2015/01/15

Berani Bangkit

Putih abu-abu, banyak sekali hal yang dibuat tentang itu. Mulai dari lagu, cerpen, novel, sampai konsep pernikahan pun ada. Semua bermula dari kenangan para penikmatnya. Banyak yang beranggapan bahwa masa putih abu-abu adalah masa yang paling menyenangkan. Masa dimana seorang anak sedang beranjak dewasa, mencoba mencari jati diri.

Sama halnya denganku, aku menganggap masa-masa itu adalah masa yang paling menyenangkan. Terlalu menyenangkannya, hingga saat menulis ini aku jadi senyum-senyum sendiri. Tak ada yang bisa menungkapkan betapa menyenangkannya ketika itu. Bahkan angkasa juga tak sanggup menahan gaungnya.

SMA, Sekolah Menengah Atas, tiga tahun lamanya kita melalui itu (kecuali akselerasi). Tiga tahun lamanya kita mengenal teman-teman yang akan mengubah gaya hidup kita. Teman-teman yang akan mempengaruhi bagaimana karakter kita.

Tidak hanya teman, SMA sering dikaitkan dengan hal-hal romantis. Apa lagi kalau bukan cinta? Di SMA tidak sedikit yang terkena wabah cinta pertama. Kebanyakan memang seperti itu. Paling tidak itu ketika zaman saya masih mengenakan seragam SMA. Sepertinya sekarang sudah berbeda. Anak SD saja banyak yang pacaran. Dulu mah, beraninya Cuma cinta monyet.

Saya tidak akan menulis cinta pertama saya kala itu. Biarkan saya cukup mengenangnya saja. Kupikir itu adalah rahasia pribadi, bukan konsumsi publik.

Ketika SMA, saya masuk pada tahun 2007 dan lulus tahun 2010. Saya punya teman-teman yang berbeda dari yang lain. Kelas X, saya masuk kelas intensif. Kelas intensif adalah kelas unggulan di SMA saya. Kami banyak belajar bahasa Inggris. Tiada hari tanpa penggunaan bahasa Inggris. Kelas XI, waktunya penjurusan. Saya memilih kelas Bahasa sebagai pilihan pertama dan IPA sebagai pilihan kedua.

Awalnya banyak yang tidak memperbolehkan saya masuk kelas Bahasa. Kelas Bahasa adalah kelas “kutukan”, katanya. Kelas buangan, kelas anak-anak nakal, kelas paling bandel, kelas terburuk lah. Entah ada berapa ribu orang yang beranggapan miring kekanak-kanakan seperti itu.

Saya ingin menjadi orang yang berbeda. Penjurusan adalah saat kita memilih jurusan berdasarkan minat kita, bukan gengsi yang sudah menjadi mindset kebanyakan orang. Saya percaya dengan pilihan saya. Saya tidak akan menyesal.

Waktu itu teman sekelas saya yang memilih kelas bahasa hanya 4 anak. Kelas X2 tidak ada sama sekali. Karena kelas intensif ada 2, X1 dan X2, saya hanya punya teman dari kelas itu saja. Mungkin karena letak kelas kami yang berpisah dengan kelas X yang lain, jadi saya tidak punya teman akrab selain dari kelas yang sejenis.

Semua terasa baru. Ada beberapa teman SMP saya yang masuk kelas Bahasa, tapi kami belum akrab dari dulu. Beruntung, kami punya kesadaran yang sama. Tanpa kami sadari kami sudah masuk ke dalam sebuah rumah yang berantakan, sangat berantakan. Kami harus tinggal di dalam rumah itu dan memperbaikinya. Kami juga harus mendekorasi semua sudut rumah itu. Kami ingin rumah bagus untuk ditinggali. Dan mungkin rumah ini juga bisa kami turunkan untuk adik-adik Bahasa setelah kami.

Seperti biasa, untuk mengakrabkan penghuni kelas baru, sekolah kami mengadakan lomba kebersihan kelas tiap awal tahun pelajaran baru. Sudah saya bilang, rumah yang saya tinggali dengan teman-teman saya ini sangatlah berantakan. Bukan hanya rumah dalam arti denotasi, tapi juga konotasi. Denotasi untuk rumah yang sebenarnya, konotasi untuk pandangan orang luar terhadap kami.

Bermula dari kegiatan kebersihan kelas, kami mulai akrab satu sama lain. Setiap sore, sepulang sekolah, kami selalu menyempatkan diri untuk membersihkan kelas dan menata taman. Kami juga sempat mengambil beberapa karung pasir laut untuk dijadikan dekorasi taman kelas.

Tidak hanya saat pulang sekolah, hari libur dan jam kosong menjadi pilihan kami untuk menata kelas kami. Pernah suatu kali saat jam pelajaran bahasa Perancis, entah karena apa tiba-tiba taman terlihat berantakan. Aku dan teman-teman segera membersihkannya. Tidak lupa kami juga memotong rumput atau dedaunan yang terlihat mulai tumbuh berantakan.

Tanpa kami sadari guru bahasa Perancis kami, melihat kami membersihkan taman. Lalu beliau memanggil salah satu dari kami ke ruang guru.

“Woi, bahasa Perancis kosong!”

Betapa menyenangkannya sebagai seorang pelajar yang mendengar berita jam kosong. Seolah-olah itu menjadi surga bagi kami. Yang mau ngantin yan ngantin, bagi anak-anak rajin mungkin perpus akan menjadi destinasi utama, ada juga yang ngegosip di dalam kelas, dan banyak lagi. Hari ini kami melakukan sesuatu yang berbeda. Ya, kami menata taman dan kelas yang selanjutnya akan kami tinggali.

Lama sudah kami menunggu, akhirnya saat pengumuman tiba. Pengumuman pemenang disampaikan saat upacara bendera di hari Senin. Sebenarnya saya agak meragukan untuk menjadi pemenang. Dari tahun ke tahun, kelas Bahasa tidak pernah menang dalam lomba kebersihan kelas. Jangan ditanya kenapa, karena saya juga tidak tahu alasannya. Yang saya tahu, saya dan teman-teman saya ingin menghapus konsumsi publik semacam itu.

Siapa sangka matahari seterang ini berpihak pada kami? Kelas XI Bahasa mendapat juara 2 lomba kebersihan kelas tahun ini! Seketika itu juga, kami bersorak gembira. Kalian lihat, ini adalah langkah awal kami dalam memperbaiki rumah kami. Tunggu sampai kalian tidak sanggup berkata-kata ketika melihat betapa bagusnya rumah yang kami punya ini.

Bangga juga, kerja keras kami selama ini tidak sia-sia. Sebagai hadiah, kami menerima sebuah cermin besar yang kami pasang di kelas. Saya lupa hadiah utamanya apa, yang saya ingat hanyalah cermin itu. Cermin dengan figura berwarna emas, menempel tepat setelah pintu masuk. Itu mencerminkan bahwa siapapun yang masuk ke kelas kami, mereka harus bercermin dulu sebelum membuat asumsi miring terhadap kami. Tidakkah kau lihat, kali ini kami telah berhasil membangun fondasi untuk perbaikan rumah kami?

Tidak hanya ajang kebersihan kelas, kami juga menorehkan prestasi di bidang lain. Memang, ini tidak diakui sebagai prestasi di ajang bergengsi tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi atau nasional, tapi ini adalah salah satu kekayaan yang kami miliki, teater.

Teater seolah menjadi milik kelas Bahasa. Semua anak Bahasa wajib mengikuti ekskul teater. Jujur, ini manjadi debut pertamaku di dunia akting. Yah, walaupun aku tidak pernah terpilih menjadi pemeran di pentas, setidaknya akulah yang mengurus administrasinya. Kapan hari pentas, gedung pentas, lighting sampai pengajuan permohonan dana ke sekolah aku turut serta.

Setiap Diesnatalis kami menampilkan satu karya teater. Untuk memeriahkan ulang tahun sekolah itu, kami mempersembahkan penampilan akbar berupa drama. Kami memberlakukan sistem ticketing di setiap agendanya. Tak tahu sekarang apakah gratis atau masih bayar. Seingat saya, harga tiket saat itu adalah Rp 3.000,00. Murah bukan? Itu cukup untuk kantong anak SMA.

Entah Diesnatalis keberapa, kalau tidak salah ke-26, kami mengambil balada untuk pentas kali ini. Tidak terbayangkan, ternyata penonton saat itu sangatlah banyak. Gedung PGRI yang menjadi tempat pentas seakan tak mampu menampung penonton yang berdatangan. Bayaran terbaik setelah lelah menyiapkan acara adalah tepuk tangan penonton dan sorak sorai mereka yang meriah.

Singkat cerita, tak terasa kami sudah kelas XII. Sebentar lagi kami akan menghadapi UN. 3 hari bersejarah yang akan menentukan kelulusan.

Saat itu rasa kekeluargaan kami bertambah besar. Seiring dengan waktu kebersamaan kami selama ini, rasa memiliki di antara kami juga semakin bertumbuh. Kami tumbuh bersama. Kami tumbuh di dalam rumah terbaik yang pernah kami diami. Meskipun masih ada orang yang melihat keretakan rumah kami, bagi kami, ini adalah rumah terbaik selama kami mengenakan seragam putih abu-abu.
Kami mulai berfikir tentang masa depan pendidikan kami. Kami mulai sibuk dengan pendaftaran kuliah. Ada banyak cerita yang kami sampaikan satu dengan yang lain. Bingung memilih jurusan, mau kuliah dimana, setelah lulus SMA akan melakukan apa, semua itu menjadi topik kami sehari-hari.

Tak terasa, sebentar lagi kami akan bertemu dengan perpisahan. Kami akan hidup dengan jalan masing-masing. Kami tidak akan bertemu lagi seperti ini. Kami tidak bisa lagi melakukan hal yang sama dengan hari ini. Kami tidak bisa lagi mengenakan seragam ini. Kami sudah tumbuh bersama. Bersama pula kami menjadi orang yang beranjak dewasa. Kami akan tumbuh lagi, menjadi orang yang lebih baik.

Berbagai trik untuk mengejar sukses di UN kami lakukan. Mulai dari mengikuti les yang diwajibkan sekolah, try out, pemindahan tempat duduk di kelas oleh wali kelas kami, sampai belajar kelompok pun kami lakukan. Semua itu untuk menujukkan bahwa kami bisa jadi yang terbaik, terutama di ajang bergengsi yang terakhir ini, UN.

Hal-hal menakutkan kembali muncul. Anak-anak bernomor genap terkenal pintar dan rajin. Sebaliknya, yang ganjil dianggap di bawah. Kelas benar-benar gempar dengan asumsi itu. Saya pikir, itu hal biasa yang akan dialami para siswa kelas XII.

UN tiba. Seperti biasa, ada bocoran jawaban menyebar via SMS. Saya, yang dikenal pendiam dan taat aturan, saat ini saya mencoba melanggar aturan yang tidak memperbolehkan membawa HP saat ujian. Saya melanggarnya.

Ada salah satu teman saya yang terkenal rajin, pintar dan pendiam, kurang lebih seperti saya, yang juga membawa HP ke dalam ruang ujian. Dia membuka HP!

“Kok dia berani ya?” pikirku.

Aku tidak berani membuka HP. Tapi kurasa teman-temanku banyak yang melanggarnya. Baiklah, aku akan mencobanya.

Gila! Hal pertama yang aku rasakan ketika menarik HP keluar dari kantong adalah takut. takut setengah mati sampai tanganku bergetar karenanya. Aku tidak menyangka, ternyata akan seburuk ini. Biasa sih, aku kan tidak terbiasa membuka HP saat ujian, hahaha... (Benerin poni)

Lebih gila lagi adalah ketika UN, salah satu teman sekelasku ada yang sakit. Parah nih, kok bisa ya itu sakit tidak tahu diri sekali, datang di waktu yang tidak tepat. Ketika mengerjakan soal, dia tidak bisa melingkari lembar jawab. Jam hampir selesai, aku dan teman-temanku membantunya melingkari jawaban. Awalnya para pengawas melihat tingkah kami dengan agak waswas, tapi mau bagaimana lagi? Kami tidak mau ada yang tidak lulus. Kami mau lulus 100%!

Keesokan harinya ia tidak bisa mengikuti UN. Ia harus dirawat di puskesmas. Ia masih bisa mengerjakan UN di sana dengan diawasi salah satu guru kami. Saat itu kami hanya bisa berharap agar semuanya baik-baik saja.

Momen UN yang paling aku ingat adalah ketika ujian Sastra Indonesia. Hal yang selalu terjadi di kelas adalah jawaban kami tidak pernah sependapat. Dari kepala satu dan kepala lain selalu saja berbeda. Bahkan antara aku, teman-temanku dan guru sastra pun berbeda. Itu merupakah hal wajar di pelajaran yang satu itu.

Bayangkan saja, dari 40 soal, jawabanku dan Daus, salah satu teman sekelasku, berbeda 20 soal! Tentu saja kami yakin dengan jawaban kami sendiri. Seolah jawaban di sini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, kami tidak mengganti sedikitpun jawaban kami yang berbeda.

Setelah itu kami dilanda rasa takut dan heran. Kami mencoba mencocokkan jawaban kami masing-masing. Ada yang menjawab a, b, c, d dan e. Semuanya ada. Kami tidak tahu mana benar dan mana salah. Jalan terakhir yang bisa kami tempuh hanya berdoa.

Apa lagi yang terjadi setelah UN? Ingatan itu hampir saja hilang. Aku tidak ingat apa saja yang kami alami lagi. Pastinya ada ujian sekolah, ujian praktik dan... perpisahan.

Singkat cerita lagi, hari pengumuman tiba. Kami berkumpul di kos salah satu teman kami, Nuna. Sejak awal kami memang janjian untuk berkumpul dan merayakan kelulusan di sini. Pagi hari kami sudah bersiap dengan pilok, spidol dan seragam kebanggaan putih abu-abu yang akan menjadi saksi persahabatan kami.

Hampir tengah hari, tapi kami belum mendengar berita kelulusan. Kami masih menunggu dengan menyemir rambut. Siap-siap konvoi coy!

Tiba-tiba ada seorang teman kami dari kelas lain lewat dan menghampiri kami.

“Hei sekolah kita ada yang tidak lulus 1 anak! Tapi kelas bahasa lulus semua kok. Selamat ya, kalian dapat peringkat 1 se-Jawa Tengah.”

Aku lupa siapa yang memberitahu kami hal itu. Hanya mendengar bahwa kelas kami lulus semua saja sudah senang, apalagi tahu bahwa kami ada di peringkat tertinggi seprovinsi, rasanya benar-benar istimewa. Seolah hari itu adalah hari kemerdekaan bagi kami.

Antara bahagia dan tidak, di satu sisi kami bahagia karena kami lulus semua dan kami juga mendapat nilai tertinggi di Jawa Tengah, tapi di sisi lain kami sedih karena ada teman kami yang tidak bisa lulus. Untungnya ada ujian susulan, jadi dia tidak mengulang paket C.

Mulailah pesta dimulai. Pilok dan spidol siap di tangan. Kami mencoret-coret seragam dengan warna-warni pilok yang kami siapkan. Tak lupa kami saling menandatangani seragam milik kami. Ternyata keseruan seperti ini tidak seperti yang diberitakan di televisi. Ini lebih menyenangkan!

Kami terlalu bahagia. Kami juga mengabadikan setiap momen corat-coret itu di kamera yang aku bawa. Perlu kalian tahu, seragam hasil corat-coret itu masih tersimpan rapi di lemari pakaianku. Setiap kenangan ada di seragam itu. Sampai akhir nanti, kenangan itu akan tetap abadi sampai anak cucu kami yang akan meceritakannya.

Hari kelulusan akan selalu aku ingat. Setelah coret-coret seragam, kami konvoi ke pantai dan makan-makan di sana. Konvoi kali ini hanya beranggotakan anak kelas Bahasa saja. Aku tak tahu kenapa kami tidak ikut rombongan yang lain. Secara tiba-tiba saja kami bergerak sendiri, tanpa dikomando. Kompak bukan?

Di jalan kami bertemu dengan SMA lain. Aku tahu mereka juga merayakan kelulusannya, terlihat dari seragam mereka yang juga hasil kreasi tanda tangan teman-temannya. Tidak peduli dari SMA mana mereka, kami menyapa mereka dengan membunyikan klakson. Mereka membalas kami dengan balik membunyikan klakson. Dalam hati aku berkata, “Selamat atas kelulusan kita kawan!”

Kelulusan adalah saat yang tak akan pernah kulupakan. Selanjutnya adalah perpisahan.

Atasan putih, bawahan hitam, dasi dan sepatu hitam menjadi kostum wajib saat perpisahan. Kalau boleh bilang, aku belum siap untuk berpisah dengan mereka, keluarga baruku di kelas Bahasa. Orang-orang yang mampu membuat kelas Bahasa berada di atas awan. Dengan mereka, rumah yang dulunya kotor sekarang bersih, bagus dan nyaman ditinggali. Kerja keras kami terbayar tak sia-sia. Akhirnya kami punya warisan baik untuk adik-adik kami selanjutnya.

Lagu yang paling aku ingat adalah Kita Selamanya dari Bondan Prakoso. Rasanya ingin menangis sekaligus senyum-senyum sendiri ketika menyanyikan lagu itu. Tidak ada yang bisa kukatakan lagi, aku akan merindukan saat-saat seperti ini. Ya, kami akan saling merindukan.

Tiba saatnya bersalaman dengan guru-guru. Tangis haru menyelimuti momen ini.

“Saya bangga dengan kelas Bahasa. Awalnya kalian diremehkan, tapi kalian berhasil menunjukkan kemampuan kalian dengan mendapat peringkat satu se-Jawa Tengah.”

Kalimat yang tidak akan pernah aku lupakan. Ya, kami selalu diremehkan. Tapi kalian sudah lihat kan kehebatan kami. Bukan sombong, kami hanya bangga. Suatu saat nanti aku akan menceritakan cerita itu pada adik-adikku di kelas Bahasa yang selanjutnya. Aku yakin, kalimat itu bisa menjadi mantra untuk memotivasi generasi kelas Bahasa ke depannya.

Selesai upacara pelepasan, kami memanggil wali kelas kami yang paling berjasa selama kami kelas XII, Bu Elly, untuk foto bareng. Bu Elly terkenal sebagai guru tergalak dan terdisiplin di sekolah. Beruntung kami punya wali kelas beliau. Banyak kenangan bersama beliau yang tidak bisa ditulis di sini. Lain kali aku akan menulisnya di judul yang berbeda. Tunggu ya.

Setelah itu kami pergi ke pantai. Sebagai orang Jepara, kami selalu merayakan sesuatu di pantai. Berhubung tempat tinggal kami juga dekat pantai.

Kami menuju pantai Bondo, salah satu pantai yang menjadi saksi bisu keberadaan kami. Berapa kali kami menghabiskan hari di pantai ini? Hanya pasir pantai putih itu yang tahu. Di setiap butir pasirnya tersimpan berjuta kenangan kami yang ikut larut terbawa ombak lautan. Hingga dunia akan tahu betapa berartinya orang-orang yang ada di sekelilingku saat ini.

Masih aku ingat, kami saling mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan. Mata tak mampu berbohong. Menangis menjadi pilihan yang tepat. Ketika mulut tak sanggup mengucapkan salam perpisahan, mata akan mengucapkannya dengan air mata.

Sudah selesai. Kebersamaan kami secara fisik memang berakhir pada hari itu. Tapi ikatan yang telah kami jalin tidak akan berakhir begitu saja. Ada banyak hal yang akan mengumpulkan kami lagi. Suatu saat nanti, ketika kita bertemu lagi, tentu akan ada banyak cerita baru. Masing-masing dari kami akan menjadi orang baru dengan cerita baru pula. Tapi sifat yang telah kami bawa yang menjadi karakter kelas Bahasa tidak akan pernah berubah, enjoyable.

Tulisan ini saya persembahkan untuk:
·         Teman-teman saya yang menamakan diri sebagai CAROL-B (Cah Rolas Bahasa)
·         Guru-guru kami di SMAN 1 Bangsri, maaf Pak, Bu, anak-anak Bapak dan Ibu sekalian di kelas Bahasa memang nakal hhe...
·         Teman-teman kami seangkatan yang masuk pada tahun 2007 dan lulus pada tahun 2010
·         Dan adik-adik kami kelas Bahasa selanjutnya. Semoga kalian bisa membuat kelas Bahasa menjadi kelas terbaik. Tunjukkan bahwa kita adalah manusia yang patut dipuji.

Terima kasih, salam kangen dari saya untuk kalian ^^


Hidup Bahasa!!

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille