2015/03/08

Takut

Ketika sekelompok anak manusia saling mengakrabkan diri. Ketika mereka terikat pada tali yang tak terlihat. Ketika mereka saling memahami satu sama lain.

Pada hari-harinya yang berwarna, seolah ikatan tak terlihat itu menjadi lebih kuat. Tak peduli hujan atau terik menantang mereka, semua tak menjadi alasan meruntuhkan mereka. Justru itu semua menjadi pondasi kuat untuk memperkaya apa yang telah mereka miliki.

Banyak waktu mereka lalui bersama. Susah senang semua menjadi satu. Tawa dan tangis menjadi bumbu sedap persahabatan beberapa anak itu. Ada pelangi setelah hujan. Ada maaf setelah pertengkaran.

Bahagia rasanya melewati masa dengan orang-orang tersayang. Sebagaimana teorinya sebuah persahabatan yang seperti mata dan tangan. Ketika tangan terluka, mata menangis. Dan ketika mata menangis, tangan menghapus air matanya.

Seakan waktu membeku, tanpa mereka sadari sebentar lagi mereka akan mengetuk pintu perpisahan. Pintu yang paling mengerikan, untukku. Pintu yang tak pernah kuharapkan muncul di hadapanku.

Ada 3 hal yang paling aku takuti di dunia, kesepian, gelap dan perpisahan. Karena kesepian adalah bukan tentang keadaan, melainkan perasaan. Karena gelap aku tak mampu melihat keindahan apa saja di sekitarku. Dan karena perpisahan adalah jurang terdalam yang akan memutuskan intensitas pertemuanku dengan orang-orang yang aku sayangi. Berat sepertinya menghadapi itu semua.

Perpisahan, mereka yang tergabung dalam sebuah ikatan berharga ini sebentar lagi akan berpisah. Tak ada yang mampu mereka lakukan untuk menghentikan laju berputarnya waktu. Mereka pasrah. Mereka lelah. Mereka menyerah.

Kata orang, seiring dengan perpisahan, akan ada pertemuan yang lebih berharga. Bagiku tidak. Bagiku sebelum perpisahan terjadi, orang-orang yang membuat kenangan itu adalah orang-orang berharga yang kumiliki. Tidak ada orang tak berharga yang masuk ke dalam memori. Kawan atau lawan, semua sama, pembuat kenangan.

Sebentar lagi pintu perpisahan itu akan terbuka. Mereka sudah menyadarinya. Sejak awal pintu itu sudah menunggu untuk terbuka. Pertanyaannya adalah apakah mereka mampu melangkah memasuki pintu itu? Apakah mereka hanya berdiam diri di ambang pintu itu? Ataukah hanya mengetuknya saja mereka tak berani?

Siap tidak siap perpisahan pasti terjadi. Tak ada yang bisa menghindarinya. Perlahan jurang perpisahan itu telah terbentuk. Dalam, gelap dan sunyi.

Jangan takut kawan. Ada satu cahaya yang akan menerangi jurang itu ketika terjatuh ke dalam sana. Ialah kenangan.

Simpanlah kenangan itu baik-baik. Dengan adanya kenangan itu, ia telah punya satu harapan baru, pertemuan. Entah kapan mereka akan bertemu kembali. Yang pasti ada cerita baru yang siap untuk diceritakan kelak saat pertemuan itu terjadi.

Semua menunggu waktu itu tiba. Secepatnya dan serindunya.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille