapi percayalah, jiwaku masih mampu menyimpan semua kenangan itu.

Nah, ada 4 lagu yang kurasa adalah lagu yang paling berkesan selama kebersamaan kita. Masih ada banyak lagu lagi yang menandai waktu kita, tapi bagiku yang memiliki makna terdalam adalah 4 itu.

Karena kenangan kita tidak hanya terrekam oleh lagu, tapi juga banyak hal lain yang mampu mengabadikannya. Sekali lagi, kenangan itu masih dan akan selalu menggantung di langit. Ketika kau rindu, angkat kepalamu, lihatlah langit, dan kenangan itu akan melambaikan tangan padamu.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille