2016/12/01

Tentang Rasa yang Berujung

Menyayangimu adalah hal terindah bagi duniaku. Tapi kadang semua rasa itu tak jauh dari sakit yang menderu. Didera cemburu, aku bermalam pilu. Yang kau bisik percayakan semua padamu, bagaimana bisa aku lakukan itu? Aku percaya padamu. Perasaanku tak ingin aku berakhir dengan air mata. Karena menjaga komitmen dan perasaan itu masih aku butuhkan.

Tidak melepas kemungkinan bahwa orang yang dicintai esok akan menjadi orang yang dibenci. Entah karena dia melukai. Yang pasti karena keterlibatan dalam sebuah hubungan, anyaman rasa bak lingkaran tak berujung yang tiba-tiba dipatahkan dengan kekecewaan. Patah hati memang hebat. Merubah segalanya menjadi bertolakbelakang. Siapa di dunia ini yang menginginkan itu?

Sudah beberapa malam terakhir ini aku menemukan sesuatu yang hilang. Hilangnya malamku sebelumnya. Hilangnya kerlip bintang di tengah kelam. Hilangnya redup rembulan berhias senyuman. Hilangnya sebuah kepercayaan yang dibangun dari sebuah komitmen. Kau tahu arti komitmen? Kau tahu artinya kalau sudah berjanji? Bagiku janji adalah harga diri. Jika kau tak mampu menjaganya, lepaskan. Ungkap seorang pendendam dalam satu malam bermandikan hujan.

Ini bukan tentang patah hati. Ini hanya celoteh sederhana dari seorang pecinta yang telah buta. Benar-benar buta dengan apa yang dimilikinya. Terlalu berpegang pada idealisme dan prinsip hidup menjadikannya mati perlahan. Seolah mencintai dan dicintai hanyalah milik berdua. Padahal, ia hanya tenggelam dalam pertanyaan apakah sedang mempertahankan hubungan atau menunda perpisahan. Karena di dunia ini manusia tak bisa memilih pilihan absolut. Suatu saat pasti akan ada monster mengerikan bernama perpisahan.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2010 PRIMAJINASI | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille