2015/01/12

Kembang Api Rasa-Rasa

Ketika hanya bisa memikirkan seseorang yang entah ia memikirkanmu atau tidak. Ketika jarak menjadi ruang yang memisahkanmu dengan ia yang kau pikirkan. Apa kau yakin saat ini ia juga memikirkanmu? Apa kau sudah tahu bahwa hatinya memang untukmu? Bagaimana jika cintamu itu hanya sepihak? Ya, hanya kau yang jatuh cinta. Hanya kau yang menganggap kebahagiaannya adalah segala-galanya bagimu. Dan ia tidak pernah melihat itu. Ia tak pernah datang kepadamu.

Saat ini ia sedang di sana, di tempat yang kauingat adalah tempat dimana kau dan ia pertama kali bertemu. Di tempat itu kalian bertemu dalam keadaan tidak begitu bersahabat. Ia terlihat seperti bukan orang yang ramah. Ia terlihat cuek.

Tak ada percakapan yang mampu terbuka saat itu. Kalian saling diam tanpa ada yang mau mencairkan suasana. Kalian sempat berpandangan mata, tapi tak lama. Kemudian ia memalingkan padangannya darimu. Ia lari darimu. Ia mulai berjalan menjauhimu. Dan kau hanya bisa melepasnya dengan rasa yang masih tertinggal. Kau hanya melihat punggungnya yang mulai menjauh.

Kau melihatnya, terus menatap kepergiannya. Tatapan matamu berhenti ketika ia duduk di tempat yang tidak jauh darimu. Ia duduk dengan wajah tertunduk. Ia sibuk dengan ponsel tergenggam di tangannya. Entah apa yang membuatnya begitu lekat menatap layar ponselnya. Tak lain denganmu yang tak bisa lepas memandang kehadirannya.

Bayangkan, ia adalah orang yang baru pertama kau temui dan kau langsung tertarik dengannya. Kau tak pernah bisa menghapus bayangnya dari pikiranmu. Ingatan tentang hari itu masih ada hingga kini. Bahkan ketika kau ingin menghapusnya, ingatan itu semakin kuat menempel pada dinding otakmu. Kau tak bisa berbuat apa-apa selain terus memikirkannya.

Terkadang kau melihatnya dari kejauhan. Ia bersama teman-temannya. Saat itu juga kau ingin mendekatinya, berkenalan dengannya, meminta nomor hp-nya, menemaninya makan, mengantarkannya pulang, dan yang lain. Kau membayangkan hal-hal indah yang bisa kalian lakukan berdua. Hanya berdua.

Tapi kau tidak bisa melakukannya. Kau hanya terdiam di tempatmu sambil memandanginya. Kau merasakan ia melihatmu. Ya, ia melihatmu. Ia melihat ke arahmu, tepat kepadamu dengan kedua bola matanya. Bola mata bundar yang indah.

Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau bisa melawan tatapannya dengan tatapan matamu, bodoh! Kau malah mengalihkan pandangan. Kau beralih ke layar ponselmu yang sebenarnya tidak berada di tanganmu. Kau memandang ke lain arah. Yang terpenting saat ini adalah kau harus menghindari tatapan matanya. Dan akhirnya kau melihat birunya langit. Lalu kau teguk minumanmu yang hampir habis itu.

Tanpa kau sadari sekarang ia berada tepat di depanmu. Kalian ada di tempat yang sama. Kalian hanya berbeda meja. Kau bisa melihatnya dengan jelas, sama seperti saat pertama kalian bertemu. Kau bisa melihat wajahnya yang mendekati sempurna. Mendekati, itu belum sempurna selama kau belum memilikinya. Kau yang akan membuatnya menjadi sempurna. Begitu pikirmu.

Saat ini batinmu sedang tidak baik. Hatimu bergejolak tak menentu. Jantungmu berdetak lebih kencang daripada biasanya. Matamu berair karena terlalu lama membuka mata untuk memandangnya. Tubuhmu bergetar tak mampu menahan gejolak rasa dalam jiwamu. Apa yang akan kau lakukan saat ini?

Saat ini di dalam tubuhmu ada jutaan kembang api. Mereka melesat dan meledak di langit-langit hatimu. Mereka membuat warna-warni yang begitu indah. Mereka membuat perasaanmu bergelora, tak tertahankan. Seperti kembang api di malam tahun baru, melesat dan meledak, jauh ke atas singgasana dewa. Seperti perasaan yang ingin segera terucapkan, tapi semua tertahan begitu saja.

Lihat, ia dekat denganmu! Sekarang kalian bisa dengan mudah berhadapan. Kalian bisa dengan mudah untuk berbincang-bincang. Munculkan suasana hangat agar ia tak lagi kabur darimu. Bukankah kau ingin melihat senyumnya? Bukankah itu yang kau tunggu? Kenapa tak kau lakukan sekarang juga? Ada apa dengan dirimu?

Kau, kau memang pecundang. Kau pengecut! Kau selalu kabur dari orang yang kau inginkan. Kau tak akan bisa memilikinya. Kau tak akan bisa melihat senyumnya. Kau tak akan bisa merasakan kebahagiaan bersamanya. Kau tidak akan hidup bersamanya. Kau hanyalah angin yang bisa ia rasakan kehadirannya, tapi ia tak bisa melihatnya. Kau hanyalah kertas usang yang ingin tersapu angin, menjauh darinya. Kau bukanlah bayangnya yang mengikutinya. Kau bukanlah apa-apa untuknya.

Apa kau berusaha untuk melupakannya? Oh, lupakanlah jika kau mampu. Dan, ucapkan selamat tinggal untuk ia yang sempat ada di hatimu. 

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille